Keluh Kesah Warga karena Bus Dilarang Parkir di TKP Senopati Jogja

Keluh Kesah Warga karena Bus Dilarang Parkir di TKP Senopati Jogja

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 09 Apr 2026 13:35 WIB
Suasana TKP Senopati, Kamis (9/4/2026).
Suasana TKP Senopati, Kamis (9/4/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Para warga yang sehari-hari mencari nafkah di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, Gondomanan, Kota Jogja, mengungkapkan keluh kesahnya usai kebijakan bus pariwisata dilarang parkir di sana. Mereka mengeluhkan pendapatan yang turun drastis.

Pantauan detikJogja siang ini di TKP Senopati tampak sepi dengan hanya beberapa mobil hingga minibus yang terparkir. Pedagang suvenir yang lapaknya di sisi utara pun tak ada yang buka, hanya 1-2 penjual makanan di sisi selatan yang masih menjajakan dagangannya.

"Keadaannya kalau siang kayak gini, kalau malam kayak kuburan," terang salah satu juru parkir, Slamet saat dijumpai di TKP Senopati, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Kota Jogja sendiri mengumumkan pelarangan bus parkir di TKP Senopati terhitung tanggal 14 Februari 2026 dengan tajuk uji coba. Namun di setiap sudut simpang Gondomanan sudah terpampang pengumuman pelarangan tersebut.

Slamet mengatakan, kebijakan ini meruntuhkan harapannya bersama segenap warga TKP Senopati untuk bisa meraup pendapatan saat libur Lebaran.

ADVERTISEMENT

"Dari puasa sudah nggak ada pemasukan, Lebaran tadinya mau 'balas dendam', eh malah keadaannya kayak gini, wah neng ati ki sesek ngono (di hati nyesek)," ujar Slamet.

"Pemerintah itu H min berapa itu sudah (bilang) uji coba, ngomongnya uji coba. Kita maklum karena mungkin (soal) kemacetan Lebaran ya, tapi ternyata uji cobanya sampe sekarang, sampe kapan kita nggak tahu," sambungnya.

Suasana TKP Senopati, Kamis (9/4/2026).Suasana TKP Senopati, Kamis (9/4/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

TKP Senopati sendiri sebenarnya tidak serta merta ditutup, mobil pribadi hingga minibus masih dibolehkan untuk parkir. Namun kata Slamet, hal itu sama sekali tak bisa membantu warga TKP Senopati menutup kebutuhan sehari-hari.

"Mobil itu aduuh, sekolah rutinitas tiap hari aja nggak nganu, ora nutup. Bus itu rame-ramenya kalau liburan bisa 100-150 bus per hari, keluar masuk. Kalau hari biasa, normal itu 20-30-an ada lah sehari," terang Slamet.

"Kalau yang masuk banyak ya ada lah. (Kalau sekarang?) saya kemarin nggak masuk 3 hari, saya tanya temen saya berapa sehari, dari pagi sampe malem itu Rp 30 ribu, kadang nol," ungkapnya.

Slamet bilang, 14 juru parkir yang terbagi dua sift, menggantungkan hidup tiap harinya di TKP Senopati. Kini mereka hanya bisa menunggu pemerintah memberi penjelasan dan solusi akan nasib mereka ke depannya.

"Harusnya kalau mau ditutup diancang-ancang dulu kayak Abu Bakar Ali, Abu Bakar itu dua tahun diancang-ancang. Kalau mau dikurangi, dibatasi nggak apa-apa, tapi jangan ditutup full," terang Slamet.

Koordinator Becak Senopati, Yanto, mengungkapkan keluh kesah yang sama. Ia yang juga dipercaya warga TKP Senopati untuk menjadi koordinator di tiap kegiatan, mengibaratkan situasi warga TKP Senopati dengan istilah kolaps.

"Dari segi apapun collapse kita, dari pedagang nihil, dari pengasong-pengasong juga, apalagi becak, karena ini dipindah alih juga memindah alih rezeki kita," ungkap Yanto.

"Pedagang lebaran 1 sampai 4 hari masih jualan, tapi kenyataannya kayak gini sepi ndak jualan, ndak jualan lagi," sambungnya.

Yanto pun berharap pemerintah bisa turun dan melihat langsung keadaan warga ke TKP Senopati pasca kebijakan tersebut diberlakukan. Bahkan menurutnya, para biro perjalanan wisata pun sambat dengan kebijakan ini.

"Apa wisata Jogja mau dimatiin? Soalnya dari (biro perjalanan) wisata juga mengeluh, daripada ke Jogja sulit parkirnya mending langsung pulang," ungkap Yanto.

"Kepada pemerintah, tolong, niki nyuwun tulung, saya mohon dengan sangat turun lah ke lapangan, biar tahu bagaimana tangise wong cilik," harapnya.




(alg/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads