Cerita Polos Fendi Bocah Gunungkidul Putus Sekolah demi Rawat Ibu Sakit

Cerita Polos Fendi Bocah Gunungkidul Putus Sekolah demi Rawat Ibu Sakit

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 16 Mar 2026 13:50 WIB
Ahmad Tri Efendi (10), bocah asal Dusun Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, terpaksa putus sekolah demi menunggu ibunya yang terbaring sakit di rumah, Senim (16/3/2026).
Ahmad Tri Efendi (10), bocah asal Dusun Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, terpaksa putus sekolah demi menunggu ibunya yang terbaring sakit di rumah, Senin (16/3/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Ahmad Tri Efendi (10), bocah asal Dukuh Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, terpaksa putus sekolah demi merawat ibunya yang sakit hingga lumpuh. Berikut cerita polos bocah yang akrab disapa Fendi itu saat ditemui wartawan di rumahnya, hari ini.

Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul tengah mengupayakan agar Fendi kembali bersekolah. Meski demikian, anak bungsu dari tiga bersaudara itu tampak masih berat untuk meninggalkan ibunya yang sehari-hari terbaring di tempat tidur.

Pantauan detikJogja, ayah Fendi tampak terbaring di tempat tidur yang berada di ruang tamu. Tampak ayah Fendi sulit untuk berbicara. Sedangkan ibu Fendi berada di kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. Tampak pula Fendi sedang duduk di samping ibunya yang terbaring lemah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fendi pun irit bicara ketika ditanya terkait keinginannya untuk bersekolah kembali. Ia hanya menunjukkan gestur tubuh untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Ngggggg," kata Fendi sembari menundukkan kepalanya ketika ditanya apakah dirinya ingin kembali bersekolah atau tidak, Senin (16/3/2026).

Ketika ditanya apakah karena demi menjaga ibunya, Fendi mengiyakan. Pasalnya, Fendi sangat dekat dengan ibunya yang bernama Siaminah (45).

"Iya (ingin menjaga ibu)," ujar Fendi sambil menganggukkan kepala.

Ahmad Tri Efendi (10), bocah asal Dusun Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, terpaksa putus sekolah demi menunggu ibunya yang terbaring sakit di rumah, Senim (16/3/2026).Ahmad Tri Efendi (10), bocah asal Dusun Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, terpaksa putus sekolah demi menunggu ibunya yang terbaring sakit di rumah, Senim (16/3/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Sehari-hari Fendi menjaga ibunya, dari melayani saat makan dan minum, hingga mengajak mengobrol. Bahkan, Fendi mengaku kerap tidur laut malam karena harus menjaga sang ibu.

"Kasih minum, megang ibu. Kalau tidur kadang jam 11, 12 malam, menunggu ibu tidur dulu," ucapnya lirih.

Disinggung mengenai pelajaran favoritnya, Fendi mengaku senang matematika.

"Senang tambah-tambahan, dulu pernah dapat (nilai) 100," katanya.

"(Cita-citanya) Menjadi polisi," imbuh dia.

Soal hobi, Fendi mengaku senang sepakbola.

"Suka sepakbola, kalau pemain suka sama (Cristiano) Ronaldo," ujarnya.

Awal Fendi Putus Sekolah

Ketua RT 06 Jeruken, Wahono, mengatakan awalnya Fendi juga bersekolah. Akan tetapi, saat kenaikan kelas dari kelas satu ke kelas dua, ibunya mengalami kebutaan dan merembet hingga ke bagian saraf hingga akhirnya lumpuh.

"Karena ibunya sakit, terus Fendi berhenti sekolah. Penyebabnya (putus sekolah) karena tidak ada support dari orang tua, karena kedua orang tuanya sakit. Dan apa-apa kan Fendi tergantung ibunya juga," katanya.

"Jadi karena tidak ada respons untuk pendidikan, sekolah, dorongan dari orang tua berkurang, membuat Fendi inginnya di rumah menunggu ibunya yang sakit," lanjut Wahono.

Terkait perawatan yang Fendi lakukan, Wahono menyebut karena ayah Fendi yakni Slamet (51) juga mengalami sakit pada saraf. Penyakit itut membuat gerak tubuh Slamet menjadi begitu terbatas.

"Fendi selalu merawat ibunya seperti memegangi, dan memberi minum. Kalau lainnya, seperti memberi makan, masih (dilakukan) bapaknya. Jadi Fendi itu bisa membuat ibunya tersenyum," ujarnya.

Wahono juga mengungkapkan bahwa dari pihak sekolah pernah menawari Fendi untuk bersekolah kembali, namun Fendi menolaknya. Begitu pula saat warga yang menawarkan Fendi untuk bersekolah di salah satu yayasan panti asuhan di Bantul.

"Awal-awal dulu dari keluarga, dari sanak saudara, dari sekolah sudah mendatangi untuk membujuk lanjut sekolah, tapi Fedi tetap tidak mau. Dulu dari warga ada yang menawarkan ke yayasan panti asuhan di Bantul dan gratis. Tapi kalau pulang paling tidak satu beberapa bulan sekali dan Fendi tidak mau," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menjelaskan kondisi yang dialami Fendi dan keluarganya. Fendi disebut terpaksa putus sekolah selama tiga tahun demi merawat ibunya yang menderita stroke dan gangguan saraf mata sehingga tidak bisa melihat maupun beraktivitas.

Sedangkan ayah Fendi juga mulai mengalami gangguan penglihatan sejak setahun terakhir. Adapun kakak perempuan Fendi kini masih bersekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul.

"Untuk urusan pendidikan F akan diselesaikan oleh Kemenag melalui pendekatan emosional yang baik, mengingat F menempuh jenjang pendidikan di madrasah," ujar Endah dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026).

"Kakaknya adalah tanggung jawab Dinas Pendidikan, karena kakaknya sekolah di SMP Negeri," sambungnya.

Selain memastikan Fendi bisa lanjut bersekolah, Pemkab Gunungkidul juga memastikan orang tua F mendapat pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan telah berkoordinasi untuk memeriksa hasil pemeriksaan kesehatan orang tua Fendi.




(dil/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads