Sekitar abad ke-7 Masehi, sosok Ratu Shima menjadi perbincangan dunia. Namanya viral sampai membuat penasaran salah seorang raja Arab.
Ratu Shima adalah penguasa Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah. Dulu wilayah Indonesia masih bernama Nusantara. Pusat Kerajaan Kalingga diyakini berada di wilayah yang kini dikenal dengan Jepara.
Kalingga yang juga disebut Keling atau Holing adalah kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha. Kemasyhuran Kerajaan Kalingga tak lepas dari sosok Ratu Shima yang memimpin sejak 674 hingga 695 M, menurut buku Cerita Rakyat di Jepara karya Vanessa Almayra dan Erna Zumrotun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok Ratu Shima yang Populer hingga Jazirah Arab
Ratu Shima lahir pada 611 M atau sezaman dengan Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam Sandyakala: Kejayaan dan Kemasyhuran Kerajaan Nusantara oleh Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti, sumber literatur Crivijaya de Cailendra-en de Sanjayavamsa karya Frederik David Kan Bosch dari Belanda mengatakan Ratu Shima adalah putri dari Dinasti Syailendra, penganut Budha Mahayana yang lahir di Kerajaan Sriwijaya.
Ratu Shima adalah permaisuri Prabu Kartikeyasingha yang merupakan penguasa Kalingga. Setelah sang suami wafat, Ratu Shima melanjutkan memimpin Kalingga. Ia bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.
Sosok Ratu Shima dikenal luas sebagai pemimpin yang sangat tegas. Pemerintah Kalingga di bawah Ratu Shima menerapkan model kejujuran mutlak. Ratu Shima mengeluarkan maklumat agar masyarakat menjalani kehidupannya dengan kejujuran (kepercayaan tinggi), setiap orang memiliki hak dan kewajiban dan tidak boleh ada yang melanggarnya.
Berita dari China mengabarkan bahwa hukum dan keadilan Kerajaan Holing diterapkan dengan sangat tegas oleh Ratu Shima. Siapa pun yang terbukti melanggar akan mendapat hukuman setimpal dengan kesalahannya. Contohnya siapa yang mencuri akan dipotong tangannya.
Berita kerajaan itu tersebar luas ke telinga orang-orang Arab yang dikenal dengan Ta-Shih. Diceritakan dalam buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Deni Prasetyo, Raja Ta-Shih ingin melihat kebenaran berita yang dia dengar. Raja Ta-Shih lantas mengirim pundi-pundi berupa emas dan meletakannya di tengah jalan.
Benar saja. Tak seorang pun di Kalingga menyentuh emas itu. Setiap melewatinya, mereka menyingkir dan tak berniat mengambilnya. Pundi-pundi itu tetap utuh, tak tersentuh, bahkan tak bergeser sedikit pun selama tiga tahun.
Hingga suatu ketika, putra mahkota Kerajaan Kalingga tak sengaja menginjak pundi-pundi emas itu. Ratu Shima marah bukan main. Dia memerintahkan hukuman mati dijatuhkan pada putra mahkotanya itu.
Namun, para menteri memohon keringanan untuk sang putra mahkota. Akhirnya, Ratu Shima memerintahkan memotong jari-jari kaki putra mahkota yang telah menginjak pundi-pundi itu. Tindakan Ratu Shima ini mencerminkan bukti keadilan dan ketegasannya dalam menegakkan aturan tanpa pandang bulu.
(kri/lus)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan