Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, kini bersiaga penuh sambut kedatangan jemaah haji gelombang kedua. Posko kesehatan yang berlokasi strategis di Zona E ini disiapkan sebagai benteng pertahanan medis pertama bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan sesaat setelah mendarat di Tanah Suci.
Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad, memastikan bahwa fasilitas yang tersedia sudah memadai untuk melakukan observasi awal. Saat meninjau lokasi pada Kamis (7/5), ia menegaskan bahwa keberadaan klinik ini sangat vital untuk memantau kondisi fisik jemaah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
"Untuk klinik tingkat pertama, fasilitasnya sudah cukup," ujar Abdul Aziz Ahmad kepada awak media dengan nada optimis di sela-sela peninjauan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pantauan di lokasi, klinik ini tidak hanya sekadar ruang tunggu medis biasa. Di dalamnya telah tersedia dua tempat tidur observasi serta perlengkapan medis darurat yang mumpuni, mulai dari tabung oksigen hingga peralatan kegawatdaruratan lainnya untuk menangani kasus-kasus akut yang mungkin terjadi di area bandara.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menjelaskan bahwa operasional klinik ini sepenuhnya ditangani oleh tenaga profesional dari tanah air. Para dokter dan perawat yang bertugas merupakan bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang memang diterjunkan khusus untuk mengawal kesehatan para tamu Allah.
"Tenaganya PPIH Arab Saudi, dokter dan perawat dari Indonesia," tutur Liliek menegaskan kesiapan personelnya.
Meskipun memiliki peralatan lengkap, Liliek menekankan bahwa fungsi utama klinik ini adalah penanganan respons cepat. Jika ditemukan jemaah yang membutuhkan perawatan medis intensif atau tindakan spesialis, pihak klinik akan segera melakukan rujukan ke rumah sakit terdekat di wilayah Jeddah, seperti Saudi German Hospital, guna memastikan keselamatan nyawa jemaah.
Mengenai kondisi kesehatan jemaah secara umum, Liliek memaparkan bahwa perjalanan udara durasi panjang seringkali memicu masalah kesehatan klasik. Ia mencatat banyak jemaah yang mengeluhkan kelelahan ekstrem hingga kondisi medis yang tidak stabil akibat jadwal konsumsi obat yang terganggu selama di pesawat.
"Kebanyakan kelelahan, tekanan darah tidak stabil, gula darah naik karena jemaahnya lupa minum obat," ungkap Liliek menjabarkan tantangan medis yang sering ditemui.
Oleh karena itu, ia memberikan pesan bagi para jemaah untuk benar-benar menjaga kondisi fisik bahkan sebelum menginjakkan kaki di bandara. Jemaah diharapkan sudah membatasi aktivitas fisik yang berat setidaknya tiga hari sebelum keberangkatan agar cadangan energi tetap terjaga saat memulai rangkaian ibadah haji yang menguras tenaga.
Selain persiapan di darat, kenyamanan selama di dalam kabin pesawat juga menjadi kunci kebugaran. Liliek menyarankan agar jemaah tidak menahan keinginan untuk ke toilet serta memanfaatkan waktu penerbangan untuk beristirahat total agar kondisi tubuh tetap prima saat proses imigrasi yang melelahkan.
"Di pesawat juga usahakan tidur, istirahat. Jadi ketika mendarat, badan bugar," katanya singkat.
(alj/inf)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat