Puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang dapat umat Islam kerjakan setelah Hari Raya Idulfitri. Amalan ini memiliki keutamaan yang sangat besar, setara dengan berpuasa selama satu tahun.
Diriwayatkan oleh Abu Ayub Al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِنَّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian ia iringi dengan (puasa) enam (hari) di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun." (HR Muslim)
Lantas, bagaimana hukumnya jika lupa niat puasa Syawal di malam hari? Apakah puasanya masih sah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, umat Islam perlu memahami perbedaan antara puasa sunnah dan wajib, terutama dalam masalah niat. Berikut penjelasan lengkapnya.
Hukum Niat Puasa Sunnah Siang Hari
Dijelaskan dalam buku 125 Masalah Puasa oleh Muhammad Anis Sumanji, salah satu perbedaan puasa wajib dengan puasa sunnah terletak pada niatnya. Dalam puasa wajib, niat dibaca pada malam hari, sementara dalam puasa sunnah niat boleh dibaca pada pagi harinya.
Niat puasa sunnah, seperti puasa syawal tidak harus tabyit (sebelum fajar) sehingga boleh dilakukan secara mendadak, meski sebelumnya tidak ada niat untuk berpuasa.
Lebih lanjut, dalam buku Fiqih Puasa susunan M. Hasyim Ritonga dikatakan, niat puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari sebelum tergelincir matahari, dengan syarat belum melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum, jimak, kufur, haid, nifas, gila, dan sebagainya.
Dalil dibolehkannya niat puasa sunnah di siang hari, bersandar pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ، فَقُلْنَا : لا قَالَ: فَإِنِّى إِذَا صَائِمِ، ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِي لَنَا حَيْسُ، فَقَالَ: أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ
Artinya: "Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, 'Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata: Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan? Kami pun menjawab: Tidak ada. Beliau pun berkata: Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.' Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, 'Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung). Lantas beliau bersabda: Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa. Lalu beliau menyantapnya'." (HR Muslim)
Kadar M. Yusuf dalam buku Tafsir Ayat Ahkam memaparkan pendapat para ulama empat mazhab terkait perbedaan waktu niat puasa. Imam Malik berpendapat niat puasa wajib dilakukan di malam hari sebelum fajar, baik puasa wajib maupun sunnah.
Sementara itu, Imam Asy-Syafi'i berpendapat niat puasa wajib dilakukan pada malam hari sebelum waktu fajar dan niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah fajar.
Lain halnya dengan Abu Hanifah, ia berpendapat niat puasa wajib maupun sunnah boleh dilakukan setelah fajar dengan syarat jika puasa tersebut memiliki waktu yang telah ditentukan, seperti puasa Ramadan dan puasa nazar pada waktu tertentu. Namun, jika puasa tersebut merupakan puasa wajib yang tidak memiliki waktu tertentu, maka niat harus dibaca pada malam hari sebelum fajar.
Batas Waktu Dibolehkannya Niat Puasa Sunnah Siang Hari
Dinukil dari buku Fiqih Niat karya Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Abu Hanifah dan kalangan pengikutnya berpendapat boleh melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari, namun membatasinya hingga pertengahan siang sebagai batas akhir.
Sementara itu, Imam Syafi'i dalam mazhab qadimnya sepakat dan berpendapat sah puasa seseorang yang melakukan niat setelah waktu zawal. Mereka berpendapat, kapan pun sah dengan syarat tidak bersambung terbenam matahari dan ada sisa sesaat walau seminimal mungkin untuk membaca niat.
Begitu pun mazhab Hambali, mereka berpendapat sah puasa sunnah dengan niat di siang hari, baik sebelum waktu zawal maupun sesudahnya. Pendapat inilah yang terkuat, karena tidak membedakan antara waktu zawal dan sesudahnya.
(kri/kri)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat