Fakta-fakta Kota Kuno Al-Natah yang Tersembunyi 4.000 Tahun di Gurun Arab

Fakta-fakta Kota Kuno Al-Natah yang Tersembunyi 4.000 Tahun di Gurun Arab

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 30 Jun 2026 12:33 WIB
Rekonstruksi visual 3D situs Zaman Perunggu Al-Natah di oasis Khaibar, Arab Saudi.
Rekonstruksi visual 3D situs Zaman Perunggu Al-Natah di oasis Khaibar, Arab Saudi. Foto: Charloux et al
Jakarta -

Penemuan kota kuno Al-Natah di tengah Gurun Arab menjadi salah satu temuan arkeologi paling penting dalam beberapa tahun terakhir. Kota berbenteng yang tersembunyi selama sekitar 4.000 tahun ini ditemukan di Oasis Khaybar, Arab Saudi, dan memberikan gambaran baru mengenai kehidupan masyarakat Jazirah Arab pada Zaman Perunggu.

Dikutip dari Histori Files, Selasa (30/6/2026), selama ini kawasan Arab kuno lebih dikenal sebagai wilayah yang dihuni suku-suku nomaden. Namun, keberadaan Al-Natah membuktikan bahwa masyarakat di wilayah tersebut telah membangun permukiman permanen dengan tata kota yang terorganisasi jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Arab kuno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fakta Kota Kuno Al-Natah

Berikut sederet fakta menarik tentang kota kuno Al-Natah:

1. Tersembunyi di Balik Oasis Khaybar

Mengutip Daily Sabah, kota Al-Natah berada di Oasis Khaybar, sebuah kawasan subur di Provinsi Madinah, Arab Saudi. Selama ribuan tahun, sisa-sisa kota ini tertutup oleh endapan tanah dan vegetasi oasis sehingga keberadaannya nyaris tidak diketahui.

ADVERTISEMENT

Wilayah Khaybar sendiri memiliki nilai sejarah penting. Pada masa Nabi Muhammad SAW, daerah ini dikenal sebagai permukiman Yahudi yang kemudian ditaklukkan oleh kaum muslim pada 628 M. Namun, jauh sebelum peristiwa tersebut, kawasan ini ternyata telah menjadi tempat berdirinya sebuah kota kuno pada Zaman Perunggu.

2. Berusia Sekitar 4.000 Tahun

Berdasarkan hasil penelitian arkeologi, Al-Natah mulai dibangun sekitar 2400 SM. Kota ini terus berkembang hingga sekitar 2000 SM dan masih dihuni setidaknya sampai 1500 SM, bahkan ada indikasi aktivitas permukiman berlangsung hingga sekitar 1300 SM.

Artinya, kota ini telah ada hampir empat milenium sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh para arkeolog modern.

Keberadaan Al-Natah diumumkan pada 2024 setelah tim arkeolog yang dipimpin Guillaume Charloux dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) melakukan penelitian intensif selama empat tahun.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One dan langsung menarik perhatian dunia arkeologi karena memberikan bukti baru mengenai perkembangan masyarakat di Jazirah Arab.

3. Memiliki Benteng Pertahanan yang Kokoh

Al-Natah bukan sekadar permukiman biasa. Kota ini dikelilingi benteng batu dengan ketebalan antara 3,5 hingga 6 meter dan tinggi diperkirakan mencapai 5 meter.

Selain itu, ditemukan pula dua menara besar yang diduga berfungsi sebagai pos pengawasan.

Keberadaan benteng menunjukkan bahwa masyarakat saat itu telah memiliki sistem pertahanan yang baik sekaligus organisasi sosial yang cukup kuat.

4. Dihuni Sekitar 500 Penduduk

Meski ukurannya tidak terlalu besar, Al-Natah diperkirakan dihuni sekitar 500 orang. Para penduduk tinggal di sekitar 50 rumah yang dibangun dengan pola seragam dan dihubungkan oleh jalan-jalan sempit.

Susunan bangunan tersebut memperlihatkan adanya perencanaan tata kota yang teratur, sesuatu yang cukup maju pada masa itu. Penggalian menunjukkan bahwa Al-Natah telah memiliki pembagian kawasan berdasarkan fungsi.

Di dalam kota terdapat kawasan permukiman, distrik pusat yang diduga menjadi lokasi pengambilan keputusan, area pemakaman, jalan-jalan penghubung antarrumah, serta ruang terbuka.

5. Memiliki Sumber Air dan Ditemukan Benda Berharga

Al-Natah memiliki sedikitnya tiga sumur yang berada di kaki tebing batu serta beberapa sumber air lain di sekitar oasis. Ketersediaan air inilah yang memungkinkan masyarakat bertahan hidup sekaligus melakukan kegiatan pertanian sederhana di kawasan tersebut.

Di area ini juga para arkeolog menemukan kompleks pemakaman berupa makam menara bertingkat yang berisi berbagai benda berharga. Beberapa benda yang ditemukan antara lain kapak logam, belati, batu akik, kristal dan berbagai artefak lainnya.

Meski berhasil menemukan berbagai artefak, para arkeolog belum menemukan bukti penggunaan sistem tulisan di Al-Natah. Tidak adanya prasasti atau dokumen tertulis membuat para peneliti harus mengandalkan analisis bangunan, keramik, serta benda-benda peninggalan untuk memahami kehidupan masyarakat kota tersebut.




(dvs/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads