Anak Agung Gede Anom Suwastika berupaya melestarikan tradisi Bali dengan menekuni pembuatan tedung (payung tradisional) upacara. Usaha tersebut beralamat di kawasan Puri Satria Kanginan, Paksebali, Klungkung, Bali.
Suwastika mampu membuat 20 tedung ukuran satu meter per hari. Produksi bisa meningkat hingga 50 payung per hari menjelang Hari Raya Galungan. "Mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus," tutur pria berusia 56 tahun itu melalui keterangan tertulis Jumat (19/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suwastika membuat tedung berbagai ukuran mulai dari 90 sentimeter, satu meter, hingga 1,25 meter. Payung tradisional itu dijual dengan harga mulai Rp 65 ribu untuk ukuran 90 sentimeter, Rp 85 ribu untuk satu meter, hingga Rp125 ribu untuk ukuran 1,25 meter.
Selain model standar, eks pegawai hotel itu memproduksi tedung agung dengan ornamen lebih rumit. Produksi tedung agung juga membutuhkan waktu lebih lama dan tidak semua perajin mampu membuatnya.
Suwastika menjual tedung itu ke sejumlah pasar tradisional di Denpasar seperti Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, dan Pasar Kumbasari. Adapun, payung yang diminati pembeli adalah yang berukuran satu meter.
Menurut Suwastika, kesulitan utama yang dihadapi para perajin tedung adalah mencari bahan baku, terutama kayu dan bambu untuk rangka payung. Kayu yang digunakan umumnya berasal dari pohon buah seperti durian dan wani. "Kalau musim hujan lebih susah lagi cari bahan," ungkapnya.
Suwastika mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp 100 juta untuk memperkuat permodalan usaha. Pinjaman itu dipakai untuk menambah stok bahan baku agar produksi tetap berjalan saat permintaan meningkat. "Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali," katanya.
Suwastika juga memanfaatkan digitalisasi layanan perbankan, seperti menggunakan BRImo. Pembayaran nontunai mempermudah transaksi karena pembeli sering melakukan pembayaran sebagian terlebih dahulu sebelum barang dikirim.
Baca juga: Arloji Kayu dari Gumi Makepung |
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan bank pelat merah itu terus mendorong tradisi ekonomi masyarakat seperti usaha pembuatan tedung agar tetap berkembang di Bali. "Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan," ujarnya.
Hery berpendapat kehadiran layanan digital seperti BRImo juga membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi pembayaran, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan usaha. Penggunaan mobile banking menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan digitalisasi karena sebagian besar pelanggan kini sudah menggunakan transaksi nontunai.
"Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya lebih mudah mengakses kredit perbankan," imbuhnya.
(gsp/gsp)












































