Selain KH Ahmad Dahlan dan A. Hasan, terdapat satu sosok ulama besar yang juga berperan penting dalam pembaruan Islam di Indonesia, yakni Ahmad bin Muhammad al-Surkati al-Anshari, yang lebih dikenal sebagai Mualim Ahmad Surkati. Namanya kerap luput dari arus utama sejarah, mungkin karena ia tidak dianggap sebagai "pribumi". Padahal, kontribusinya terhadap pembaruan pemikiran Islam dan pergerakan kebangsaan Indonesia sangatlah signifikan.
Pada masa penjajahan, Mualim Surkati dikenal sebagai ulama yang tegas menentang kolonialisme. Sikap anti-penjajah itu bahkan menjadi prinsip dasar dalam pendidikannya. Kepada para santri yang hendak belajar, ia terlebih dahulu menegaskan, "Jika setelah lulus dari sini engkau bercita-cita menjadi ambtenaar (pegawai Belanda), angkat kopermu dan silakan pulang."
Pernyataan ini mencerminkan komitmennya yang kuat dalam menolak segala bentuk penindasan. Ia tidak rela umat Islam Indonesia tunduk dan diperbudak oleh kekuasaan kolonial. Baginya, perjuangan melawan penjajahan juga berarti menegakkan prinsip kesetaraan derajat antarmanusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarawan Al-Irsyad, Abdullah Abubakar Batarfie, menyebut bahwa sikap anti-penjajahan Surkati tampak jelas dalam perjuangannya memperjuangkan persamaan sosial. Bahkan, pengaruhnya diakui oleh Presiden pertama Indonesia, Sukarno. Saat melayat Surkati pada 6 September 1943 di kediamannya di Jalan Gang Solan (kini Jl. KH. Hasyim Asy'ari No. 25, Jakarta), Sukarno menyatakan, "Almarhum telah ikut mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia."
Ahmad Surkati lahir di Udhfu, Dongola, Sudan, pada tahun 1874 dari keluarga ulama. Pada usia 22 tahun, ia berangkat ke Madinah untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkemuka, seperti Shalih Hamdan al-Maghribi dan Ahmad al-Barzanji. Ia kemudian melanjutkan studinya di Makkah selama sebelas tahun hingga memperoleh gelar Allamah, sebuah pengakuan atas keluasan ilmunya.
Baca juga: Peran Setan dan Nafsu dalam Kemaksiatan |
Keilmuan dan reputasinya yang luas membuat namanya dikenal hingga ke Indonesia, terutama di kalangan komunitas Arab Hadrami (Alawiyin). Pada Maret 1911, ia datang ke Batavia untuk mengajar di Jamiat Kheir, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1901.
Selama di Indonesia, Mualim Surkati juga dikenal sebagai guru spiritual bagi Jong Islamieten Bond (JIB), yang berdiri pada 1 Januari 1925. Dari organisasi ini lahir tokoh-tokoh penting bangsa seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Kasman Singodimedjo.
Pada 15 Syawal 1332 H atau 6 September 1914, ia mendirikan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Lembaga ini berkembang pesat, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai wilayah, bahkan hingga Papua.
Di Batavia, sekolah-sekolah Al-Irsyad tersebar di berbagai lokasi seperti Jati Petamburan, Petojo Jaga Monyet, Krukut Gang Tengah, Gang Madat, Molenvliet Oost (kini sekitar Jalan Hayam Wuruk), Kebon Jeruk, Jalan Pembangunan, hingga Salemba Gang Kenari (sekarang kawasan RS Ridwan Meuraksa). Sebagian besar gedung tersebut merupakan bangunan sewaan, kecuali sekolah di Petojo Jaga Monyet yang menjadi satu-satunya gedung milik Al-Irsyad di Betawi saat itu.
Mualim Ahmad Surkati wafat pada 1943 dan dimakamkan di TPU Karet tanpa batu nisan, sesuai dengan wasiatnya yang menghendaki kesederhanaan. Meski makamnya tanpa penanda, jejak perjuangannya tetap hidup melalui jaringan sekolah, pesantren, dan rumah sakit Al-Irsyad yang tersebar di berbagai daerah.
Sebelum Ramadan, BeritaKlik.com bersama Komunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas) bertandang ke kediaman Mualim Surkati di Jl Hasyim Asy'ari. Rumah besar yang kini dihuni oleh ahli waris keluarga besar Surkati itu berdiri di atas lahan seluas 7.000 M2. Sebagian lahan kemudian menjadi SMP Al-Irsyad.
Namun sejatinya warisan terbesar Surkati tentu saja bukan sekadar lembaga, melainkan semangat pembaruan, kesetaraan, dan kemerdekaan berpikir yang terus menginspirasi perjalanan Islam dan bangsa Indonesia hingga hari ini.
(lus/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan