Sains Jelaskan Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah Saat Dikejar Firaun

Sains Jelaskan Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah Saat Dikejar Firaun

Tia Kamilla - detikHikmah
Selasa, 24 Mar 2026 19:00 WIB
Biblical and religion vector illustration series, Moses held out his staff and the Red Sea was parted by God
Ilustrasi Nabi Musa membelah Laut Merah. Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Cara Nabi Musa AS membelah Laut Merah selama ini dikenal sebagai mukjizat besar dalam sejarah kenabian. Peristiwa tersebut juga menarik perhatian para ilmuwan yang mencoba menjelaskan kemungkinan proses alam di baliknya.

Dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Musa AS diceritakan saat beliau dan Bani Israil dikejar oleh Firaun hingga tiba di tepi laut. Atas izin Allah SWT, laut pun terbelah sehingga mereka dapat menyeberang dengan selamat.

Sejumlah peneliti kemudian mengkaji fenomena ini dari sisi ilmiah, termasuk kemungkinan pengaruh angin kencang dan kondisi geografis wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, bagaimana penjelasan ilmuwan dan bagaimana kisah lengkapnya dalam Al-Qur'an? Simak penjelasannya berikut.

Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah Menurut Ilmuwan

Sejumlah penelitian ilmiah mencoba menjelaskan bagaimana Nabi Musa AS membelah Laut Merah ketika dikejar Firaun. Kajian ini melihat kemungkinan adanya proses alam yang terjadi pada saat itu.

ADVERTISEMENT

Mengutip The Guardian, studi yang dilakukan oleh National Center for Atmospheric Research (NCAR) bersama University of Colorado Boulder menggunakan simulasi komputer mengkaji kemungkinan terjadinya fenomena tersebut secara alami. Hasil simulasi menunjukkan perpaduan angin timur yang sangat kuat dan pergerakan gelombang berpotensi membentuk jalur daratan kering yang bisa dilalui manusia.

Carl Drews dari NCAR, penulis utama studi tersebut, menjelaskan simulasi komputer memperlihatkan angin timur yang bertiup sepanjang malam dapat mendorong air ke arah pantai utara Mesir. Dorongan ini membuka daratan berlumpur sehingga orang-orang dapat melintas sebelum air kembali menutup area tersebut.

Dalam riset itu, para peneliti memanfaatkan data geografi kuno untuk memperkirakan lokasi dan kedalaman saluran air di delta Nil pada masa lampau. Mereka menemukan bahwa angin dengan kecepatan sekitar 101 kilometer per jam dapat membentuk jembatan darat yang cukup tinggi dan kering dalam waktu kurang lebih empat jam.

"Laut yang membelah bisa dimengerti melalui pergerakan air yang dinamis. Kekuatan angin menggerakkan air sesuai dengan hukum fisika, menciptakan areal yang aman dilewati dengan air di kedua sisi. Kemudian air kembali lagi ke tempatnya semula," ujar Drews.

Selain teori angin, ada pula penelitian lain yang menyinggung kemungkinan tsunami sebagai penyebab surut dan naiknya air Laut Merah. Namun, penjelasan ini dinilai kurang sesuai dengan gambaran dalam kitab suci yang menyebut laut terbelah secara bertahap dalam satu malam.

Para peneliti juga mengajukan dugaan lokasi terjadinya peristiwa tersebut. Mereka memperkirakan kejadian itu berlangsung di bagian utara Mesir, yang kini berada di sekitar wilayah Port Said, dekat ujung Terusan Suez.

Sementara itu, tim ilmuwan dari University of Leicester, Inggris, menyebut terbelahnya Laut Merah kemungkinan dipicu oleh empat kondisi alam sekaligus, yakni gelombang negatif, angin timur, pasang surut, dan gelombang Rossby.

Gabungan keempat faktor tersebut dinilai terjadi secara bersamaan dan saling mendukung, sehingga permukaan air laut dapat tersibak dan membentuk jalur yang bisa diseberangi Nabi Musa AS dan para pengikutnya.

Analisis mereka menunjukkan bahwa fenomena meteorologi berperan besar dalam memicu kondisi ekstrem tersebut. Angin yang sangat kuat dan bertiup terus-menerus dapat menekan permukaan air di satu wilayah sekaligus, sehingga air terdorong dan menumpuk ke arah berlawanan.

Dorongan angin inilah yang kemudian membuka jalur kering, sebelum akhirnya air kembali seperti semula.

"Kondisi itu telah banyak didokumentasikan, termasuk di delta Sungai Nil pada abad ke-19 ketika angin kencang mendorong air setinggi sekitar lima kaki dan membuka sebuah lahan kering," kata Rebekah Garratt dan Rikesh Kunverji, para peneliti dalam laporan berjudul How did God part the Red Sea?

Meski berbagai penelitian telah memberikan penjelasan dari sisi sains, banyak pihak yang menegaskan peristiwa terbelahnya Laut Merah tetap dianggap mukjizat. Kejadian ini menunjukkan kekuasaan Tuhan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat ilmu pengetahuan.

Kisah Nabi Musa Membelah Laut Merah Saat Dikejar Firaun

Nabi Musa AS dikenal dengan berbagai mukjizat, salah satunya yang paling terkenal adalah membelah Laut Merah saat dikejar pasukan Firaun.

Dikutip dari buku Agama Islam karya Hj Hindun Anwar, peristiwa ini berawal ketika Nabi Musa AS menerima wahyu pertama langsung dari Allah SWT. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk melempar tongkatnya, dan atas izin-Nya, tongkat itu berubah menjadi ular besar. Mukjizat ini menjadi tanda kenabian Nabi Musa AS dan membuat banyak orang kagum.

Kabar tentang mukjizat tersebut sampai ke telinga Firaun. Firaun menjadi marah dan menantang Nabi Musa AS dengan memanggil para ahli sihirnya. Ia berkata, "Hai Musa, jika kamu memang benar, coba kamu buktikan pada ahli sihir ini."

Para ahli sihir menunjukkan kemampuan mereka, seperti mengubah tali menjadi ular, tapi Nabi Musa AS tetap tenang. Tanpa ragu, ia melempar tongkatnya. Tongkat itu berubah menjadi ular besar yang menelan semua ular kecil milik para ahli sihir.

Melihat mukjizat tersebut, para ahli sihir sangat terkejut. Setelah kejadian itu, mereka pun beriman kepada Allah SWT dan menjadi pengikut Nabi Musa AS.

Kabar ini membuat Firaun marah besar. Ia langsung memerintahkan tentaranya untuk mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya hingga ke Laut Merah.

Saat itu, tidak ada jalan lain kecuali menyeberangi laut yang dalam, sementara pasukan Firaun terus mendekat dan mengejar.

Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Laut Merah itu terbelah, membentuk jalan kering yang bisa dilalui Nabi Musa AS dan para pengikutnya.

Mereka berhasil menyeberang dengan selamat. Sesampainya di seberang, Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya lagi, dan laut itu menutup kembali, menenggelamkan Firaun beserta tentaranya.

Menurut buku Menguak Rahasia Sejarah Dunia: Membongkar Misteri Sejarah di Berbagai Penjuru Dunia karya Respati Yuwana, peristiwa membelah Laut Merah diperkirakan terjadi sekitar 3.500 tahun yang lalu.

Beberapa peneliti menemukan sisa kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga berasal dari pasukan Firaun. Penemuan ini membantu memperkuat bukti sejarah terkait mukjizat Nabi Musa AS.

Dalil Nabi Musa Membelah Laut Merah

Kisah Nabi Musa AS membelah Laut Merah saat dikejar Firaun disebutkan di beberapa ayat dalam Al-Qur'an.

1. Surah Al-Baqarah Ayat 50

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

Artinya: "(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya)."

2. Surah Taha ayat 77

وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى

Artinya: "Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir (akan tenggelam)'."

3. Surah Ash-Syu'ara ayat 63-67

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya: "Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut dengan tongkatmu itu." Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman."




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads