Sejumlah jemaah haji 2026 menceritakan keajaiban-keajaiban yang mereka alami selama menjalankan rukun Islam yang ke-5 di tanah suci. Hal yang menurut mereka mustahil dilakukan, ternyata lancar dikerjakan.
Pengalaman itu dirasakan oleh Lilis Ardifiyanti dan keluarganya. Menunaikan ibadah haji bukan hanya hak Muslim yang sehat secara fisik. Penyandang disabilitas pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah, termasuk mereka yang hidup dengan autisme.
Hal itu dibuktikan oleh Sharfina Diah Nuratika, jemaah haji asal Tangerang Selatan, Banten. Perempuan yang akrab disapa Fina tersebut berhasil menjalani seluruh rangkaian ibadah haji setelah menunggu selama 13 tahun sejak mendaftar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan Fina tidak lepas dari persiapan panjang yang dilakukan keluarganya. Sang ibu, Lilis Ardifiyanti, mengungkapkan bahwa mereka mulai mengukur kesiapan putrinya sejak umrah pertama pada 2008.
Saat itu, keluarga ingin memastikan apakah Fina mampu beradaptasi dengan suasana ibadah yang padat dan dilakukan bersama banyak orang.
"Ternyata di dalam perjalanan umrah itu, dia bisa melaksanakan semuanya dengan smooth. Bisa tawaf, sa'i, semuanya bisa, tidak ada hambatan, tidak ada tantrum, tidak ada gangguan, dan tidak menyebabkan orang lain terganggu," tutur Lilis saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Hotel Al Hidayah, Aziziyah, Makkah, beberapa waktu lalu.
Pengalaman tersebut membuat keluarga semakin yakin untuk mendaftarkan Fina berhaji. Pada April 2013, dua bulan setelah ulang tahunnya, Fina resmi didaftarkan sebagai calon jemaah haji.
Selama masa tunggu yang mencapai 13 tahun, keluarga terus mempersiapkan Fina. Mereka membiasakannya melakukan perjalanan jauh, mengikuti kegiatan bersama kelompok, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pada 2023, keluarga bahkan kembali mengajak Fina umrah sebagai simulasi menjelang keberangkatan haji. "Kami membiasakan dia terbang jauh dan berada dalam kelompok yang beragam agar lebih mudah beradaptasi ketika nanti berhaji," kata Lilis.
Meski menyadari ibadah haji, terutama saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), merupakan fase yang berat, keluarga tetap optimistis. "Tapi kami percaya kepada Allah bahwa insya Allah akan dibantu," ujarnya.
Keyakinan itu akhirnya terjawab. Fina yang kini berusia 30 tahun mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik, termasuk menjalani fase Armuzna.
"Alhamdulillah ternyata sampai sekarang dia berhasil melewati semuanya," kata Lilis.
Fina menjalani wukuf di Arafah, bermalam di Mina melalui skema murur, serta melaksanakan lontar jumrah pada hari pertama. Adapun lontar jumrah hari kedua dan ketiga dibadalkan oleh kakaknya karena kondisi kesehatan Fina yang sedang mengalami alergi.
Untuk menjaga keselamatan saat berada di tengah kerumunan jemaah, keluarga juga menerapkan langkah khusus ketika tawaf. Lilis memasang tali pengaman yang menghubungkan dirinya dengan sang putri agar tidak terpisah di tengah kepadatan.
Bagi keluarga, keberhasilan Fina berhaji menjadi bukti bahwa penyandang autisme juga dapat menjalankan ibadah di Tanah Suci jika mendapatkan dukungan dan pendampingan yang tepat.
"Kami bersyukur sekali Allah masih memberikan kesempatan kepada kami sekeluarga untuk bisa berhaji bersama," ucap Lilis.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan. Menurutnya, penyandang disabilitas masih kerap menghadapi stigma, termasuk dalam urusan keagamaan.
"Kita ingin menyuarakan apa yang dimandatkan oleh undang-undang, setiap penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam masalah keagamaan," kata Deka.
Ia menilai kisah Fina menjadi contoh bahwa penyandang disabilitas, termasuk autisme, dapat menunaikan ibadah haji dengan baik apabila memperoleh dukungan keluarga serta layanan yang inklusif, dan bahwa kesempatan menjadi tamu Allah terbuka bagi siapa saja yang mampu, tanpa terkecuali.
(rns/erd)

Komentar Terbanyak
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan
DPR RI Dukung Desakan MUI Tindak Tegas Pelaku LGBT
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola