Harga Avtur Naik 2-3 Kali Lipat, Kemenhaj Upayakan Tak Bebani Jemaah Haji

Harga Avtur Naik 2-3 Kali Lipat, Kemenhaj Upayakan Tak Bebani Jemaah Haji

Anisa Febriani - detikHikmah
Selasa, 07 Apr 2026 18:01 WIB
Keterangan foto: Menhaj RI Mochamad Irfan Yusuf bersama Duta Besar Arab Saudi untuk RI Faisal Abdullah Al Amoudi di Kantor Kemenhaj, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Foto: Anisa Rizki/detikHikmah
Jakarta -

Harga bahan bakar pesawat atau avtur melejit hingga 2-3 kali lipat imbas konflik Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, avtur jadi salah satu komponen pertimbangan biaya haji dalam hal penerbangan.

Berkaitan dengan itu, Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) tengah mencari solusi dari kenaikan biaya avtur untuk menerbangkan jemaah haji ke Tanah Suci.

"Avtur naik 2-3 kali lipat, itulah dampak yang langsung kita rasakan sekarang ini dan kita sedang mencari pemecahannya," ujar Menteri Haji dan Umrah RI (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan dalam pertemuan bersama Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi di Kantor Kemenhaj, Selasa (7/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Gus Irfan menyampaikan Presiden RI Prabowo Subianto juga menekankan jangan sampai solusi dari masalah kenaikan avtur itu berimbas pada beban yang ditanggung jemaah haji RI.

"Presiden tentu menekankan apapun yang terjadi jangan sampai memberikan tambahan beban kepada jemaah haji kita," jelas Menhaj.

ADVERTISEMENT

Selain itu, dia menyampaikan Presiden Prabowo berpesan keputusan yang nantinya diambil Kemenhaj harus mempertimbangkan keamanan dan keselamatan jemaah haji RI.

"Pak Presiden juga menyatakan bahwa apapun keputusan pemerintah Indonesia semuanya berdasar pada pertimbangan keamanan dan keselamatan Warga Negara Indonesia yang akan melaksanakan ibadah haji," terang Gus Irfan.

Pada kesempatan yang sama, Dubes Saudi menyatakan stok bahan bakar minyak (BBM) di negaranya aman. Meski demikian, dia menuturkan konflik Timur Tengah berdampak secara keseluruhan terhadap dunia, khususnya pada keamanan energi, pangan serta supply chain.

"Berkaitan dengan BBM kita aman. Namun demikian, kita juga tidak menginginkan dampak (peperangan) ini dirasakan oleh negara-negara lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa peperangan ini telah berdampak secara signifikan terhadap keamanan energi, keamanan pangan, keamanan supply chain dan lain sebagainya," katanya menguraikan.

Dubes Faisal menekankan perlunya satu suara agar peperangan tidak melebar. Semakin berlanjutnya perang, maka dampaknya juga semakin nyata.

"Oleh karena suara sangat diperlukan untuk mencegah melebarnya peperangan ini sehingga dampaknya tidak meluas. Yang sebagaimana tadi disinggung bahwa dampak yang paling nyata adalah dengan kenaikan BBM, harga minyak dalam kurun waktu kurang daripada seminggu, harganya telah mencapai kenaikan yaitu 65%" terangnya.

"Kenaikan ini tentu berdampak langsung terhadap naiknya harga avtur. Kemudian juga naiknya otomatis terhadap tiket-tiket yang berlaku untuk pelaksanaan ibadah," tandas Dubes Faisal




(aeb/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads