Arab Saudi semakin memperkuat layanan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu para jemaah di Masjidil Haram. Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah robot AI Manarat Al-Haramain yang sebelumnya diperkenalkan pada musim haji tahun lalu.
Dilansir dari Saudi Press Agency, robot tersebut dikembangkan oleh Presidensi Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai bagian dari transformasi digital layanan keagamaan bagi jemaah dari seluruh dunia. Teknologi ini memadukan nilai tradisi Islam dengan perkembangan AI modern untuk mempermudah akses informasi dan layanan keagamaan.
Berdasarkan peluncurannya pada Mei 2025, robot Manarat Al-Haramain berfungsi sebagai pusat layanan pertanyaan agama di Masjidil Haram. Jemaah dapat memperoleh jawaban terkait ibadah, sementara untuk pertanyaan yang lebih khusus robot dapat menghubungkan pengunjung dengan para mufti melalui panggilan video secara langsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robot tersebut juga hadir dengan desain yang terinspirasi dari ornamen dan arsitektur Islam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Otoritas Saudi menyebut inovasi ini dirancang untuk meningkatkan pengalaman spiritual jemaah sekaligus menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses.
Sejumlah laporan media Saudi menyebut layanan berbasis digital semakin dikembangkan di musim haji tahun ini. Selain robot bertenaga AI, Presidensi Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga menyediakan layanan Tanya Ulama yang memanfaatkan sistem berbasis cloud yang beroperasi selama 24 jam.
Mengutip Arab News, layanan komunikasi tersebut memungkinkan pertanyaan dari para pengunjung Masjidil Haram dapat dijawab langsung oleh para ulama.
Kepala Presidensi Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Abdurrahman As Sudais menyebut program ini menjadi bagian dari langkah Presidensi dalam memperkuat transformasi digital sekaligus meningkatkan mutu layanan keagamaan bagi jemaah dari berbagai negara.
Syekh Sudais menjelaskan sistem tersebut dirancang sebagai platform teknologi terpadu yang membuat penanganan panggilan menjadi lebih fleksibel dan efisien.
Melalui sistem ini, panggilan nantinya akan diteruskan ke ponsel pribadi para syekh. Mekanisme tersebut dinilai dapat mengurangi kebutuhan ulama berada di satu lokasi tertentu sekaligus membantu mengurangi kepadatan di area Masjidil Haram dan meningkatkan kenyamanan ibadah jemaah.
(hnh/inf)

Komentar Terbanyak
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Soal Pidana Pelaku dan Kampanye LGBT
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina