detikBali

Mengenal Simbol Perayaan Galungan dan Kuningan serta Maknanya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mengenal Simbol Perayaan Galungan dan Kuningan serta Maknanya


Devie Vyatri Permata Cahyadi - detikBali

Ilustrasi Hari Raya Galungan
Foto: Ilustrasi Hari Raya Galungan. (Freepik/freepik)
Denpasar -

Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan peringatan suci umat Hindu untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), sekaligus ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur yang turun ke bumi.

Terdapat berbagai simbol dalam perayaan Galungan dan Kuningan yang memiliki makna filosofis dan spiritual mendalam. Simbol-simbol tersebut tidak hanya menyemarakkan suasana, tetapi juga mengandung nilai keagamaan yang mengajarkan keseimbangan serta keharmonisan dalam kehidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut adalah simbol-simbol yang identik dengan perayaan Galungan dan Kuningan beserta maknanya.

Penjor

Penjor adalah tiang bambu melengkung yang dihiasi janur dan ornamen dedaunan yang lazim ditempatkan di depan rumah atau sepanjang jalan raya.

Penjor dalam tradisi Bali merupakan ungkapan rasa syukur atas anugerah kemakmuran dan kesejahteraan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bentuk penjor yang menjulang dan melengkung ke atas melambangkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta.

Banten atau Sesajen

Banten atau sesajen adalah sarana penting dalam rangkaian upacara adat dan kebutuhan persembahyangan umat Hindu. Berbagai jenis banten disiapkan sebagai persembahan suci selama Galungan dan Kuningan.

Banten melambangkan ketulusan hati, rasa syukur, serta wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ini sekaligus menjadi pengingat agar setiap keberhasilan dan anugerah selalu disyukuri.

Tamiang

Tamiang merupakan anyaman berbentuk lingkaran yang biasanya dipasang menjelang Hari Raya Kuningan. Simbol ini melambangkan perlindungan, keselamatan, serta keseimbangan. Tamiang, bagi umat Hindu, mengandung pesan untuk senantiasa menjaga diri dari pengaruh buruk dan tetap teguh memegang nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Endongan

Endongan adalah pelengkap khas perayaan Kuningan yang terbuat dari anyaman janur berbentuk menyerupai tas atau kantong. Endongan, dalam tradisi Hindu Bali, melambangkan bekal yang diberikan kepada para leluhur sebelum kembali ke alam spiritual. Simbol ini menyimpan pesan setiap manusia perlu menanamkan perbuatan baik dan ketulusan sebagai bekal yang menuntun perjalanan hidupnya.

Dupa

Dupa merupakan perlengkapan yang hadir dalam setiap persembahyangan. Aroma harum serta asapnya yang membubung perlahan melambangkan kesucian doa kepada Tuhan. Dupa menjadi simbol harapan agar setiap permohonan dapat tersampaikan dengan tulus dan penuh keikhlasan.

Nasi Kuning

Nasi kuning merupakan persembahan yang identik dengan Hari Raya Kuningan. Persembahan ini menjadi simbol harapan agar umat Hindu senantiasa mendapat tuntunan dalam menjalani kehidupan sehingga setiap perjalanan dapat dilalui dengan kebijaksanaan, kedamaian, dan keberkahan.

Gebogan atau Pajegan

Gebogan atau pajegan adalah persembahan yang disusun dari berbagai jenis buah-buahan dan hasil bumi. Sebelum rangkaian upacara dimulai, umat Hindu biasanya menjunjung persembahan ini di atas kepala. Gebogan yang menjulang tinggi serta dihiasi janur dan bunga melambangkan rasa syukur atas rezeki, kemakmuran, dan hasil kehidupan yang dianugerahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.




(iws/iws)











Hide Ads