Kirab hingga Pawai Obor, 7 Tradisi Memperingati Tahun Baru Islam di Indonesia

Kirab hingga Pawai Obor, 7 Tradisi Memperingati Tahun Baru Islam di Indonesia

Devi Setya - detikHikmah
Sabtu, 06 Jun 2026 16:09 WIB
Kirab hingga Pawai Obor, 7 Tradisi Memperingati Tahun Baru Islam di Indonesia
ilustrasi pawai obor (Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah)
Jakarta -

Tahun Baru Islam atau 1 Muharram menjadi salah satu momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya diisi dengan ibadah dan doa, tetapi juga diramaikan oleh berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang berkembang di berbagai daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum dari arsip BeritaKlik, berikut tujuh tradisi yang sering dilakukan masyarakat Indonesia dalam memperingati Tahun Baru Islam.

1. Pawai Obor

Pawai obor menjadi salah satu tradisi paling populer dalam menyambut Tahun Baru Islam di berbagai daerah Indonesia.

ADVERTISEMENT

Biasanya, masyarakat berkumpul pada malam 1 Muharram sambil membawa obor yang terbuat dari bambu. Mereka berjalan mengelilingi kampung atau lingkungan sekitar sambil melantunkan sholawat, takbir, dan doa.

Tradisi ini banyak ditemukan di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Selain menjadi simbol semangat menyambut tahun baru Hijriah, cahaya obor juga dimaknai sebagai lambang penerangan dan petunjuk menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

2. Pengajian dan Doa Bersama

Tradisi yang hampir selalu dilakukan saat Tahun Baru Islam adalah pengajian dan doa bersama.

Masjid, mushola, pondok pesantren, hingga lembaga pendidikan Islam biasanya menggelar kegiatan keagamaan berupa pembacaan ayat suci Al-Qur'an, ceramah agama, zikir, dan doa akhir tahun serta awal tahun Hijriah.

3. Kirab Budaya 1 Suro di Jawa

Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, Tahun Baru Islam sering dikaitkan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa.

Salah satu tradisi yang terkenal adalah kirab budaya yang digelar oleh berbagai keraton dan masyarakat setempat. Peserta kirab biasanya mengenakan pakaian adat dan berjalan mengelilingi kawasan tertentu sambil membawa berbagai simbol budaya.

Di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kirab malam 1 Suro menjadi agenda budaya yang selalu menarik perhatian masyarakat.

4. Tradisi Bubur Suro

Masyarakat di beberapa daerah Jawa, Madura, dan Sumatra memiliki tradisi memasak Bubur Suro saat Tahun Baru Islam.

Bubur ini biasanya dibuat dari campuran beras, santan, kacang-kacangan, dan berbagai bahan lainnya. Setelah dimasak, bubur dibagikan kepada tetangga, kerabat, atau masyarakat sekitar.

Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

5. Tabuik di Sumatra Barat

Di wilayah Pariaman, Sumatra Barat, terdapat tradisi budaya yang dikenal dengan nama Tabuik.

Festival Tabuik merupakan tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun dan biasanya dilaksanakan pada bulan Muharram.

Prosesi ini menampilkan replika bangunan besar yang diarak oleh masyarakat sebelum akhirnya dilarung ke laut. Tradisi tersebut memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan peringatan peristiwa Karbala.

Saat ini, Tabuik tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata.

6. Tradisi Sedekah dan Santunan Anak Yatim

Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena itu, banyak masyarakat memanfaatkan momen Tahun Baru Islam untuk meningkatkan amal kebajikan.

Salah satu tradisi yang sering dilakukan adalah memberikan santunan kepada anak yatim, kaum dhuafa, dan masyarakat yang membutuhkan.

7. Tradisi Ngadulang

Salah satu tradisi yang masih lestari di kalangan masyarakat Sunda adalah Ngadulang, sebuah perayaan yang digelar untuk menyemarakkan datangnya 1 Muharram.

Tradisi ini masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Sukabumi. Setiap memasuki Tahun Baru Hijriah, masyarakat bersama pemerintah daerah mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan partisipasi warga sebagai bentuk syukur sekaligus pelestarian budaya lokal.

Ngadulang identik dengan kemeriahan suara bedug yang ditabuh secara bersama-sama. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara yang berpusat pada seni tabuh bedug, salah satu tradisi Islam yang telah lama berkembang di Nusantara.




(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads