Serangan 15 Menit OPM di Intan Jaya Bikin Ibu Hamil Tewas Tertembak

Papua Tengah

Serangan 15 Menit OPM di Intan Jaya Bikin Ibu Hamil Tewas Tertembak

Tim BeritaKlik - detikSulsel
Minggu, 05 Jul 2026 05:45 WIB
Seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, dilaporkan tewas tertembak.
Foto: Kematian ibu hamil di Intan Jaya memicu gelombang protes dari masyarakat. (dok istimewa)
Intan Jaya -

Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Peles Tigau melancarkan serangan di wilayah permukiman Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Serangan OPM yang berlangsung selama 15 menit dari tiga titik yang berbeda itu mengakibatkan ibu hamil bernama Melkiana Duwitau tewas tertembak.

Penembakan maut tersebut terjadi di sekitar TK J2, Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Kamis (2/7/2026) malam. Koops TNI Habema mengklaim korban meninggal dunia akibat terkena peluru nyasar dari tembakan pelaku.

"Gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," ungkap Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Sabtu (4/7).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pelaku pertama kali melepaskan tembakan dari arah Kampung Wandoga sekitar pukul 18.45 WIT. Lima menit kemudian terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.

"Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai. Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Wirya, prajurit TNI tidak melepaskan tembakan karena berisiko. Kawasan permukiman yang menjadi lokasi penyerangan OPM membuat keselamatan warga sipil terancam.

"Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi, guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil," papar Wirya.

Mirisnya, rentetan tembakan OPM tersebut ternyata menimbulkan korban jiwa. Peluru dari tembakan pelaku mengenai seorang ibu hamil hingga meninggal dunia.

"Gangguan tembakan kelompok bersenjata di Sugapa yang menyebabkan warga sipil terkena peluru nyasar. Fakta lapangan menunjukkan tembakan berasal dari tiga titik yang berbeda," jelasnya.

Hasil analisis spasial TNI menunjukkan ketiga sumber tembakan berjarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel TNI.

"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," tegas Wirya.

Wirya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban. Menurut dia, peristiwa ini menunjukkan aktivitas OPM di permukiman berpotensi menimbulkan risiko bagi masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

"Koops TNI Habema mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, serta memberikan ruang bagi proses penyelidikan yang dilakukan secara objektif berdasarkan fakta lapangan dan bukti teknis," imbuhnya.

Operasi Militer di Intan Jaya Disorot

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini menyesalkan adanya warga sipil yang menjadi korban saat OPM melancarkan serangan. Aner mengaku korban sempat dilarikan ke puskemas, namun nyawanya dan bayi yang dikandungnya tidak tertolong.

"Dalam waktu yang dekat mau melahirkan, tetapi sudah jadi korban. Sehingga ini adalah salah satu yang sangat berduka, yang mendalam karena mama bersama dengan anak," kata Aner kepada wartawan, Jumat (3/7).

Dia lantas menyinggung terkait operasi militer dalam penumpasan OPM alias kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayahnya. Menurut Aner, ketegangan antara prajurit TNI dan OPM di wilayahnya sudah berlangsung hampir sebulan.

"Dalam penanganan operasi militer di daerah-daerah yang urusannya TNI dengan KKB, tetapi dampaknya masyarakat kami yang tidak bersalah jadi korban," bebernya.

"Sangat prihatin melihat kondisi yang kami mengalami hampir satu bulan. Beberapa masyarakat yang korban, bahkan TNI juga yang korban," tambah Aner.

Kematian ibu hamil tersebut sempat memicu gelombang protes dari masyarakat. Jenazah korban sempat dijemput keluarga dan warga dari puskesmas kemudian diarak keliling di wilayah Sugapa.

"Saya tidak akan sampaikan siapa oknum atau pelaku, tetapi ada kejadian Ibu Melkiana Duwitau dengan anak dalam kandungan 32 minggu meninggal," pungkas Aner.

6 Peluru Bersarang di Rumah Korban

Komnas HAM Perwakilan Papua turun tangan menyelidiki kasus kematian ibu hamil tersebut. Tim investigasi telah dibentuk untuk mendalami pelaku penembakan tersebut.

"Saya memimpin tim investigasi, tim Komnas HAM melakukan pemantauan ke Intan Jaya, terhadap beberapa kasus yang menonjol terjadi," ujar Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua Frits S Ramandey kepada wartawan, Sabtu (4/7).

Dari hasil investigasi sementara, pihaknya menemukan sejumlah peluru bersarang di rumah korban. Salah satu peluru tembus di tubuh korban yang membuatnya meninggal dunia.

"Saya juga melakukan rekonstruksi di sekitar rumah tentang peristiwa penembakan. Saya melihat kurang lebih ada enam peluru yang bersarang di sekitar rumah itu," terangnya.

Berdasarkan kesaksian warga setempat, suara tembakan terdengar kecil saat kejadian. Dia menduga pelaku penembakan menggunakan senjata api jenis pistol.

"Salah satu peluru yang kuat dugaan itu terkena langsung pada ibu Melkiana. Kalau tadi sepintas saya lihat luka di bahu kanan," pungkas Frits.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: Kasus Penyekapan Jakpus-Nadiem Divonis 10 Tahun Bui"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads