6 Peristiwa Penting Bulan Syaban: Diangkatnya Amal Manusia-Perintah Puasa

6 Peristiwa Penting Bulan Syaban: Diangkatnya Amal Manusia-Perintah Puasa

Nur Umar Akashi - detikJogja
Senin, 19 Jan 2026 22:00 WIB
Jadwal Buka Puasa Hari Ini 15 Maret 2025 di Magelang dan Sekitarnya
Ilustrasi turunnya perintah puasa pertama kali di bulan Syaban. Foto: xvector/Freepik
Jogja -

Syaban adalah bulan kedelapan di urutan penanggalan hijriah. Pada hari-harinya, terjadi sejumlah peristiwa penting yang perlu dipahami umat Islam. Apa saja?

Ada baiknya detikers mengetahui dahulu arti Syaban itu sendiri. Dikutip dari buku 32 Faedah Terkait Bulan Syakban tulisan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Syaban berasal dari kata 'tasya'aba' atau 'tafarraqa'.

Kata kerja bahasa Arab itu berarti 'berpencar' atau 'terpisah', merujuk kebiasaan orang Arab mencari air pada bulan Syaban. Ada juga yang berpendapat Syaban berasal dari kata 'sya'aba' yang bermakna 'tampak/jelas'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai mengetahui arti namanya, yuk, cari tahu peristiwa-peristiwa penting Syaban di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Peristiwa Penting Bulan Syaban

1. Pergantian Arah Kiblat

Diringkas dari buku Kisah Para Nabi tulisan Ibnu Katsir, pada bulan Syaban tahun kedua kenabian, ada pergantian arah kiblat untuk umat Islam. Jadi, sebelum mengarah ke Kakbah, umat Islam dulunya sholat menghadap Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis.

Pergantian kiblat ini difirmankan Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."

2. Waktu Turunnya Perintah Puasa

Peristiwa penting Syaban lainnya adalah turunnya perintah puasa. Menurut penjelasan Majella Setyawan dalam buku Perayaan Ramadan: Menyambut Bulan Suci di Indonesia, perintah puasa Ramadhan turun pada bulan Syaban tahun kedua Hijriah, kira-kira tahun 624 Masehi.

Tatkala wahyu itu diberikan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para sahabat tengah sibuk membangun pemerintahan di Madinah. Firman Allah SWT mengenai puasa Ramadhan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS al-Baqarah: 183)

3. Anjuran Sholawat atas Rasulullah SAW

Bukan hanya puasa, Syaban juga merupakan bulan diturunkannya anjuran sholawat atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dilansir NU Online, ayat tentang anjuran ini adalah surat al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Menurut Ibnu Abi Shai al-Yamani, ayat anjuran sholawat ini turun pada bulan Syaban. Pendapat serupa dikemukakan oleh Imam Syihabuddin al-Qasthalani dan Ibnu Hajar al-Asqalani.

4. Momen Diangkatnya Amal Manusia

Pada bulan Syaban, amal manusia diangkat ke hadapan Allah SWT. Dikutip dari buku Ada Apa dengan Bulan Rajab dan Sya'ban? oleh Abu Ubaidah Yusuf, dasarnya adalah hadits:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: "Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Syaban (karena seringnya)?' Beliau menjawab, 'Bulan itu banyak manusia lalai, yaitu antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkat amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan saya ingin untuk diangkat amalku dalam keadaan puasa." (HR an-Nasa'i no 4/4201 dan Ahmad no 5/201. Hadits ini oleh Syaikh al-Albani dihukumi hasan)

Perlu diingat, amalan manusia tidak hanya diangkat pada bulan Syaban saja, tetapi juga pada malam dan siang hari (siklus harian) serta Senin dan Kamis (siklus pekanan).

5. Pernikahan Nabi Muhammad dengan Hafshah

Pada bulan Syaban tahun ke-3 Hijriah, Rasulullah SAW tercatat melangsungkan pernikahan dengan Hafshah radhiyallahu anha. Berdasarkan penjelasan Abdullah Haidir di buku Istri dan Putri Rasulullah SAW, Hafshah RA adalah putri Umar bin Khattab. Ia lahir 5 tahun sebelum Rasulullah diangkat sebagai rasul.

Sebelum menikah dengan sang Khatamul Anbiya', Hafshah sudah pernah membina rumah tangga dengan Khunais bin Huzafah as-Sahmi. Namun, ia meninggal dunia setelah kembali dari Perang Badar akibat luka-luka yang diderita.

Mulanya, Umar meminta Abu Bakar dan Utsman untuk menikahi Hafshah. Namun, keduanya menolak. Maka, Umar mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menceritakan hal itu. Sang rasul bersabda:

يَتَزَوَّجُ حَفْصَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْ عُثْمَانَ ، وَيَتَزَوَّجُ عُثْمَانُ مَنْ هِيَ خَيْرٌ مِنْ حفصة

Artinya: "Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik dari Hafshah." (HR Abu Ya'la no 6)

6. Perang Bani Musthaliq

Menurut uraian di laman NU Online, Perang Bani Musthaliq dikenal dengan sejumlah nama lain, seperti Perang Muraisi, Perang Maharib, dan Perang A'ajib. Perang ini terjadi pada bulan Syaban tahun ke-6 Hijriah. Namun, ada juga yang menyebut tahun ke-5 dan 4 Hijriah.

Perang ini dipicu kabar bahwasanya Bani Musthaliq menghimpun pasukan untuk melawan umat Islam. Nabi Muhammad segera berangkat ke mata air Muraisi yang ada dekat Kota Qudaid. Perang campuh pecah dan umat Islam meraih kemenangan. Menurut Ibnul Qayyim, Perang Bani Musthaliq tidak benar-benar terjadi. Wallahu a'lam bish-shawab.

Dalam peristiwa ini, istri Rasulullah SAW, Aisyah, terkena fitnah. Ringkasnya, ia tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang jatuh. Selain Aisyah, Shafwan bin Mu'atthal juga tertinggal karena mengantuk.

Shafwan lalu menawari Aisyah tumpangan. Momen ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Ubay, seorang gembong munafik, untuk menyebar fitnah. Akibatnya, Aisyah merasa malu dan terpukul hingga Allah SWT menurunkan ketetapan dalam surat an-Nur ayat 11:

اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat."

Itulah 6 peristiwa penting bulan Syaban yang perlu detikers ketahui. Semoga bermanfaat, ya!




(par/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads