Memiliki keturunan yang saleh dan salihah adalah harapan setiap orang tua. Anak yang tumbuh dengan akhlak baik akan membawa kebaikan di dunia dan juga menjadi sumber amal yang terus mengalir bagi orang tuanya bahkan setelah wafat.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW,
"Ketika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Doa Nabi Zakaria AS yang Meminta Keturunan
Dalam Al-Qur'an, Nabi Zakaria AS digambarkan sebagai seseorang yang sudah berusia lanjut. Rambutnya telah memutih, tulangnya melemah, sementara sang istri juga tidak memungkinkan untuk memiliki anak. Meski begitu, beliau tidak berhenti berharap kepada Allah SWT.
Dalam buku Doa-Doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya karya Aulia Fadhli, diceritakan bahwa Nabi Zakaria AS tetap berdoa agar diberi keturunan yang bisa menjadi penerus dan penjaga risalah beliau.
Doa beliau terdapat dalam surat Maryam ayat 4-6:
رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
Arab latin: Rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'ā'ika rabbi syaqiyyā(n). Wa innī khiftul-mawāliya miw warā'ī wa kānatimra'atī 'āqiran fahab lī mil ladunka waliyyā(n). Yariṡunī wa yariṡu min āli ya'qūba waj'alhu rabbi raḍiyyā(n).
Artinya: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya'qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai."
Selain itu, doa Nabi Zakaria AS juga terdapat dalam surat Ali Imran ayat 38:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ ۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ
Arab latin: Hunālika da'ā zakariyyā rabbahū qāla rabbi hab lī mil ladunka żurriyyatan ṭayyibah(tan), innaka samī'ud-du'ā'(i).
Artinya: Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, "Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
Makna Anak yang Baik dalam Doa Nabi Zakaria
Masih dari sumber sebelumnya, para ulama memberikan penjelasan tentang makna "anak yang baik" dalam doa Nabi Zakaria AS.
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa anak yang baik adalah anak yang berakhlak mulia dan memiliki adab yang baik. Imam Jalalain menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah anak yang saleh. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.
Adapun menurut Imam Nawawi, orang saleh adalah mereka yang menunaikan hak Allah SWT dan hak sesama manusia dengan seimbang.
(inf/kri)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan