Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi telah menerima 10 poin proposal dari Iran sebagai landasan negosiasi gencatan senjata. Menariknya, dalam daftar tuntutan tersebut, tidak tercantum poin spesifik mengenai isu Palestina.
Dilansir dari Al Jazeera dan The Guardian, Rabu (8/4/2026), Trump menyebut dokumen ini sebagai dasar yang kuat untuk mengakhiri eskalasi di Timur Tengah. Melalui akun media sosial pribadinya, Trump menyatakan optimisme tinggi terhadap dokumen dari Teheran tersebut.
"Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan saya yakin ini dapat menjadi dasar yang dapat diandalkan untuk negosiasi," ujar Trump dalam pernyataannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isi 10 Tuntutan Iran ke Amerika
Meskipun rencana 10 poin lengkap belum dipublikasikan, Editor Diplomatik Al Jazeera, James Bays, melaporkan bahwa rencana tersebut mencakup poin-poin krusial yang selama ini menjadi sengketa panas kedua negara, mulai dari kontrol wilayah perairan hingga hak nuklir. Berikut rinciannya:
- Jaminan Non-Agresi: AS harus berkomitmen secara prinsip untuk tidak melakukan serangan.
- Kendali Selat Hormuz: Iran tetap memegang kontrol penuh atas jalur perdagangan minyak vital tersebut.
- Pengayaan Uranium: Hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium harus diakui secara internasional.
- Pencabutan Sanksi Utama: Menghapus seluruh blokade ekonomi primer terhadap Iran.
- Pencabutan Sanksi Sekunder: Menghilangkan tekanan ekonomi terhadap pihak ketiga yang bertransaksi dengan Iran.
- Resolusi DK PBB: Penghentian seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran.
- Resolusi IAEA: Penghentian seluruh resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional.
- Kompensasi Perang: AS diminta membayar ganti rugi atas kerusakan yang dialami Iran akibat konflik.
- Penarikan Pasukan: Militer AS harus menarik seluruh pasukan tempur dari kawasan Timur Tengah.
- Gencatan Senjata Total: Penghentian perang di semua lini, termasuk perlindungan terhadap kelompok perlawanan di Lebanon.
Trump Tangguhkan Serangan
Sebelum pengumuman ini, Trump sempat mengancam akan meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran. Namun, ia memutuskan untuk menunda operasi militer tersebut selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional.
Gedung Putih mengeklaim bahwa tujuan militer AS di kawasan tersebut sebenarnya sudah tercapai, sehingga jalur diplomasi kini menjadi prioritas utama.
"Alasan melakukan hal ini adalah karena kita telah memenuhi dan bahkan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan tercapainya kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu merupakan dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi," bunyi pernyataan resmi Trump yang diunggah akun X Gedung Putih.
Trump meyakini hampir seluruh poin perselisihan di masa lalu kini telah menemukan titik temu. Ia menargetkan kesepakatan damai yang komprehensif bakal rampung dalam kurun waktu 14 hari ke depan.
(hnh/inf)

Komentar Terbanyak
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT