Israel Larang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Lima Hari Berselang

Israel Larang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Lima Hari Berselang

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Sabtu, 27 Jun 2026 19:01 WIB
Masjid Al Ibrahimi Hebron
Masjid Al Ibrahimi Hebron (Foto: Getty Images/Artaxerxes Longhand)
Jakarta -

Israel melarang seruan azan di Masjid Ibrahimi di kota Hebron, Tepi Barat. Pelarangan ini telah berjalan selama lima hari berturut-turut.

Hal ini jadi eskalasi terbaru terhadap warga Palestina yang berada di lokasi tersebut. Militer Israel juga mengeluarkan perintah yang melarang direktur masjid Syaikh Mutaz Abu Sneineh dan kepala pengurusnya, Hammam Abu Murkhiya untuk memasuki lokasi tersebut selama 12 hari.

Seruan azan sudah dilarang sejak hari Minggu menurut salah satu sumber Palestina kepada Middle East Eye, laporan ini terbit pada Jumat (26/6/2027). Otoritas Israel menyebutkan pekerjaan pemeliharaan sebagai alasan setelah memulai persiapan memasang atap di atas halaman tengah masjid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada salat, tetapi tidak ada seruan azan," sambung sumber yang enggan disebutkan namanya itu.

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, ruangan tempat azan dikumandangkan berada di bagian masjid yang ada di bawah kendali Israel. Tentara tidak mengizinkan muazin untuk mengaksesnya.

Pada 1994, seorang pemukim Amerika-Israel memasuki Masjid Ibrahimi dan melepaskan tembakan ke arah jemaah Palestina hingga menewaskan 29 orang. Setelah pembantaian tersebut, Israel membagi situs itu dan mengalokasikan hampir 60% untuk penjajah Yahudi dan sisanya untuk muslim.

Sejak saat itu, warga Palestina mengatakan Israel terus memperluas kendalinya atas tempat suci tersebut yang dihormati muslim dan Yahudi sebagai tempat pemakaman Nabi Ibrahim AS, panutan bagi kedua agama tersebut.

Mereka mengatakan Israel telah memperkenalkan serangkaian tindakan yang bertujuan mengurangi kehadiran Palestina sekaligus meningkatkan kendali Yahudi atas situs tersebut. Tindakan-tindakan itu semakin intensif sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023.

Tindakan itu termasuk pembantasan yang lebih ketat terhadap akses jemaah, pengusiran imam dan staf masjid dan pengalahin kendali administratif secara bertahap dari Otoritas Palestina. Masjid Ibrahimi sendiri terletak di Hebron, Tepi Barat bagian selatan yang diduduki Israel sejak 1967. Pendudukan tersebut dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Otoritas Palestina mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "tindakan represif dan sewenang-wenang yang meningkat" yang menargetkan Masjid Ibrahimi. Kementerian tersebut menyatakan memandang pengusiran Abu Sneineh dan Abu Murkhiya dengan keprihatinan yang mendalam.

"Keputusan-keputusan ini merupakan penargetan langsung dan terbuka terhadap administrasi keagamaan resmi masjid dan merupakan upaya serius untuk melucuti kepemimpinan keagamaan dan administratif Masjid Ibrahimi yang sah dan berwenang secara agama," kata kementerian tersebut.

Kementerian menambahkan tindakan-tindakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang meningkat dan sistematis yang bertujuan memperketat kendali Israel atas masjid tersebut. Hisham Sharabati, koordinator di Komite Pertahanan Hebron, mengatakan larangan azan bukanlah hal baru. Ia mengatakan seruan azan telah rutin dilarang pada hari Sabtu dan selama hari raya Yahudi sejak pertengahan tahun 1990-an.

Menurut Sharabati, tentara juga secara sewenang-wenang menolak akses muazin ke ruang azan, sehingga azan yang dijadwalkan tidak terkumandang.

"Terkadang larangan itu diberlakukan lebih ketat, terkadang kurang ketat. Dalam satu bulan, bisa ada 70 hingga 90 azan yang terlewatkan," kata Sharabati.

"Larangan azan telah berlangsung lama. Ini adalah kebijakan lama," imbuhnya.

Namun, ia mengatakan pembatasan telah meningkat secara signifikan sejak pemerintahan Israel saat ini mulai menjabat pada akhir tahun 2022.

"Selama pandemi COVID, pembatasan diberlakukan atas nama kesehatan masyarakat. Kemudian, selama perang, pembatasan dibuat atas dasar keamanan," katanya.

"Namun, bahkan ketika Israel mengizinkan pertemuan publik dengan jumlah tertentu di tempat lain, batasan yang sama tidak dihormati di Masjid Ibrahimi," tambah Sharabati.

Dia juga mengatakan otoritas Israel semakin sering mengusir jemaah di satu-satunya pintu masuk masjid, yang dikendalikan tentara.

"Mereka mengusir orang-orang-pemuda, perempuan, dan lainnya-tanpa memberikan penjelasan yang sebenarnya," tandasnya.




(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads