Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, viral mengacungkan jari tengah kepada seseorang saat berkunjung di pabrik mobil di Michigan. Trump menanggapi seseorang yang saat itu meneriakan kata-kata kasar kepadanya.
Dilansir detikNews, insiden itu terjadi saat kunjungan Trump di pabrik Ford F-150 di Detroit, Michigan Selasa (13/1) waktu setempat. Diberitakan AFP Rabu (14/1/2026), mulanya Trump yang mengenakan mantel hitam panjang berjalan di jalan setapak yang posisinya lebih tinggi dan menghadap ke lantai pabrik.
Berdasarkan rekaman yang beredar, setelah beberapa teriakan terdengar, Trump tampak menunjuk ke arah seseorang di lantai pabrik, mengerutkan kening, dan mengucapkan beberapa kata. Puncaknya adalah dia mengacungkan jari tengahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media hiburan AS, TMZ, yang memperoleh video berdurasi 30 detik yang menunjukkan momen tersebut, mengatakan orang tersebut meneriaki Trump sebagai "pelindung pedofil".
Video kedua yang beredar menunjukkan gambar yang lebih dekat dari interaksi yang sama. Video itu menunjukkan apa yang menurut TMZ, sebagai seseorang yang meneriakkan "pelindung paedofil" ke arah Trump.
Dalam video yang dirilis TMZ, Trump tampak merespons dengan menunjuk orang tersebut dan mengucapkan "persetan denganmu" sebanyak dua kali.
Pembelaan Gedung Putih
Gedung Putih merespons insiden tersebut dan membela Trump. Washington menyatakan gestur presiden 79 tahun itu 'tepat'.
"Seseorang yang gila berteriak-teriak dengan kata-kata kasar dalam amarah yang meluap-luap, dan Presiden memberikan respons yang tepat dan tegas," kata Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dalam pernyataannya.
Dalam laporan terpisah, The Washington Post yang dikutip CNN memberitakan, sosok yang meneriaki Trump diidentifikasi bernama TJ Sabula (40), pekerja pabrik Ford tersebut. Sabula dilaporkan diskors dari pekerjaannya sembari menunggu penyelidikan terhadapnya rampung.
Namun, Sabula mengakui dirinya tidak menyesal. "Setelah menegurnya, saya sama sekali tidak menyesal," ucapnya kepada The Washington Post.
Insiden ini terjadi saat Trump menghadapi tuntutan untuk merilis dokumen terkait terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, yang dulu pernah menjadi temannya.
Epstein yang seorang pemodal terkemuka AS, tewas di dalam sel penjara New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks melibatkan perempuan di bawah umur. Kematiannya secara resmi ditetapkan sebagai bunuh diri, namun sejak lama menjadi subjek konspirasi tertentu.
Baru-baru ini, Trump menyetujui undang-undang yang mengatur dirilisnya dokumen kasus Epstein ke publik. Namun Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahan Trump gagal memenuhi tenggat waktu 19 Desember untuk merilis semua dokumennya.
(apu/ams)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Sebut Pelapor Dirinya ke Polisi Lagi Caper ke Presiden
Kronologi Cekcok Ajudan Danrem Jogja Maraton Tanpa BIB Berujung Minta Maaf