Bagi jutaan jemaah haji dan umrah Indonesia, kerinduan terbesar saat berada di Tanah Suci sering kali bukan sekadar masalah fisik, melainkan urusan lidah. Di tengah dominasi cita rasa Timur Tengah, bisnis kuliner Nusantara tumbuh menjadi ceruk pasar bernilai miliaran riyal.
Peluang emas inilah yang ditangkap secara jeli oleh Muhammad Sarwono Tayibi Alakhir, atau yang akrab dikenal sebagai Chef Omar. Lewat bendera bisnisnya, The Java Signature, mantan kontestan MasterChef Indonesia 2011 ini berhasil mentransformasi bisnis makanan Indonesia di Arab Saudi, dari yang awalnya sekadar warung pelepas rindu menjadi ekosistem bisnis yang menjanjikan.
Salah satu tantangan terbesar katering jemaah umrah adalah keberagaman selera Nusantara. Jemaah asal Jawa, Sumatra, atau Sulawesi memiliki standar rasa yang berbeda-beda. Di sinilah Chef Omar mengambil keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki oleh penyedia katering lokal Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Java Signature menerapkan sistem menu fleksibel (custom request). Jika jemaah merasa bosan atau tidak cocok dengan menu standar hotel maktab, mereka bisa meminta menu spesifik sesuai asal daerah mereka.
"Sebetulnya bukan cuma makanan Indonesia saja, makanan rasa apa pun ketika jemaah minta, saya harus bisa. Tapi untuk autentisitas rasa Indonesia, tetap saya pertahankan," jelas Chef Omar saat ditemui di Madinah, Sabtu (20/6).
Kemampuan ini bukan tanpa dasar. Sebelum menetap selama 11 tahun di Arab Saudi, Chef Omar telah mengantongi pengalaman matang di Jakarta, termasuk 3,5 tahun mengolah masakan Barat (Western) dan 8 tahun mendalami kuliner autentik Tionghoa (Chinese Food). Fleksibilitas inilah yang membuat masakannya dipercaya oleh kalangan pejabat, artis, hingga mantan keluarga presiden saat berkunjung ke Saudi.
Perjalanan bisnis Chef Omar adalah potret pertumbuhan yang masif. Ia memulai langkahnya dari sebuah warung kecil berkapasitas 45 kursi di kawasan bersejarah Gunung Uhud, Madinah. Merespons meledaknya jumlah jemaah umrah pasca-pandemi, lini bisnisnya kini melebar ke sektor katering industri dengan membangun Central Kitchen (Dapur Terpusat).
Bahkan, untuk mendukung rantai pasok kuliner ini, Chef Omar telah menyiapkan lini bisnis transportasi dengan armada mobil sendiri untuk memastikan distribusi makanan tetap segar dan tepat waktu.
Langkah paling berani dari cetak biru bisnis Chef Omar adalah rencananya untuk memecah dominasi Albaik, raksasa ayam goreng cepat saji yang menjadi kiblat kuliner di Arab Saudi. Selama ini, Albaik menjadi destinasi wajib jemaah Indonesia. Namun, di mata seorang chef profesional, ada celah rasa yang bisa dioptimalkan.
Menurutnya, ayam goreng Albaik memiliki bumbu yang cenderung minimalis. Ia melihat ini sebagai peluang untuk membawa formula ayam goreng krispi dengan karakteristik rempah yang lebih kuat, khas lidah Asia.
"Saya ingin membawa UMKM yang ada di Indonesia ke sini untuk memberikan surplus. Skalanya 11-12 dengan Albaik, itu pasti akan terjadi," ujarnya optimistis.
Bagi Chef Omar, mengelola bisnis ayam goreng jauh lebih mudah direplikasi dan dibuat sistem manajemennya ketimbang restoran masakan Padang atau Sunda yang membutuhkan belasan jenis bumbu basah yang rumit.
"Kalau ayam goreng kan tidak sesulit makanan Nusantara yang butuh bumbu banyak. Paling bumbu rempah seperti lada, ketumbar, sama garam, selesai. Tinggal membuat sistemnya, manajemen suplai ayam, dan bumbunya. Saya yakin bisa menyainginya," tegasnya.
Di usianya yang kini menginjak 52 tahun, Chef Omar tidak lagi melihat bisnis ini sekadar sebagai mesin pencetak riyal. Ia memiliki visi besar untuk meninggalkan warisan (legacy) bagi dunia kuliner Indonesia di panggung internasional.
"Rencana saya, kalaupun nanti ada investor, saya ingin di seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) ada nama brand Indonesia: The Java Signature," pungkasnya.
Dengan kombinasi ketajaman membaca pasar jemaah umrah, fleksibilitas menu Nusantara, dan keberanian menantang produk lokal sekelas Albaik, Chef Omar membuktikan bahwa produk kuliner berbasis rasa Indonesia mampu bertarung di kancah global secara mandiri dan profesional.
(lus/lus)

Komentar Terbanyak
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA