Kemenag Tegaskan Menag Nasaruddin Tak Bandingkan Siapa pun dengan Fir'aun

Kemenag Tegaskan Menag Nasaruddin Tak Bandingkan Siapa pun dengan Fir'aun

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Kamis, 18 Jun 2026 11:45 WIB
Kantor Kemenag Thamrin Jakarta.
Kantor Kemenag Thamrin Jakarta. Foto: kemenag.go.id
Jakarta -

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menegaskan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tidak pernah membandingkan pihak mana pun dengan Fir'aun. Penegasan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menanggapi narasi yang beredar dan dinilai memberi framing insinuatif terhadap pernyataan Nasaruddin Umar tentang Nabi Musa dan Fir'aun.

Baru-baru ini, Menag Nasaruddin menyampaikan imbauan mengajak pendemo untuk mencontoh Nabi Musa yang berbicara santun saat menasihati Firaun. Namun, narasi yang berkembang di berbagai media sosial kemudian mengarahkan Menag seolah menyamakan pemerintah Indonesia dengan Fir'aun.

Menyikapi narasi tersebut, Kamaruddin Amin meluruskan bahwa Menag hanya mengajak masyarakat agar menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dengan tetap menjaga akhlakul karimah. Pesan itu merujuk pada kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan untuk tetap menggunakan bahasa santun saat memberi nasihat kepada Fir'aun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bukan berarti Menag menyamakan pemerintah dengan Fir'aun. Menag menegaskan bahwa orang seperti Firaun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Lalu Menag melanjutkan dengan menegaskan, apalagi kalau orang yang akan diberi nasihat atau aspirasi itu bukan Fir'aun," tegas Kamaruddin di Jakarta, dilansir dari laman resmi Kemenag, Kamis (18/6/2026).

Kamaruddin juga menyayangkan tindakan sebagian awak media yang dinilai sengaja memotong perkataan Menag Nasaruddin dalam pemberitaannya.

ADVERTISEMENT

"Saya sudah mendengarkan rekaman pernyataan Menag saat ditanya media di Makassar. Dan dalam rekaman itu tegas disebutkan bahwa Menag menutup pernyataan dengan kalimat 'apalagi kalau orang itu bukan Fir'aun'. Frasa ini yang tidak dituliskan dalam banyak narasi dan berita," sambungnya.

Kamaruddin Amin menilai pernyataan Menag justru ingin menempatkan persoalan secara proporsional. Kepada Fir'aun yang dikenal kafir dan zalim saja, Nabi Musa dan Nabi Harun tetap diperintahkan untuk berbicara dengan santun. Karena itu, kata dia, sikap yang sama semestinya juga dikedepankan ketika masyarakat menyampaikan aspirasi kepada Presiden Prabowo, yang merupakan seorang muslim, mukmin, serta sedang menjalankan berbagai program afirmatif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

"Mari hindari memotong kalimat hanya untuk memancing emosi dan memunculkan kesalahpahaman. Mari jauhi upaya adu domba dan tetap jaga persatuan bangsa," ajak Sekjen Kemenag.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, pihak Kemenag menyampaikan transkrip lengkap pernyataan Menag ketika menjawab pertanyaan media di Makassar pada 14 Juni 2026 terkait demo mahasiswa, berikut:

"Tentu (kita) punya kepentingan untuk mengingatkan kepada warga masyarakat, terutama umat beragama. Mari kita tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam melakukan komunikasi, ya kan?

Ya, jadi jangan sampai nanti kita melakukan suatu tujuan yang baik, tapi melalui cara-cara yang kurang baik, akhirnya kontraproduktif, ya kan? Mari kita mencontoh Nabi-lah. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk, tapi tidak menjelekkan... sampai ada ayatnya, kan?

Ya, Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Fir'aun, itu juga ditegaskan untuk menggunakan qaulan layyinan, bahasa yang santun terhadap Fir'aun. Jadi, orang seperti Fir'aun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Apalagi kalau orang itu bukan Firaun, ya kan?"

Jadi, saya pikir sebagai warga bangsa, umat beragama, dalam berbagai hal tetaplah kita mengedepankan akhlakul karimah di dalam menyampaikan gagasan. Enak kan kalau win-win solution? Jangan lose-lose solution. Inilah saya kira. Ya."




(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads