Kata Padepokan di Cianjur soal Heboh 'Mandi Celup' Datangkan Jodoh-Kekayaan

Regional

Kata Padepokan di Cianjur soal Heboh 'Mandi Celup' Datangkan Jodoh-Kekayaan

Ikbal Slamet - detikJogja
Kamis, 22 Jan 2026 19:33 WIB
Ritual mandi celup
Ritual mandi 'celup' sebuah padepokan di Cianjur. Foto: Istimewa
Jogja -

Sebuah ritual 'mandi celup' yang dipercaya bisa mendatangkan jodoh serta kekayaan jadi viral di media sosial. Pihak padepokan di Cianjur, Jawa Barat, yang membuat ritual itu angkat bicara.

Dalam video yang beredar, tampak seorang pria tengah berendam di sebuah kolam. Di belakangnya, seorang pria berkopiah hitam memegangi kepala pria tersebut. Sambil melantunkan doa berbahasa Arab, ia menenggelamkan tubuh pria itu ke dalam air selama beberapa detik.

Dilansir detikJabar, narasi dalam video menyatakan bahwa ritual 'mandi celup' berkhasiat memberi jodoh hingga kekayaan. Aktivitas ritual itu diketahui berlokasi di Padepokan Lembah Dzikir, Kampung Salahuni, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak pelak, ritual itu mendapat tudingan dari publik. Pimpinan Padepokan Lembah Dzikir, H Nasrudin, menerangkan ritual itu merupakan riyadhoh, atau latihan spiritual bagi para jemaah.

ADVERTISEMENT

"Peserta yang mondok untuk riyadhoh di tempat kami memang diharuskan menjalankan beberapa hal, mulai dari puasa, zikir, hingga mandi tobat. Yang viral di media sosial itu sebenarnya mandi tobat," kata Nasrudin saat ditemui di padepokannya, Kamis (22/1/2026).

Ia lantas menegaskan bahwa narasi dalam unggahan di media sosial tidak utuh. Nasrudin mengklarifikasi bahwa 'mandi celup' atau mandi tobat adalah bentuk kesiapan diri sebelum menjemput rezeki atau jodoh.

"Intinya mandi itu agar bersih. Kalau sudah bersih, kan, bisa bekerja. Begitu juga cari jodoh, masa tidak mandi dulu? Nanti terlihat kusam, siapa yang mau? Jadi utamanya adalah niat mandi tobat dan membersihkan diri," tuturnya.

Bantah Aktivitas Padepokannya Menyimpang

Kang Jimam, sapaan akrab Nasrudin, membantah aktivitas di padepokannya sesat. Ia menekankan semua kegiatan mempunyai sanad, atau referensi keilmuan yang jelas dari ulama terdahulu.

"Sanadnya jelas, ada riwayatnya. Misalnya soal mandi tobat, puasa kafarat, dan zikir membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali dalam tiga hari," jelasnya.

Ia menyinggung latar belakang keluarganya yang berasal dari kalangan pesantren. "Kalau aktivitas kami sesat, keluarga saya yang paling pertama menegur. Tapi karena tidak sesat, mereka mendukung," tambahnya.

Nasrudin melanjutkan, sejumlah ulama datang dan mengonfirmasi aktivitas padepokannya setelah video tersebut viral. Ia mengklaim para ulama akhirnya memahami setelah pihaknya memberi penjelasan, termasuk referensi kitab yang dipakai.

Ia menuturkan, segala aktivitas di padepokannya bertujuan mengajak umat untuk kembali beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Pada dasarnya di sini adalah mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan diri dari dosa dengan bertobat. Terkait kekayaan dan jodoh, itu karena mereka menjadi pribadi yang lebih baik, tenang, dan percaya diri setelah dari sini, sehingga usaha mereka lebih maksimal. Kalau ibadah maksimal, tentu urusan dunia akan dipermudah," pungkasnya.




(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads