Seorang kakek asal Bantul menjadi calon jemaah (calhaj) tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kakek bernama Mardijiyono itu sudah berusia 103 tahun.
Kakek bernama Mardijiyono Karto Sentono itu mengaku sangat senang akhirnya bisa berangkat haji tahun ini. Ditemui di rumahnya Randusari, Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Mbah Mardi tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Rasanya senang, sama Allah alhamdulillah diberi umur panjang," katanya saat ditemui di kediamannya, Randusari, Bantul, Rabu (22/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mbah Mardi mengaku tak ada persiapan khusus sebelum berangkat ke Tanah Suci. Yang penting, kata Mbah Mardi, kesehatan harus terus dijaga.
"Persiapannya sehat, sing penting sehatke awak dan niat (yang penting sehatkan badan dan mengumpulkan niat)," ujar kakek yang memasuki usia 103 tahun pada bulan Desember 2025 ini.
Anak kedua Mbah Mardi, Warjiyem (64) menceritakan bahwa sang ayah sudah memiliki keinginan untuk naik haji sejak lama.
"Bapak dari dulu selalu bilang ingin naik haji, sampai bilang 'aku sesok iso komanan ora yo naik haji' (Aku besok masih sampai umurnya untuk naik haji tidak ya)," ujarnya.
Hingga akhirnya Mbah Mardi yang sehari-hari petani ini bilang kepada Warjiyem jika memiliki tabungan Rp 10 juta. Selanjutnya, Warjiyem mendaftar sang ayah naik haji pada pertengahan tahun 2029.
"Ibu saya juga minta kalau bapak segera mendaftar haji saja, ternyata ibu meninggal dunia akhir tahun 2019. Mungkin dari kata-kata ibu saat itu membuat bapak seperti dapat amanah untuk naik haji," ucapnya.
Saat pendaftaran, Mbah Mardi diminta menyetorkan uang Rp 25 juta. Karena hanya punya tabungan Rp 10 juta, Mbah Mardi terpaksa menjual sapinya.
"Bapak sehari-hari petani sama memelihara sapi, nah pas daftar itu ternyata beli kursi harganya Rp 25 juta. Karena uangnya kurang, bapak lalu menjual sapinya satu dan laku Rp 15 juta," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata sang ayah baru bisa berangkat haji tahun 2045. Oleh sebab itu, anak Warjiyem bertanya kepada petugas haji terkait apakah ada program khusus untuk calhaj usia lanjut.
"Anak saya tanya ke sana (petugas haji) dan ternyata ada program khusus untuk calhaj yang usianya sangat tua. Akhirnya sana bilang bisa berangkat tahun 2026 tapi harus melunasi biaya, dan saat itu kurang Rp 26 juta," katanya.
Mendengar hal tersebut, Mardijiyono langsung berupaya untuk melunasi biaya berangkat haji. Bahkan, Mardijiyono sampai menjual lagi sapinya.
"Bapak akhirnya jual sapi dua ekor untuk pelunasan Rp 26 juta," ujarnya.
Tahun 2022, Mardijiyono sempat jatuh di kamar mandi dan kakinya mengalami cedera. Beruntung kakinya bisa sembuh bahkan bisa berangkat umrah pada 2023.
"Lalu tahun 2025 bapak sempat masuk rumah sakit, tapi diberi tahu kalau tahun depan berangkat haji lalu semangat dan pulih kembali," ucapnya.
Akhirnya Mardijiyono menjalani pemeriksaan kesehatan dan layak untuk berangkat haji. Warjiyem merasa sangat senang karena sang ayah akhirnya bisa berangkat haji.
"Saya sangat mendukung bapak naik haji, bahkan sudah membayar pendamping untuk di Tanah Suci," katanya.
Warjiyem menambahkan, bahwa Mardijiyono berangkat ke embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) tanggal 2 Mei 2026. Warjiyem mengaku tidak khawatir dengan keberangkatan ayahnya karena naik haji adalah keinginan sang ayah sejak lama.
"Yang jelas saya sudah percaya sama orangnya dan selalu berdoa agar bapak diberikan kesehatan, kemudahan dan berangkat serta pulang ke Indonesia dalam kondisi selamat," ujarnya.
(aku/aku)

Komentar Terbanyak
Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kendaraannya Usai Demo Gejayan
Misteri Alat Pelacak di Kendaraan Tiyo Eks Ketua BEM UGM Usai Demo Gejayan
Kronologi Lengkap Eks Ketua BEM UGM Tiyo Klaim Temukan 2 Alat Pelacak di Mobil