Sehari menjelang Hari Raya Galungan, warga di Klungkung masih berburu bahan penjor dan perlengkapan upacara. Sejumlah pedagang di kawasan Pasar Galiran pun masih kebanjiran pembeli yang membeli sarana upacara pada menit-menit terakhir.
Pantauan di lokasi, Pasar Galiran menjadi salah satu pusat keramaian jelang Galungan. Warga tampak berdatangan silih berganti ke lapak pedagang untuk membeli bambu, janur, hingga hiasan penjor jadi agar bisa segera dipasang di depan rumah pada hari ini.
"Galungan kali ini lebih ramai pembeli. Banyak yang baru sempat beli karena sibuk kerja, jadi puncaknya memang di H-1 ini. Saya berjualan nanti sampai jam 2 dini hari. Ada saja yang pulang dari Denpasar beli," ujar Putu Sumartini, salah satu pedagang bahan penjor di area Pasar Galiran, Selasa (16/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Putu, dibandingkan Galungan enam bulan lalu, warga lebih ramai berbelanja pada menit-menit akhir. Dalam tiga hari terakhir, omzet penjualannya dari empat lapak yang dibuka mencapai Rp 30 jutaan. Bahkan, dalam sehari ia pernah mencatat penjualan hingga Rp 14 juta.
Selain jumlah pembeli yang meningkat, Putu menilai pelanggan juga tidak terlalu banyak menawar harga. Pedagang yang sudah 27 tahun berjualan di kawasan tersebut itu menduga kondisi perekonomian warga sedikit lebih baik dibandingkan saat Galungan sebelumnya.
"Kalau dulu agak cerewer nawar. Sekarang ndak terlalu. Diterima saja dalam kondisi kenaikan harga," jelasnya.
Putu mengakui harga sejumlah bahan penjor mengalami kenaikan karena harga dari pengrajin juga naik. Salah satunya kolong-kolong Kobra yang sebelumnya Rp 50 ribu kini menjadi Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu di tingkat pengrajin. Ia kemudian menjualnya seharga Rp 80 ribu hingga Rp 85 ribu.
Kenaikan harga juga terjadi pada bahan hiasan lain seperti jebug, kolong bintang, jempong, dan muncuk janur. Menurut Putu, kenaikan turut dipengaruhi naiknya harga plastik yang digunakan untuk membungkus bahan penjor.
"Jadi pintar-pintar kita saja naikin harganya berapa dari yang kita beli di pengrajin," paparnya.
Berbeda dengan Putu Sumartini, pedagang bahan penjor lainnya, Ketut Sutiya, justru mengaku penjualannya lebih sepi dibandingkan Galungan sebelumnya.
Menurut Ketut, biasanya warga membeli bahan penjor berukuran besar. Namun, pada Galungan kali ini pembeli lebih banyak memilih ukuran kecil dan membelinya secara satuan.
"Kalau dulu beli yang kecil biasanya beli lengkap. Sekarang beli kecil satu-satu saja. Baru dikasi tahu harganya sudah pergi," ujar Ketut.
Ia menilai daya beli masyarakat menurun pada Galungan tahun ini. Menurutnya, kenaikan berbagai kebutuhan membuat warga lebih selektif menentukan prioritas belanja menjelang hari raya.
"Tapi ndak tahu pedagang yang lain. Kalau saya menurun tahun ini. Sekitar 50 persen di banding tahun lalu. Kalau dulu H-1 begini 90 persen barang saya sudah habis. Sekarang baru 60 persen," jelasnya.
Pedagang di Klungkung sendiri rata-rata tidak menjual penjor utuh yang sudah dihias. Mereka lebih banyak menyediakan bahan mentah dan aneka pernak-pernik dekorasi secara eceran bagi warga yang ingin merakit penjornya sendiri di rumah.
(dpw/dpw)












































