Belasan sekolah dan Pemerintah Desa (Pemdes) di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga menjadi korban penipuan oleh oknum ASN Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bima. Para korban dijanjikan bus operasional bantuan hibah dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Dua dari belasan korban yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah itu yakni SMK dan SMP Taman Madya Baiturrahman Bima. Kedua sekolah tersebut berada di bawah naungan Yayasan Taman Madya Baiturrahman di Desa Sondosia, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima.
"Persoalan ini sudah kami laporkan secara resmi ke polisi," ucap Ketua Yayasan Taman Madya Baiturrahman Bima, Muhammad Daud Akbar kepada detikBali, Senin (13/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daud mengungkapkan kasus ini bermula saat sejumlah orang yang diketahui merupakan ASN Dishub Kabupaten Bima menemuinya pada 10 Juli 2025. Dalam pertemuan itu, mereka menawarkan program hibah bus sekolah dari Kemenhub.
"Saya tertarik menemui mereka dan membahas bus hibah ini karena mereka (ASN) adalah alumni Sekolah Kedinasan Perhubungan," ujarnya.
Para ASN tersebut juga meyakinkan bahwa mereka mendapat perintah dari senior di Kemenhub untuk mencari sekolah dan Pemdes penerima hibah. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni menyerahkan sejumlah uang untuk biaya akomodasi penjemputan bus dari Jakarta.
"Saya serahkan uang Rp 75 juta. Uang ini diakui untuk biaya akomodasi penjemputan mobil dari kantor Kemenhub di Jakarta menuju Mataram," katanya.
Setelah menyerahkan uang puluhan juta rupiah, bus hibah yang dijanjikan tak kunjung terealisasi hingga kini. Sementara itu, ASN Dishub yang sebelumnya menemui dan menerima uang tersebut tidak dapat lagi dihubungi.
"Tidak ada realisasi sampai sekarang. Mereka yang saya kirimin uang juga tidak ada kabarnya," beber Daud.
Selain sekolah di bawah Yayasan Taman Madya Baiturrahman, sejumlah sekolah swasta dan negeri di Kota dan Kabupaten Bima juga mengalami kejadian serupa. Bahkan, beberapa sekolah di Lombok disebut turut menjadi korban dengan total kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
"Di Bima ada tujuh sekolah dan tiga Pemdes. Belum lagi di Lombok. Kalau dihitung kerugian mencapai angka Rp 2 miliar," terangnya.
Merasa ditipu, perwakilan sejumlah sekolah telah melaporkan kasus ini ke Polres Bima, Polres Bima Kota, hingga Polda NTB. Mereka berharap aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan penipuan tersebut agar tidak ada korban lain.
"Kami desak agar aparat kepolisian mengusut tuntas. Saya meyakini persoalan ini sudah lama berjalan tapi belum tersentuh hukum," tandasnya.
(dpw/dpw)

