Dekat eskalator dan gerai kopi viral yang menjadi spot foto estetik di pelataran Masjidil Haram, di antara deretan hotel yang berdiri megah, tersimpan sebuah jejak sejarah yang tidak banyak diketahui jemaah. Kawasan yang kini menjadi Tower Makkah dulunya merupakan permukiman Bani Taim, kabilah tempat lahir sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan masjid di lantai empat Tower Makkah hingga kini tetap diberi nama Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai penghormatan terhadap sejarah kawasan tersebut.
"Kalau kita track beberapa referensi sejarah Makkah, kita akan menjumpai kawasan ini dahulunya adalah kawasan pemukiman Bani Taim. Satu klan yang darinya lahir sahabat Nabi SAW yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq," ujarnya saat sesi tur jejak sirah mengelilingi kawasan Masjidil Haram pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Musyaddad, jauh sebelum hotel-hotel menjulang di sekitar Masjidil Haram, di lokasi tersebut telah berdiri Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq sejak sekitar abad ke-6 Hijriah.
"Namun kemudian demi perluasan Masjidil Haram, semua bangunan diratakan termasuk masjid tersebut dan berdiri kemudian tower-tower besar ini. Tapi oleh otoritas pengelola Tower Makkah, masjid yang ada di (lantai) P4 tetap dinamakan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq," jelasnya.
Musyaddad kemudian mengaitkan lokasi tersebut dengan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam, yakni persiapan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah.
Mengutip hadits shahih Imam Bukhari yang diriwayatkan dari Aisyah RA, ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mendatangi rumah Abu Bakar pada siang hari secara diam-diam dengan wajah tertutup. Sebelum masuk, Rasulullah SAW memastikan rumah tersebut benar-benar aman.
"Beliau bertanya kepada Abu Bakar, siapa yang ada di dalam rumah? Karena apa yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang sangat rahasia," katanya.
Setelah Abu Bakar memastikan hanya keluarga yang telah beriman berada di dalam rumah, Rasulullah SAW masuk. Di tempat itulah keduanya menyusun strategi hijrah.
Alih-alih langsung menuju Madinah di arah utara, Rasulullah SAW memilih bergerak ke arah selatan menuju Jabal Tsur agar tidak mudah terlacak kaum Quraisy.
"Bagi Nabi SAW perjalanan ke arah utara itu tidak strategis. Mudah terbaca, mudah dilacak, mudah dikejar. Maka beliau menyepakati dengan Abu Bakar untuk membalik haluan ke arah selatan," jelas Musyaddad.
Bahkan, menurut sejumlah riwayat, Rasulullah SAW berjalan dengan sangat hati-hati agar jejak langkahnya tidak mudah ditemukan.
"Di sebagian perjalanan Nabi SAW menuju Jabal Tsur beliau berjalan dengan jinjit supaya jejaknya tidak berbekas," ujarnya.
Tidak hanya itu, Abu Bakar juga meminta Amir bin Fuhairah menggiring kambing di belakang perjalanan mereka agar jejak kaki Rasulullah SAW tersamarkan.
Meski strategi telah disusun dengan sangat matang, kaum Quraisy tetap berhasil melacak hingga mulut Gua Tsur. Saat itulah Abu Bakar merasa khawatir.
"Ya Rasulullah, andai mereka melihat sedikit saja ke arah bawah, tertangkap kita," ucap Abu Bakar sebagaimana dituturkan Musyaddad.
Namun Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang kemudian diabadikan dalam sejarah Islam, "Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang bila yang ketiganya adalah Allah SWT?"
Eskalator viral di kawasan Tower Makkah, dulunya merupakan permukiman Bani Taim, kabilah tempat lahir sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Foto: Rachmatunnisa/BeritaKlik |
Menurut Musyaddad, dari peristiwa hijrah tersebut setidaknya terdapat dua pelajaran besar bagi umat Islam. Pertama, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menyusun strategi dan melakukan ikhtiar sebaik mungkin meskipun beliau adalah utusan Allah SWT.
"Islam mengajarkan kepada kita tawakal kepada Allah dengan sebaik-baik tawakal, juga mengajarkan kepada kita ikhtiar dengan sebaik-baik ikhtiar," katanya.
Pelajaran kedua, keberhasilan tidak semata ditentukan oleh strategi manusia. "Meski Rasulullah SAW sudah berikhtiar dengan ikhtiar terbaik, ternyata akhirnya musuh sampai juga di mulut gua. Di atas semua perencanaan manusia tetap ada pertolongan Allah yang lebih utama," ujarnya.
Karena itu, lanjut Musyaddad, keberhasilan tidak boleh membuat seseorang sombong, sementara kegagalan juga tidak semestinya melahirkan kekecewaan.
"Kalau rencana-rencana kita berhasil, tidak membuat kita jumawa. Dan kalau tidak berhasil, tidak membuat kita kecewa, karena Allah SWT pasti menyisipkan hikmah di balik itu semua," pungkasnya.
(kri/kri)


Komentar Terbanyak
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT