Colomadu yang merupakan daerah rumah pensiun Joko Widodo kabarnya tengah jadi tujuan warga Solo ketika mencari hunian. Permintaan tertinggi berada pada segmen harga rumah Rp 1 miliar ke atas.
"Pada dasarnya masih digerakkan oleh pasar lokal Solo Raya, di mana lebih dari 40 persen pencari properti berasal dari Surakarta. Minat dari luar daerah juga mulai terlihat, dipimpin oleh pencari asal Surabaya sekitar 9 persen dan Jakarta 6 persen," kata Marisa Jaya selaku Head of Research Rumah123 kepada BeritaKlik pada Sabtu (6/6/2026).
Banyaknya minat pembeli rumah di Colomadu ini karena jumlah lahan di Kota Solo semakin terbatas. Ditambah lagi infrastruktur yang semakin lengkap di Colomadu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keterbatasan lahan di pusat Kota Solo akan terus mendorong limpahan permintaan (spill-over demand) ke wilayah penyangga seperti Colomadu," kata Marisa Jaya selaku Head of Research Rumah123 kepada BeritaKlik pada Sabtu (6/6/2026).
Berdasarkan data dari Rumah123, nilai rumah di Colomadu sudah tembus miliaran. Rumah seharga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliaran, jumlahnya sekitar 42 persen dari total pasokan rumah di Colomadu. Sementara rumah Rp 1-2 miliaran 31 persen dari total pasokannya. Sisanya 27 persen adalah rumah di bawah Rp 500 juta atau di atas Rp 2 miliar.
"Jika diakumulasikan, hampir 75 persen penawaran hunian di kawasan ini berada di rentang Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar. Menariknya, hunian dengan harga di atas Rp 1 miliar berkontribusi sebesar 48 persen dari total suplai di Colomadu. Porsi ini tergolong sangat signifikan untuk ukuran wilayah tingkat kabupaten. Bahkan, untuk segmen premium di atas Rp 5 miliar, sudah tercatat ada 57 listing," ungkap Marisa.
Pertumbuhan nilai properti yang pesat ini menjadikan Colomadu sebagai penyumbang pasokan rumah terbesar di Kabupaten Karanganyar yaitu sekitar 56 persen.
Dilihat dari demografi usia pembeli rumah di Colomadu, terbanyak dari kalangan Gen Z dan milenial yang usianya berkisar 25-34 tahun. Jumlah pembeli di rentang usia ini sekitar 38 persen.
"Kelompok terbesar yang merupakan first-time home buyers (pembeli rumah pertama). Kelompok inilah yang menggerakkan tingginya enquiry (permintaan) pada hunian di bawah Rp 1 miliar," beber Marisa.
Kalangan Gen Z berusia 18-24 tahun juga turut menjadi kelompok usia pembeli rumah terbesar ketiga, yakni sekitar 30 persen.
Lalu, kelompok usia mapan, sekitar 45-54 tahun juga banyak yang memiliki rumah di sini, tetapi bukan rumah pertama. Mereka membeli sebagai investor yang mengincar produk properti premium di atas Rp 1 miliar.
Alasan rumah di Colomadu yang tembus miliaran ini juga dipengaruhi oleh nilai tanahnya yang kini median harganya menyentuh Rp 3,83 juta per meter persegi. Nilai ini meningkat jika dibandingkan data Oktober 2025 yang mediannya sekitar Rp 3,58 juta per meter persegi.
"Angka ini menempatkan Colomadu sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar," ujar Marisa.
Daya Tarik Colomadu
1. Bandara Adi Soemarmo
Akses ke Bandara Adi Soemarmo dari Colomadu kini makin mudah. Berkat ada bandara ini area komersialnya juga berkembang pesat dan jadi motor penggerak utama bagi aktivitas logistik, industri perhotelan, dan mobilitas bisnis.
2. Tol Trans-Jawa Ruas Solo-Ngawi
Jalan ini membuka gerbang distribusi yang terhubung dengan sisi barat Karanganyar.
3. Tol Solo-Yogyakarta
Tol yang sedang dalam tahap pembangunan ini nantinya akan tembus ke Colomadu dan memberikan akses ke arah Yogyakarta sehingga jarak tempuhnya makin cepat dan mudah.
"Colomadu pun sukses bertransformasi menjadi hub atau titik simpul strategis antara Solo, Yogyakarta, dan Semarang (Joglosemar)," jelasnya.
(aqi/abr)










































