Surat Al-Mutafifin Ayat 1-36 Lengkap Arab, Latin, Arti, dan Asbabun Nuzul

Surat Al-Mutafifin Ayat 1-36 Lengkap Arab, Latin, Arti, dan Asbabun Nuzul

Tia Kamilla - detikHikmah
Kamis, 11 Des 2025 11:00 WIB
Surat Al-Mutafifin Ayat 1-36 Lengkap Arab, Latin, Arti, dan Asbabun Nuzul
Foto: MdjihadHossen/Pixabay
Jakarta -

Surat Al-Mutaffifin adalah salah satu surat dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 36 ayat. Menurut buku Juz Amma Tajwid Berwarna & Terjemahannya karya M. Khalilurrahman Al Mahfani, surat ini diturunkan setelah surat Al-Ankabut dan menjadi surat terakhir yang diturunkan di Mekah sebelum hijrah (surat Makkiyah).

Nama Al-Mutaffiffin diambil dari kata di ayat pertama, yang menurut Tafsir Quran Kemenag berarti "Orang-orang yang curang", yakni mereka yang berbuat curang dalam menakar, menimbang, dan memberi sedikit, namun meminta lebih banyak.

Selain itu, Menurut buku Tadabur Al-Qur'an: Menyelami Makna Al-Qur'an dari Al-Fatihah Sampai An-Nas karya Syaikh Adil Muhammad Khalil, surat Al-Mutaffiffin diawali dengan ancaman bagi golongan yang curang ini karena keburukan perbuatan mereka dan besarnya dosa yang mereka lakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Surat ini mengajarkan pentingnya kejujuran, khususnya dalam berdagang, menekankan keadilan, menunaikan hak orang lain, serta mengingatkan konsekuensi perbuatan curang di akhirat.

Berikut adalah bacaan surat Al-Mutaffiffin secara lengkap, mulai dari teks Arab, tulisan latin, terjemahan, hingga makna dan isi kandungannya.

ADVERTISEMENT

Bacaan Surat Al-Mutaffiffin: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut adalah bacaan surat Al-Mutaffiffin dari ayat 1 sampai 36 lengkap dengan teks arab, latin, dan terjemahannya yang mudah dibaca.

1.Ayat 1

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ

Wailul lil-muṭaffifīn(a).

Artinya: "Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!"

2. Ayat 2

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

Allażīna iżaktālū 'alan-nāsi yastaufūn(a).

Artinya: "(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi."

3. Ayat 3

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

Wa iżā kālūhum au wazanūhum yukhsirūn(a).

Artinya: "(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi."

4. Ayat 4

اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ

Alā yaẓunnu ulā'ika annahum mab'ūṡūn(a).

Artinya: "Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan."

5. Ayat 5

لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ

Liyaumin 'aẓīm(in).

Artinya: "Pada suatu hari yang besar (Kiamat),"

6. Ayat 6

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

Yauma yaqūmun-nāsu lirabbil-'ālamīn(a).

Artinya: "(yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?"

7. Ayat 7

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

Kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn(in).

Artinya: "Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn."

8. Ayat 8

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ

Wa mā adrāka mā sijjīn(un).

Artinya: "Tahukah engkau apakah Sijjīn itu?"

9. Ayat 9

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

Kitābum marqūm(un).

Artinya: "(Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal)."

10. Ayat 10

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ

Wailuy yauma'iżil lil-mukażżibīn(a).

Artinya: "Celakalah pada hari itu bagi para pendusta,"

11. Ayat 11

الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

Allażīna yukażżibūna biyaumid-dīn(i).

Artinya: "yaitu orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan."

12. Ayat 12

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

Wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu'tadin aṡīm(in).

Artinya: "Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa."

13. Ayat 13

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

Iżā tutlā 'alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn(a).

Artinya: "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, "(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu."

14. Ayat 14

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Kallā bal...rāna 'alā qulūbihim mā kānū yaksibūn(a).

Artinya: "Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."

15. Ayat 15

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ

Kallā innahum 'ar rabbihim yauma'iżil lamaḥjūbūn(a).

Artinya: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya."

16. Ayat 16

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

Ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm(i).

Artinya: "Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim."

17. Ayat 17

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

Ṡumma yuqālu hāżal-lażī kuntum bihī tukażżibūn(a).

Artinya: "Lalu dikatakan (kepada mereka), "Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan."

18. Ayat 18

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ

Kallā inna kitābal-abrāri lafī 'illiyyīn(a).

Artinya: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam 'Illiyyīn."

19. Ayat 19

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ

Wa mā adrāka mā 'illiyyūn(a).

Artinya: "Tahukah engkau apakah 'Illiyyīn itu?"

20. Ayat 20

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ

Kitābum marqūm(un).

Artinya: "(Itulah) kitab yang berisi catatan (amal)"

21. Ayat 21

يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ

Yasyhaduhul-muqarrabūn(a).

Artinya: "yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah)."

22. Ayat 22

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

Innal-abrāra lafī na'īm(in).

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan."

23. Ayat 23

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ

'Alal-arā'iki yanẓurūn(a).

Artinya: "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan."

24. Ayat 24

تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ

Ta'rifu fī wujūhihim naḍratan na'īm(i).

Artinya: "Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan."

25. Ayat 25

يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ

Yusqauna mir raḥīqim makhtūm(in).

Artinya: "Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya)."

26. Ayat 26

خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ

Khitāmuhū misk(un), wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisūn(a).

Artinya: "Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."

27. Ayat 27

وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ

Wa mizājuhū min tasnīm(in).

Artinya: "Campurannya terbuat dari tasnīm,"

28. Ayat 28

عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ

'Ainay yasyrabu bihal-muqarrabūn(a).

Artinya: "(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah)."

29. Ayat 29

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ

Innal-lażīna ajramū kānū minal-lażīna āmanū yaḍḥakūn(a).

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman."

30. Ayat 30

وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ

Wa iżā marrū bihim yatagāmazūn(a).

Artinya: "Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya."

31. Ayat 31

وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ

Wa iżanqalabū ilā ahlihimunqalabū fakihīn(a).

Artinya: "Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong)."

32. Ayat 32

وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ

Wa iżā ra'auhum qālū inna hā'ulā'i laḍāllūn(a).

Artinya: "Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, "Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,"

33. Ayat 33

وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ

Wa mā ursilū 'alaihim ḥāfiẓīn(a).

Artinya: "padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin)."

34. Ayat 34

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ

Fal-yaumal-lażīna āmanū minal kuffāri yaḍḥakūn(a).

Artinya: "Pada hari ini (hari Kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir."

35. Ayat 35

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ

'Alal-arā'iki yanẓurūn(a).

Artinya: "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan."

36. Ayat 36

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ

Hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānū yaf'alūn(a).

Artinya: "Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?"

Tafsir Surat Al-Mutaffifin Ayat 1-36

Surat Al-Mutaffiffin terdiri dari 36 ayat yang menegaskan larangan berbuat curang, terutama dalam menakar dan menimbang. Menurut Tafsir Al-Qur'an Kementerian Agama RI, surah ini dimulai dengan peringatan keras bagi mereka yang curang.

Ayat 2-3 menjelaskan perilaku orang yang akan masuk neraka, yaitu mereka menuntut penuh ketika membeli tetapi mengurangi takaran saat menjual. Tindakan ini dianggap dosa besar karena berarti memakan harta orang lain tanpa izin.

Ayat 4 menegaskan bahwa mereka seakan melupakan hari kebangkitan. Jika tidak meyakini hari itu, mereka tidak akan tergugah untuk menghindari kecurangan. Ayat 5-6 menegaskan bahwa semua manusia akan dihisab pada hari pembalasan oleh Allah yang Mahaadil. Timbangan di sini menjadi simbol keadilan yang harus ditegakkan.

Ayat 7-9 menjelaskan bahwa orang yang durhaka tidak bisa lepas dari pengawasan Allah. Semua perbuatannya tercatat dalam Sijjīn, kitab yang menjadi dasar perhitungan amal mereka. Ayat 10-11 mengancam orang yang mendustakan hari kiamat dengan azab neraka yang pedih, karena menolak hari pembalasan berarti menolak keadilan Allah.

Ayat 12-14 menyebut bahwa pengingkar hari kiamat biasanya dilakukan oleh mereka yang hati dan pikirannya tertutup oleh dosa. Mereka tidak mau mendengar Al-Qur'an dan menganggapnya dongeng orang dahulu. Kebiasaan berbuat dosa membuat hati mereka keras, gelap, dan tertutup, yang hanya bisa dibersihkan dengan tobat.

Ayat 15-17 menegaskan bahwa orang kafir terhalang dari rahmat Allah, termasuk kesempatan melihat-Nya di akhirat. Mereka akan masuk neraka Jahim, mengalami penderitaan fisik dan psikis, sebagai balasan atas kedustaan mereka terhadap kebenaran Al-Qur'an dan risalah Nabi Muhammad saw.

Ayat 18-21 menggambarkan kitab orang-orang beriman yang disebut 'Illiyyūn, tempat amal mereka dicatat, disaksikan oleh malaikat dekat Allah.

Ayat 22-28 menjelaskan kenikmatan bagi orang beriman: mereka duduk di atas dipan, menikmati surga dengan anak-anak, bidadari, makanan, minuman, dan minuman tasnīm yang suci. Mereka diberi minuman khamar murni yang tidak memabukkan, tersimpan rapi, menandakan kemurnian dan kedekatan dengan Allah. Orang yang taat dan beribadah giat akan lebih cepat melintasi aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, jembatan di atas api neraka, menuju kenikmatan abadi.

Ayat 29-32 menggambarkan perilaku orang kafir terhadap orang mukmin, yaitu menertawakan, mengejek, dan memperolok karena keyakinan mereka bertentangan dengan warisan nenek moyang. Mereka menganggap orang beriman sesat karena meninggalkan penyembahan berhala.

Ayat 33-36 menegaskan bahwa orang kafir tidak berkuasa atas mukmin. Pada hari kiamat, giliran orang beriman menikmati surga dan menertawakan orang kafir yang dahulu mengejek mereka. Mereka melihat bahwa azab yang diterima orang kafir hanyalah balasan setimpal atas perbuatan mereka, sesuai prinsip keadilan Allah, yaitu yang baik dibalas baik, dan sebaliknya yang jahat dibalas jahat.

Asbabun Nuzul Surat Al-Mutaffiffin

Menurut buku Juz Amma Tajwid Berwarna & Terjemahannya, Imam Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat 1-3 Surat Al-Mutaffiffin turun ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati sebagian penduduk Madinah suka curang dalam menimbang dan menakar. Ayat ini turun sebagai peringatan keras bagi mereka. Setelah itu, masyarakat Madinah justru menjadi lebih jujur dalam bertransaksi.

Sementara itu, ayat 13 turun terkait An-Nadr bin Al-Harits, yang menurut Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq termasuk salah satu tokoh Quraisy yang memusuhi Rasulullah SAW. Ia pernah belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, seperti Rustum dan Isfandiyar, di Al-Hirah. Ketika Rasulullah mengajak kaumnya mengingat Allah dan memperingatkan hukuman bagi yang lalai, An-Nadr duduk di tempat yang sama setelah Rasulullah pergi dan berkata kepada kaumnya, "Demi Allah, aku lebih pandai berbicara daripada Muhammad. Mari dengarkan kisah-kisah raja-raja Persia yang lebih menarik daripada perkataan Muhammad!" Ia mencoba menyaingi dan meremehkan ucapan Rasulullah dengan menyebarkan cerita-cerita sejarah Persia. kata di ayat pertama, yang menurut Tafsir Quran Kemenag berarti "Orang-orang yang curang", yakni mereka yang berbuat curang dalam menakar, menimbang, dan memberi sedikit, namun meminta lebih banyak.

Selain itu, Menurut buku Tadabur Al-Qur'an: Menyelami Makna Al-Qur'an dari Al-Fatihah Sampai An-Nas karya Syaikh Adil Muhammad Khalil, surat Al-Mutaffiffin diawali dengan ancaman bagi golongan yang curang ini karena keburukan perbuatan mereka dan besarnya dosa yang mereka lakukan.

Surat ini mengajarkan pentingnya kejujuran, khususnya dalam berdagang, menekankan keadilan, menunaikan hak orang lain, serta mengingatkan konsekuensi perbuatan curang di akhirat.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads