Azan dikumandangkan sebagai penanda masuk waktu salat. Tahukah kamu, ternyata gema azan tak pernah berhenti selama 24 jam, itu akan selalu sambung-menyambung dari satu tempat ke tempat lainnya di seluruh penjuru bumi!
Fenomena global ini terjadi akibat rotasi bumi dan perbedaan zona waktu yang membuat waktu salat terus bergeser dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dalam buku 99 Fakta Unik dan Ajaib Dalam Islam karya Jaka Perdana Putra, perbedaan waktu timur dan barat di pulau-pulau Indonesia adalah satu jam. Ketika azan selesai berkumandang di Sulawesi, azan akan segera bergema di Jakarta, dan disusul Sumatera. Belum juga berakhir di Indonesia, azan sudah mulai berkumandang di Malaysia, Myanmar, hingga Irak.
Setelah dari Irak, kumandang azan akan terdengar di wilayah Afrika, Mesir, dan Suriah. Setelah itu bergeser ke Sudan dan Somalia hingga seluruh wilayah Afrika. Fenomena ini akan terus berlanjut hingga menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Azan berkumandang lima kali sehari, menandai setiap waktu salat, mulai dari Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, hingga Isya. Di beberapa tempat, misalnya di Arab Saudi, ada juga azan yang dikumandangkan sebelum salat Subuh. Azan ini bertujuan membangunkan umat Islam untuk salat Tahajud atau sahur.
Sekitar 1 jam setelah azan pertama, muazin akan mengumandangkan azan kedua yang menandai masuknya waktu salat Subuh. Dua kali azan Subuh ini juga dijumpai di beberapa daerah Indonesia, meski tidak banyak.
Azan sebelum Subuh dikenal dengan sebutan azan fajar. Tuntunannya jelas terdapat dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah azan Bilal menghalangi salah seorang kalian dari shaumnya, sesungguhnya dia azan pada waktu malam untuk mengingatkan orang yang salat malam kembali istirahat dan membangunkan orang yang tidur." (HR Bukhari)
Dalam riwayat Ibnu Umar dan Aisyah RA juga dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ, فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ", وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لَا يُنَادِي, حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ, أَصْبَحْتَ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: "Sesungguhnya Bilal akan berazan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum berazan." Ibnu Ummi Maktum adalah laki-laki buta yang tidak akan berazan kecuali setelah ada yang berkata, 'Telah masuk waktu subuh, telah masuk waktu subuh'." (Muttafaqun 'Alaih)
Sejarah Azan Berawal dari Mimpi Sahabat
Lafaz azan yang kita dengar saat ini berasal dari kisah luar biasa. Pada awal Islam di Madinah, kaum muslim akan berkumpul di masjid dan menunggu waktu salat tiba. Setelah itu, mereka langsung mendirikan salat, tanpa ada pemberitahuan seperti azan.
Suatu hari, para sahabat membicarakan masalah tersebut. Mereka ingin ada semacam tanda untuk memberitahukan masuknya waktu salat. Ada yang mengusulkan pakai lonceng seperti kaum Nasrani, ada yang usul meniup terompet saja seperti kaum Yahudi. Mendengar itu, Umar RA pun berkata, "Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan salat?"
Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Bilal bin Rabah menyerukan panggilan salat. Kisah ini diceritakan dalam hadits shahih Bukhari.
Adapun, lafaz azan, berasal dari mimpi para sahabat. Diceritakan dalam buku Mendirikan Salat Menegakkan Peradaban karya Ahmad Faisal Marzuki mengacu pada sebuah hadits, Abdullah bin Zaid bermimpi melihat seorang laki-laki memakai dua pakaian hijau membawa naqus (sejenis kentungan). Laki-laki itu kemudian menunjukkan sesuatu yang lebih baik dari naqus untuk memberitahukan masuknya waktu salat, yakni sebuah lafaz azan.
Berikut bunyi hadits selengkapnya:
Dari Abdullah bin Zaid dia berkata, "Rasulullah SAW pernah menginginkan sebuah buq (tanduk untuk ditiup sebagai terompet) dan (tidak jadi, kemudiannya) memerintahkan (untuk dibuatkan) naqus salat telah tiba. Abdullah bin Zaid bermimpi, ia berkata: "Aku melihat seorang laki-laki yang memakai dua pakaian hijau membawa naqus." Lalu aku bertanya kepadanya: "Wahai hamba Allah! Apakah engkau mau menjual naqus itu?" Ia menjawab: "Apa yang ingin kamu perbuat dengan naqus ini?" Aku berkata: "Untuk aku pakai menyeru kepada salat." Lelaki tersebut berkata: "Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik dari itu?" Aku menjawab: "Apakah itu?" Ia berkata: "Ucapkan olehmu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu alā ilaha illallah, asyhadu alā ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, asyhadu anna Muhammadar Rasûlullah. Hayya alash-sholāh, hayya alash-sholah. Hayya alal falah, hayya alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah."
Abdullah bin Zaid menceritakan mimpi tersebut kepada Rasulullah SAW. Ternyata, sahabat lain mengalami mimpi yang sama. Rasulullah SAW pun membenarkan mimpi tersebut. Lafaz tersebut kemudian menjadi panggilan salat, dan untuk pertama kalinya dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah.
(kri/inf)

Komentar Terbanyak
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT