Satu Jendela di Masjid Nabawi Selalu Terbuka, Raja Arab pun Tak Berani Menutup

Satu Jendela di Masjid Nabawi Selalu Terbuka, Raja Arab pun Tak Berani Menutup

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Rabu, 29 Apr 2026 05:00 WIB
A majestic view of the green dome and the minarets of the Prophets Mosque, al-Masjid an-Nabawi, in the province of al-Madinah al-Munawwarah.
Masjid Nabawi di Madinah. Foto: Getty Images/Mawaddah Fauziah
Jakarta -

Di Masjid Nabawi terdapat satu jendela yang selalu terbuka. Bahkan, Raja Arab pun tak berani menutupnya. Kabarnya, jendela ini sudah terbuka selama 1.400 tahun.

Jendela ini memiliki kaitan sejarah yang erat dengan Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW. Ketika rumahnya harus dibongkar untuk perluasan Masjid Nabawi, beliau sempat merasa keberatan. Namun, akhirnya ia menyetujui pembongkaran tersebut dengan syarat dibuatkan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah makam Rasulullah SAW.

Riwayat Singkat Hafshah binti Umar

Dinukil dari buku Teladan Kebahagiaan dari Rumah Tangga Kenabian karya Ahmad Husain Fahasbu, Hafshah memiliki nasab lengkap Hafshah binti Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdillah bin Qurth bin Razzah bin Adiy bin Ka'ab bin Luay. Sementara ibunya bernama Zainab bin Madz'un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzaqah bin Jamh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum berumah tangga dengan Rasulullah SAW, Hafshah adalah istri seorang sahabat bernama Khunais bin Hudafah. Ia merupakan veteran Perang Badar dan wafat di Madinah pascaperang. Sejak saat itu, Hafshah menjadi seorang janda.

Dikutip dari buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasul karya A.R. Shohibul Ulum, Hafshah dikenal sebagai wanita yang memiliki ilmu, pemahaman, dan ketakwaannya. Ia menjadi rujukan bagi sebagian besar sahabat di bidang hadits dan ibadah.

ADVERTISEMENT

Bahkan, Khalifah Abu Bakar memilih Hafshah untuk menjaga lembaran-lembaran Al-Qur'an yang telah ia kumpulkan. Khalifah Abu Bakar memilihnya karena, sifat-sifat mulia yang ada dalam diri Hafshah, yaitu takwa, berilmu, ahli puasa, dan bisa baca tulis, padahal kemampuan tersebut belum lazim dimiliki kaum perempuan.

Kisah Jendela di Masjid Nabawi yang Selalu Terbuka

Kisah ini berawal dari sebuah janji seorang ayah kepada putrinya. Bermula pada 17 H, saat wilayah kekuasaan Islam berkembang pesat, Masjid Nabawi tak lagi mampu menampung jumlah jemaah yang kian membanyak. Menghadapi situasi ini, Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk melakukan perluasan masjid.

Namun, di sebelah selatan makam Nabi, berdiri rumah putrinya, Hafshah binti Umar, yang juga dikenal sebagai Ummul Mukminin, Istri Rasulullah SAW. Rumah tersebut penuh dengan kenangan Hafshah bersama Rasulullah SAW. Namun, demi kepentingan umat Islam rumah tersebut harus dirobohkan.

Pada awalnya, Hafshah menolak keras. Ia menangis dan tidak mau meninggal rumahnya. Khalifah Umar pun harus turun tangan dan berdiskusi berkali-kali, namun putrinya tetap tidak mau merelakan rumah tersebut. Bahkan, saran dari para sahabat, termasuk Sayyidah Aisyah ditolak mentah-mentah.

Setelah melalui pertimbangan selama beberapa malam, Hafshah menyetujui rencana perluasan masjid dengan syarat tertentu. Ia ingin pindah ke kamar milik saudaranya, Abdullah, yang terletak tepat di samping rumah aslinya. Namun, ia ingin dibuatkan sebuah jendela yang dibiarkan terbuka terus-menerus, supaya ia tetap bisa memandang makam Rasulullah SAW.

Jendela tersebut memiliki beberapa nama, Imam Asy-Suyuthi menyebutnya dengan "Jendela Umar bin al-Khattab", sedangkan Ibnu Katsir menyebutnya dengan "Jendela Keluarga Umar".

Hingga saat ini, pemerintah Arab Saudi tidak pernah menutup jendela tersebut dan menjaga janji Khalifah Umar beserta putrinya.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads