Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung berencana mengembalikan kejayaan Pasar Hewan Beringkit di Mengwi sebagai pusat penjualan ayam aduan atau ayam jago. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi revitalisasi untuk mendongkrak tingkat kunjungan dan aktivitas ekonomi di pasar tersebut.
"Dulu kalau tidak salah, di Beringkit banyak jual ayam aduan. Termasuk ke depan kami akan berkoordinasi dengan komunitas penjual unggas, agar bisa memanfaatkan Pasar Beringkit," ujar Direktur Utama Perumda MGS Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha, Jumat (19/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak manajemen saat ini tengah menggodok regulasi komprehensif untuk menata ulang kawasan pasar tersebut. Penataan dilakukan agar Pasar Beringkit bertransformasi menjadi tempat transaksi yang bersih, aman, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
"Kami ingin pasar ini ramai kembali. Dulu pasar ini tidak hanya menjadi tempat jual beli sapi, namun juga dikenal sebagai pasar hewan," kata Pasek Wedha.
Selain mengembalikan daya tarik unggas, pengelola juga menyiapkan strategi jangka pendek dengan memanfaatkan area pasar pada malam hari. Kawasan tersebut akan diaktifkan sebagai pasar sayur atau pusat pedagang bermobil agar perputaran ekonomi terus berjalan.
"Jadi tahap awal yang kami lakukan adalah memanfaatkan pasar sebagai pasar sayur atau pedagang bermobil pada malam hari. Nah ke depan, kami masih pikirkan agar pasar ini ramai," tuturnya.
Perumda MGS juga berencana menambah hari operasional khusus untuk pasar unggas agar tidak berbenturan dengan jadwal pasar sapi yang sudah ada. Skema ini diharapkan mampu membuat pasar tetap hidup dan beroperasi hampir setiap hari.
"Misalnya kalau pasar sapi Rabu dan Minggu, pasar unggas Kamis dan Senin misalnya. Latar belakang penambahan hari ini dilakukan agar pasar tidak hanya buka pada Rabu dan Minggu," jelas Pasek Wedha.
Fokus utama lain dalam revitalisasi ini adalah membangun ekosistem pengolahan sampah mandiri, terutama untuk mengatasi limbah kotoran hewan. Pengelola berkomitmen menghilangkan kesan kotor dan bau menyengat, sekaligus mengubah limbah tersebut menjadi produk yang memiliki nilai jual.
"Kondisi pasar yang bersih akan mendorong peningkatan aktivitas jual beli. Setelah aman, jadi pasti sama-sama memiliki dan menjaga sesama pedagang maupun penjual dan kita pada Perumda pasar," imbuhnya.
Pasek Wedha menambahkan bahwa seluruh transaksi perdagangan hewan diharapkan nantinya bisa terpusat di Kabupaten Badung melalui pasar yang representatif. Namun, ia mengakui kesuksesan rencana ini memerlukan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak terkait.
"Secara konsep terbilang gampang, tapi penerapan mungkin susah. Yang jelas saya tidak bisa bekerja sendiri, tapi juga perlu dukungan semua pihak, termasuk media agar semua berjalan lancar, karena bagaimanapun fokus bisnis awal kita memang pasar," pungkasnya.
(nor/nor)












































