Rahasia di Balik Arab Saudi yang Tidak Pernah Dijajah Bangsa Eropa

Rahasia di Balik Arab Saudi yang Tidak Pernah Dijajah Bangsa Eropa

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 11 Jun 2026 08:45 WIB
A Saudi Arabian flag flies on Saudi Arabias consulate in Istanbul on October 4, 2018. - Jamal Khashoggi, a veteran Saudi journalist who has been critical towards the Saudi government has gone missing after visiting the kingdoms consulate in Istanbu
Bendera Arab Saudi (Foto: AFP/OZAN KOSE)
Jakarta -

Sejarah mencatat mayoritas negara di dunia pernah merasakan pahitnya masa penjajahan oleh kekuatan asing. Namun, hal ini ternyata tidak berlaku bagi Arab Saudi.

Negara di Timur Tengah yang menjadi pusat lahirnya agama Islam ini tidak pernah menjadi koloni formal bangsa Eropa sebagaimana dialami banyak negara di Asia dan Afrika.

Padahal jika menilik sejarahnya, wilayah Arab Saudi sempat menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) selama ratusan tahun, serta memiliki hubungan yang sangat dekat dengan negara adidaya kala itu, Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa rahasia di balik ketangguhan Arab Saudi hingga tak pernah dijajah?

ADVERTISEMENT

Dilansir dari World Atlas, titik balik bertahannya kedaulatan wilayah ini terjadi pada tahun 1915. Kala itu, Kerajaan Inggris menandatangani Perjanjian Darin dengan Abdulaziz Al Saud. Perjanjian tersebut menempatkan wilayah kekuasaan Abdulaziz Al Saud di bawah perlindungan Inggris (protektorat), tetapi bukan sebagai koloni atau wilayah jajahan.

Sebagai imbalannya, Inggris memberikan dukungan kepada sejumlah pemimpin Arab, termasuk Abdulaziz Al Saud, dalam dinamika politik dan militer yang turut mempercepat berakhirnya pengaruh Kesultanan Utsmaniyah di kawasan Arab.

Abdulaziz Al Saud, yang juga dikenal luas sebagai Ibnu Saud, kemudian melakukan serangkaian peperangan taktis untuk menaklukkan dan mempersatukan wilayah-wilayah di Jazirah Arab. Menurut Encyclopedia Britannica, pada 23 September 1932, Ibnu Saud resmi mengeluarkan dekrit untuk menyatukan wilayah Najd dan Hijaz ke dalam Kerajaan Arab Saudi. Pembentukan Kerajaan Arab Saudi menandai lahirnya negara Saudi modern yang kemudian memperoleh pengakuan dari berbagai negara di dunia sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Pada masa-masa awal berdiri, pendapatan negara Arab Saudi sangat bergantung pada sektor ziarah keagamaan (haji dan umrah), bea cukai, serta pajak. Namun, pemasukan dari sektor-sektor ini terus menurun. Menghadapi situasi sulit tersebut, Ibnu Saud memprakarsai eksplorasi minyak bumi di negerinya.

Ia kemudian menandatangani konsesi pertamanya dengan perusahaan minyak asal Amerika Serikat, Standard Oil Company of California. Sayangnya, roda produksi minyak sempat mogok dan bahkan hampir berhenti total beroperasi selama Perang Dunia II berkecamuk. Kondisi ini sempat membuat kondisi keuangan Ibnu Saud kelabakan hingga hampir bangkrut.

Selama sebagian besar Perang Dunia II, Arab Saudi mengambil posisi netral dan tidak terlibat langsung dalam pertempuran, meskipun pada tahap akhir perang negara tersebut bergabung dengan pihak Sekutu. Keputusan ini berbuah manis, karena menjelang akhir perang, eksploitasi dan produksi minyak bumi di sana kembali berlanjut hingga mengubah nasib negara tersebut menjadi salah satu yang terkaya di dunia.

Menurut sebuah tulisan yang diterbitkan oleh Arab News pada 1 April 2003 lalu, warga Arab Saudi sangat membenci segala bentuk penjajahan. Sentimen ini begitu kuat, hingga di masa modern, membuat sejumlah kalangan di Arab Saudi memandang perang Irak sebagai bentuk campur tangan asing yang sulit dibenarkan.

Sebagai catatan tambahan, Arab Saudi tidak sendirian di kawasan tersebut. Selain Arab Saudi, negara tetangga seperti Iran dan Afghanistan juga sering disebut ebagai negara yang tidak pernah menjadi koloni formal kekuatan Barat. Kekuatan Barat, termasuk Inggris dan Rusia, memang pernah berulang kali berupaya masuk dan menaklukkan kedua wilayah tersebut, namun selalu berujung pada kegagalan.




(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads