Di gurun Saudi terdapat sebuah kota kuno yang diduga telah ada sejak 4.000 tahun yang lalu. Arkeolog baru merilis hasil temuannya pada 2024.
Selama ribuan tahun, tak ada yang menyangka bahwa di balik hamparan gurun dan oasis di Arab Saudi tersembunyi sebuah kota kuno yang pernah dihuni ratusan orang. Kota itu bernama Al-Natah, sebuah permukiman berbenteng yang diperkirakan telah terkubur selama sekitar 4.000 tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh para arkeolog.
Penemuan Al-Natah menjadi salah satu temuan arkeologi paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, kota ini membuktikan bahwa masyarakat di Jazirah Arab telah mengenal kehidupan menetap, membangun benteng pertahanan, hingga merancang tata kota jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kota Kuno yang Berlokasi di Tengah Gurun Arab
Dilansir dari Daily Sabah, Al-Natah ditemukan di Oasis Khaybar, wilayah Provinsi Madinah, Arab Saudi. Kini kawasan tersebut masih menjadi oasis yang subur, tetapi ribuan tahun lalu ternyata pernah menjadi lokasi berdirinya sebuah kota pada Zaman Perunggu.
Selama berabad-abad, sisa-sisa kota tertutup oleh lapisan tanah, batuan vulkanik, dan vegetasi oasis sehingga nyaris tidak terlihat dari permukaan. Baru setelah penelitian arkeologi selama empat tahun, keberadaan kota ini berhasil dipetakan dan digali.
Dilansir Live Science, hasil penelitian menunjukkan Al-Natah mulai dibangun sekitar 2400 SM. Kota ini berkembang hingga sekitar 2000 SM dan tetap dihuni setidaknya sampai 1500 SM, bahkan kemungkinan bertahan hingga sekitar 1300 SM.
Sebelum Al-Natah ditemukan, banyak sejarawan beranggapan bahwa sebagian besar masyarakat Arab kuno hidup sebagai penggembala nomaden yang berpindah-pindah.
Para peneliti menemukan masyarakat di kawasan tersebut telah membangun permukiman permanen lengkap dengan benteng, jalan, kawasan permukiman, hingga pusat aktivitas masyarakat. Temuan ini mengubah pandangan mengenai bagaimana peradaban awal berkembang di Jazirah Arab.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian arkeolog adalah sistem pertahanan kota. Al-Natah dikelilingi benteng batu dengan ketebalan mencapai 3,5 hingga 6 meter, sementara tingginya diperkirakan sekitar 5 meter.
Di beberapa bagian juga ditemukan menara pengawas yang menunjukkan adanya perencanaan pertahanan yang matang. Benteng sebesar itu menunjukkan bahwa masyarakat saat itu memiliki kemampuan teknik bangunan yang jauh lebih maju daripada dugaan sebelumnya.
Memiliki Pasokan Air di Tengah Gurun
Para arkeolog menemukan sedikitnya tiga sumur di kaki lereng batu yang menjadi sumber utama air bagi penduduk Al-Natah. Selain itu, terdapat beberapa mata air yang memungkinkan masyarakat mengembangkan pertanian sederhana sehingga kehidupan di tengah gurun tetap berlangsung.
Para ahli menduga kota ini menjadi bagian dari jaringan oasis berbenteng yang saling terhubung melalui jalur perdagangan kuno. Jaringan tersebut kemungkinan menjadi cikal bakal Jalur Kemenyan (Incense Route) yang kemudian menghubungkan Arab Selatan dengan kawasan Mediterania melalui perdagangan rempah-rempah, mur, dan kemenyan.
Para peneliti belum mengetahui secara pasti mengapa Al-Natah akhirnya ditinggalkan. Apakah karena perubahan iklim, peperangan, bencana alam, atau alasan lain.
Saksikan Live DetikPagi:
(dvs/kri)

Komentar Terbanyak
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA