Kemarau panjang mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Di Desa Kuin Permai, Kecamatan Teluk Sampit, tanaman padi petani mulai rusak akibat minimnya pasokan air.
Salah seorang petani, Syahrunal, mengaku khawatir dengan ancaman gagal panen setelah hampir separuh lahan yang digarapnya terdampak kekeringan.
Dari total sekitar dua hektare sawah yang ditanaminya, kurang lebih satu hektare atau 50 persen mengalami kerusakan. Kondisi paling terlihat dari bulir padi yang banyak hampa atau tidak berisi karena tanaman tidak mendapatkan cukup air saat memasuki fase penting pertumbuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Isi padi banyak yang hampa atau kosong akibat kekurangan air. Dari lahan sekitar dua hektare, hampir satu hektare terancam gagal panen," kata Syahrunal, Minggu (9/8/2026).
Dampak kekeringan juga langsung terasa pada hasil produksi. Dalam kondisi normal, satu hektare sawah miliknya mampu menghasilkan sekitar tiga hingga empat ton gabah. Namun musim ini, produksinya diperkirakan anjlok menjadi hanya sekitar 1,2 ton per hektare.
"Biasanya satu hektare bisa menghasilkan tiga sampai empat ton. Sekarang hanya dapat sekitar 1,2 ton," ujarnya.
Menurut Syahrunal, kemarau tahun ini terasa jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hujan masih sesekali turun meski dengan intensitas rendah, kali ini hujan nyaris tidak datang selama hampir satu bulan.
"Musim kemarau kali ini lumayan parah. Biasanya masih ada hujan walaupun tidak sering. Kalau sekarang belum ada hujan sama sekali," ungkapnya.
Kekeringan membuat kondisi lahan semakin memprihatinkan. Tanah sawah mulai retak, sementara pertumbuhan tanaman padi terganggu. Petani pun harus memanfaatkan cadangan air yang masih tersedia dari saluran irigasi sekunder yang bersumber dari sungai.
Namun, upaya mempertahankan tanaman tidak mudah. Syahrunal bahkan terpaksa mengurangi biaya perawatan karena tidak ingin kerugian semakin besar.
"Saya tidak berani mengambil risiko. Saat ini saya mengurangi biaya produksi karena tanaman jarang dirawat. Kalau dipaksakan, biaya perawatan justru bertambah, sedangkan hasil panen sudah bisa dipastikan menurun. Yang ada malah tambah rugi," katanya.
Persoalan semakin berat karena biaya operasional yang telah dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperkirakan diperoleh. Padahal, harga gabah saat ini masih berada di kisaran Rp6.300 per kilogram.
"Kalau dihitung, tetap rugi. Biasanya bisa dapat tiga sampai empat ton per hektare, sekarang hanya sekitar satu ton lebih. Penjualan gabah belum bisa menutupi biaya produksi," tuturnya.
Di tengah ancaman kerugian tersebut, Syahrunal berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan bagi petani, terutama bantuan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan air.
Menurutnya, persoalan air menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi agar tanaman padi yang masih bertahan tidak ikut mengalami kerusakan.
"Kalau kemarau, yang paling dikhawatirkan jelas air. Memang ada bantuan dari pemerintah, tetapi masih dalam proses dan belum keluar," pungkasnya.
