Kepulangan jemaah haji Indonesia gelombang pertama terus bergulir di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah maupun hotel-hotel pemondokan di Makkah. Suasana haru dan sibuknya jemaah mengemas koper kabin mewarnai hari-hari terakhir mereka di Tanah Suci.
Di antara ribuan jemaah yang bersiap kembali ke Tanah Air, ada nenek Jumaria yang viral lantaran menjadi ikon haji 2026. Dia adalah lansia tangguh yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 14 Debarkasi Makassar (UPG 14).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat diwawancarai langsung di Bandara Jeddah pada Rabu (10/6/2026) menjelang naik ke pesawat, buruh tani sebatang kara ini memperlihatkan isi bagasinya yang unik. Di saat jemaah lain berburu emas atau sajadah mewah, koper Nenek Jumaria justru penuh sesak oleh-oleh seperti kurma hingga boneka mainan anak-anak. Menariknya, semua oleh-oleh itu dibeli bukan dengan modal sendiri, melainkan dari uang hadiah yang ia terima selama di Makkah.
Sambil duduk di ruang tunggu Bandara Jeddah, Nenek Jumaria secara blak-blakan mengaku bahwa dirinya sama sekali sudah tidak memegang mata uang riyal.
"Tidak ada uang riyal, ada uang Rp 500 ribu. Ini kusimpan untuk nanti sampai di sana (Indonesia) jadi belanja," ujar Nenek Jumaria.
Namun, ketulusan hati nenek rupanya mengundang rezeki tak terduga. Saat masih di Makkah, ada saja seorang dermawan yang tersentuh melihat kepolosannya mendadak memberikan uang riyal. Bukannya disimpan untuk modal hidup di kampung, uang tersebut langsung ia "habiskan" seluruhnya di toko oleh-oleh sebelum bertolak ke Jeddah.
Pilihan Nenek Jumaria membeli oleh-oleh sangat mengharukan mengingat riwayat hidupnya. Nenek Jumaria hidup tinggal sendirian dan tidak memiliki anak ataupun cucu kandung. Namun, di dalam hatinya, anak-anak saudara dan tetangga sekitar rumah adalah bagian dari jiwanya.
"Saya belikan cucu-cucuku. Boneka, kurma, cokelat, baju. Cucu kemenakan yang dekat rumahku. Nanti saya pulang, dia bilang 'Apa oleh-olehnya Nenek?' Ini saja (boneka), karena tidak banyak uang. Saya simpan juga sebagian kecil oleh-oleh (cokelat) untuk makan kalau malam," ungkap Nenek Jumaria.
Bagi Nenek Jumaria, esensi oleh-oleh haji bukanlah pamer kemewahan atau status sosial baru di kampung halaman. Oleh-oleh yang kini siap terbang bersamanya dari Bandara Jeddah adalah simbol ketulusan cinta seorang nenek yang tak ingin pulang dengan tangan hampa di hadapan sanak saudara yang menyayanginya.
Meski setelah kepulangannya ia harus kembali memegang cangkul dan menggarap sawah kecilnya, Nenek Jumaria telah berhasil membawa pulang "oleh-oleh" terbaik, kebahagiaan yang tulus untuk orang-orang di sekitarnya.
(alj/kri)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan