Saat berkunjung ke Bali, kalian tentu sering melihat sesajen yang diletakkan di berbagai sudut, mulai dari depan rumah hingga tepi jalan. Keberadaan sesajen tersebut dimaknai sebagai bentuk persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.
Nah, sebelum menjadi canang sari maupun berbagai jenis banten lainnya, sesajen tersebut terlebih dahulu dibuat melalui proses pembuatan yang disebut Mejejaitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi Mejejaitan, dalam ajaran Hindu Bali, umumnya dilakukan oleh perempuan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Persembahan ini tidak hanya dibuat saat hari besar keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas harian.
Filosofi Tradisi Mejejaitan
Dikutip dari laman Sejarah Hindu, tradisi Mejejaitan diartikan sebagai kegiatan merangkai dan menjahit daun kelapa muda atau janur menjadi berbagai bentuk persembahan suci (banten) saat upacara yadnya.
Di Bali, tradisi Mejejaitan memiliki nilai spiritual dan makna simbolis yang berkaitan erat dengan prinsip kehidupan. Pasalnya, tradisi ini dijalankan sebagai bentuk bakti kepada Tuhan dalam memenuhi kewajiban spiritual yang harus didasari dengan ketekunan dan ketulusan.
Selain itu, banten atau sesajen dibuat menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun kelapa, bunga, dan bambu, mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam, sesuai konsep Tri Hita Karana.
Makna Tradisi Mejejaitan
Bagi umat Hindu, sembahyang merupakan kewajiban spiritual untuk menjaga hubungan dengan Tuhan yang tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena itu, proses mempersiapkan banten sebaiknya dilakukan dengan penuh ketulusan sebagai wujud rasa syukur sekaligus pengingat agar manusia tidak melupakan pencipta-Nya.
Pada praktiknya, tradisi Mejejaitan menjadi keterampilan dasar yang umumnya harus dimiliki oleh perempuan Bali sejak usia dini. Pasalnya, pembuatan banten atau sesajen tergolong cukup rumit sehingga memerlukan ketelitian yang tinggi.
Oleh karena itu, tradisi Mejejaitan juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, pengendalian diri sekaligus dapat mempererat hubungan sosial.
(hsa/hsa)

