Bolehkah Merayakan Tahun Baru Islam? Ini Penjelasan Ulama

Bolehkah Merayakan Tahun Baru Islam? Ini Penjelasan Ulama

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Selasa, 16 Jun 2026 16:00 WIB
Ilustrasi Tahun Baru Islam 2026
Ilustrasi Tahun Baru Islam (Foto: magnific/Magnific)
Jakarta -

Tahun Baru Islam bertepatan dengan 1 Muharram pada kalender Hijriah. Momen ini sering disemarakkan muslim dengan berbagai perayaan hingga amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Terlebih, Muharram jadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Terkait hal ini disebutkan dalam hadits yang berasal dari Abu Bakrah RA, Nabi SAW bersabda:

"Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban." (HR Bukhari Muslim)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau begitu, ulama berbeda pendapat terkait hukum merayakan Tahun Baru Islam. Sebagaimana diketahui, perayaan tersebut tidak memiliki dasar khusus dari Rasulullah SAW.

Lantas, bolehkah muslim merayakan Tahun Baru Islam?

ADVERTISEMENT

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam Menurut Ulama

Ada perbedaan pendapat para ulama. Ada yang membolehkan, ada juga yang melarang. Berikut bahasannya.

1. Tidak Boleh

Menurut buku Fikih Keseharian: Ucapan Tahun Baru Hijriyah hingga Hukum Parfum Beralkohol oleh Hafidz Muftisany, sebagian ulama khususnya yang berasal dari Arab Saudi menilai ucapan selamat tahun baru Hijriah bukan bagian dari syariat Islam. Ulama terkemuka yang berpendapat demikian salah satunya adalah Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Melalui fatwanya, Syekh al-Utsaimin menilai umat Islam tidak dianjurkan menjadi pihak yang pertama kali memulai atau memberi ucapan selamat Tahun Baru Islam. Meski begitu, jika orang lain lebih dulu mengucapkan selamat maka tidak jadi masalah untuk membalasnya. Fatwa ini tercantum dalam Mausu'ah al-Liqa asy-Syahri.

2. Boleh

Pendapat yang kedua adalah diperbolehkan merayakan Tahun Baru Islam. Salah satu ulama yang berpandangan demikian adalah Pengasuh LPD Al Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainul Ma'arif.

Ulama yang akrab disapa Buya Yahya itu menyatakan merayakan Tahun Baru Islam bukan bid'ah. Sebab, muslim tidak berniat menambah hari raya baru di luar Idul Fitri dan Idul Adha.

"Kita perlu hadirkan syiar tahun baru Hijriah. Ini bukan hari raya. Hari raya hanya Idul Adha dan Idul Fitri. Akan tetapi di saat kita mengangkat syiar Muharram tahun baru, ini punya maksud bahwa Islam punya (penanggalan khusus)," katanya dalam ceramah yang disiarkan di YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip channel tersebut.

Buya Yahya juga membahas penanggalan Hijriah diinisiasi oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. Penentuan 1 Muharram jadi awal tahun sengaja dipilih agar para jemaah haji yang hendak pulang dari Tanah Suci bisa menyebarkan syiar Islam tersebut ke negeri asal masing-masing.

Pada zaman modern ini, banyak generasi muda yang tidak hafal bulan-bulan Hijriah. Lewat momen 1 Muharram, maka anak-anak dan masyarakat awam terbiasa dengan identitas Islam.

"Bagaimana semua orang membiasakan dengan Hijriah, ada makna iman, ada sesuatu yang ada aroma Islam-nya. Kita ingin membiasakan anak-anak kita dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan Islam," ujar Buya Yahya.

Terpisah, Menteri Agama Nasaruddin Umar juga berpendapat serupa. Dia menilai, perayaan 1 Muharram bukan termasuk bid'ah.

"Memperingati 1 Muharram ini bukan melestarikan bid'ah. Justru kalau paham konsep ekoteologi, sulit untuk musyrik," jelas Menag dalam acara Ngaji Budaya bertema "Tradisi Muharram di Nusantara: Pesan Ekoteologi dalam Perspektif Kearifan Lokal" yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Senin (23/6/2025).

Menteri yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal itu menuturkan peringatan 1 Muharram adalah waktu yang tepat untuk menajamkan hati nurani, bukan sekadar mengandallkan ketajaman akal. Dia mengajak masyarakat untuk merefleksikan tanggung jawab menjaga alam ciptaan Tuhan dengan penuh kasih dan kesadaran spiritual.

Wallahu a'lam.




(aeb/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads