Pondok Bambu Saksi Bisu Bocah di NTT Bunuh Diri Usai Tak Dibelikan Buku

Regional

Pondok Bambu Saksi Bisu Bocah di NTT Bunuh Diri Usai Tak Dibelikan Buku

Ambrosius Ardin - detikJogja
Rabu, 04 Feb 2026 14:51 WIB
Kondisi pondok tempat tinggal Siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT berinisial YBR (10) yang tewas gantung diri di pohon cengkeh.
Kondisi pondok tempat tinggal Siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT berinisial YBR (10) yang tewas gantung diri di pohon cengkeh.(Foto: dok. Gerardus Reo)
Jogja -

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Kabar bocah SD kelas IV di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat bunuh diri usai tak dibelikan buku dan pulpen menuai atensi. Pondok bambu milik neneknya pun menjadi saksi bisu peristiwa tragis itu.

Dilansir detikBali, bocah laki-laki itu tinggal bersama neneknya sejak usia kurang dari 2 tahun. Dia tinggal terpisah dengan orang tuanya karena kondisi ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bocah itu tinggal bersama neneknya yang kini berusia sekitar 85 tahun di pondok berukuran 2x3 meter. Pondok itu berdiri di kebun sang nenek.

ADVERTISEMENT

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, mendatangi pondok tempat bocah itu tinggal bersama sang nenek. Gerardus menyebut kondisi pondok itu memprihatinkan.

Seluruh bangunan pondok mungil itu terbuat dari bambu. Di ruangan 2x3 meter itulah, bocah itu dan sang nenek tidur dan memasak. Tempat tidur dan tungku untuk memasak pun berdampingan.

"Tinggalnya di pondok yang ukurannya sekitar 2x3, rumah kolong, pondok reot lah, yang menurut saya tidak layak untuk tinggal tapi itulah tempat tinggal almarhum sama neneknya," ungkap Gerardus, Rabu (4/2/2026).

"Masak di situ, tidur di situ mereka. Kayak pondok kita di kebun, tidur di situ, di samping itu tugu api," lanjutnya.

Gerardus menyebut pondok itu tidak layak huni. Potret kesederhanaan hidup korban juga terlihat di tempat peristirahatan terakhirnya yang berada di belakang pondok.

"Kuburannya juga sedikit menyedihkan pake tanah semua tidak ada semen," ujar Gerardus lirih.

Sebagai informasi, peristiwa tragis itu terjadi pada Kamis (29/1) lalu. Bocah kelas IV SD itu ditemukan tergantung di pohon cengkih di kebun milik neneknya.

Motif bocah itu nekat bunuh diri diduga karena tak dibelikan buku dan pulpen. Bocah itu pun sempat menuliskan secarik surat untuk ibunya.

Diketahui kondisi ibu bocah itu memang sulit karena menanggung kebutuhan lima anak seorang diri. Sedangkan, ayah korban sudah pisah sejak 10 tahun lalu.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, Selasa (3/2).

Dion menyebut kehidupan ibu korban serba kekurangan. "Hidupnya (ibu korban) susah," ujarnya.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads