Berita kemunculan orang utan di kawasan permukiman warga Kalimantan cukup sering terdengar. Belum lama ini, seekor orang utan masuk dalam permukiman warga Kayong Utara, Kalimantan Barat dengan kaki terluka.
Satwa yang dikenal sebagai penghuni hutan tropis ini memang tak jarang terlihat memasuki kebun, melintas di dekat rumah penduduk, bahkan mencari makan di area yang sudah berdekatan dengan aktivitas manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Orang Utan Kerap Berkeliaran ke Permukiman?
Tangkapan layar orang utan turun ke jalanan Kutai Timur dan diberi makan pengendara. Foto: dok Istimewa |
Alasan paling kuat orang utan di Kalimantan kerap terlihat berkeliaran ke permukiman warga ialah habitat alaminya semakin terdesak dan sumber makanan di hutan berkurang. Orang utan terpaksa menjelajah lebih jauh untuk mencari makanan dan tempat berlindung.
Dalam arsip liputan BeritaKlik beberapa tahun lalu, Pendiri Centre for Orangutan Protection (COP) Hardi Baktiantoro mengungkap bahwa penyusutan habitat hutan jadi alasan terbesar. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, pertambangan, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas lainnya dapat mengurangi luas hutan. Akibatnya, ruang hidup orang utan menjadi semakin sempit dan mereka lebih sering bertemu dengan manusia.
Land clearing atau pembersihan lahan hutan hujan berdampak ke orangutan. Bila hutan hilang, satwa liar juga hilang.
"Akhirnya apa, seperti orangutan, mereka kelaparan karena pohonnya, sumber makanan mereka habis, kemudian berkeliaran di kebun kelapa sawit karena sudah tidak ada hutan lagi. Maka mereka makan tunas kelapa sawit yang kecil-kecil itu," kata Hardi.
Orang utan kemudian mulai mencari sumber makanan hingga ke kebun dan pekarangan warga menjadi alternatif yang mudah dijangkau. Meski hutan masih ada, terkadang kawasan tersebut terpecah-pecah oleh jalan, perkebunan, atau permukiman. Sehingga orang utan harus melintasi wilayah yang dihuni manusia saat berpindah dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya.
Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), San Afri Awang juga pernah mengatakan konversi hutan bisa jadi salah satu penyebab konflik orangutan dan manusia.
"Bisa jadi. Biasanya orangutan yang tertangkap sudah keluar dari habitat dia, jadi dia masuk ke kebun. Dulu itu habitat dia. Itu satu," ucapnya.
"Bisa jadi habitat dia sudah tertekan, nggak dapat makanan lagi di situ, dia keluar. Nah ketika sudah mau keluar, dia tersesat. Mau balik nggak bisa. Itu problem-problemnya," imbuhnya.
Ditambahkan jika tidak tersedianya areal relokasi khusus di areal konsesi eksploitasi sumber daya alam dan perkebunan, mengusik kehidupan hewan primata dilindungi itu. Maka, upaya pelestarian hutan dan perlindungan koridor satwa menjadi salah satu kunci untuk mengurangi konflik antara manusia dan orang utan sekaligus menjaga kelestarian populasi satwa langka ini.
Apakah Kemunculan Orang Utan Membahayakan Warga?
Tangkapan layar video viral karyawan sawit mengangkat orang utan dan memaksa mandi di parit Foto: Istimewa |
Peneliti LIPI Hari Sutrisno pernah mengatakan pada BeritaKlik, bahwa orang utan tak punya naluri untuk menyerang manusia. Orang utan tak akan menyerang manusia terlebih dahulu apabila tidak diserang. Tetapi, jika diusik dan mereka anggap sebagai serangan, orangutan juga akan membela diri.
Orang utan biasa hidup dalam kelompok kecil, termasuk ketika mencari makan. Tetapi kondisi membuat kelompok orang utan terpecah-pecah. Tak jarang dari mereka yang terpisah dan mencari makan sendiri. Sebuah naluri makhluk hidup untuk mencari makan di tempat lain ketika habitatnya dirusak.
Dalam kasus di Kalimantan Barat, orang utan yang sedang terluka berani terlihat masuk ke permukiman manusia. Hal ini bisa jadi karena kondisi fisik dan lingkungannya membuat mereka tidak punya banyak pilihan.
Orang utan yang terluka mungkin kesulitan memanjat pohon tinggi atau menjelajah jauh di dalam hutan. Permukiman warga atau bahkan tepi jalan raya, menjadi sumber makanan yang lebih mudah dijangkau.
Belum lagi luka akibat jerat, konflik dengan satwa lain, atau gangguan manusia dapat menyebabkan stres dan perubahan perilaku. Dalam kondisi demikian, orang utan bisa mengambil rute yang tidak biasa dan berakhir di dekat perkampungan.
Meski begitu, ada larangan memberi makan orang utan di alam liar. Hal ini pernah diungkap oleh Founder dan Direktur dari Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto.
"Kebiasaan ini lama-lama akan membentuk perilaku baru. Perubahan perilaku itu nanti akan berdampak kepada keselamatan dia, juga keselamatan orang-orang yang di jalan," ucapnya.
"Risiko penularan penyakit menjadi salah satu pertimbangan penting. Itu sebabnya orang utan harus tetap diperlakukan sebagai satwa liar," imbuh Paulinus.
Sehingga jika kondisi tersebut terjadi, cara terbaik yang dapat dilakukan masyarakat adalah tidak mendekati, memberi makan, atau mencoba menangkapnya sendiri. Sebaiknya segera melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada petugas konservasi atau organisasi penyelamat satwa agar bisa mendapatkan penanganan yang aman bagi orang utan maupun masyarakat.
Nasib Orang Utan Kalimantan Kini
Orang Utan Mauliyan bersama anaknya Ariandi Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim) |
Dikutip dari buku Orangutan Si Pintar yang Terancam Punah karya Endah HS dan Sugeng S, disebut orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki badan besar, berbulu coklat kemerahan atau gelap, rambutnya jarang dan pendek. Orang utan adalah kera besar satu-satunya di Asia dan hanya bisa ditemukan di hutan tropis Indonesia & Malaysia.
Binatang ini secara internasional pun diberi nama 'orangutan'. Dalam bahasa Indonesia dan Melayu, artinya orang yang hidup di hutan. Orang Dayak biasa menyebutnya 'tahui'.
Habitat atau tempat tinggal orang utan kalimantan adalah di hutan hujan tropis yang ada di Pulau Kalimantan, baik di dataran rendah maupun pegunungan berketinggian 1.500 mdpl. Disebut dalam laman Taman Nasional Sebangau Palangkaraya, mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarang dari dedaunan.
The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist telah memasukkan orang utan kalimantan ke dalam satwa berstatus terancam punah sejak 1994. Satwa ini juga tidak boleh diperdagangkan.
Pemerintah Indonesia memasukkan spesies ini sebagai satwa yang dilindungi. Penyebab kepunahan ini antara lain karena kerusakan hutan, kebakaran, pembalakan hutan, hingga perburuan.
Dikutip dari WWF Indonesia berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2017, populasi orang utan kalimantan tersisa sekitar 45 ribu ekor, orang utan sumatera tersisa sekitar 13 ribu ekor, dan orang utan tapanuli ada sekitar 760 ekor.
Selain dikembangkan di kebun binatang, terdapat sejumlah tempat konservasi orang utan, seperti di Kalimantan Tengah. Orang utan dikembangbiakkan dan kemudian dikembalikan ke habitat aslinya.
Kini nasib primata penghuni asli tanah Borneo ini kerap mengundang rasa khawatir, sebab kemunculan orang utan di Kalimantan tak hanya kali ini terjadi. Sebelumnya ada orang utan ditemukan warga tengah mencari makan di tumpukan sampah, bahkan ada pula yang turun ke tepi jalan untuk mengemis makanan di Kaltim.


