Kisah Padukuhan di Banjarejo Gunungkidul Kini Hilang Usai Ditinggal Warganya

Kisah Padukuhan di Banjarejo Gunungkidul Kini Hilang Usai Ditinggal Warganya

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Sabtu, 20 Jun 2026 15:15 WIB
Suasana di lokasi yang dahulunya merupakan Pedukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026).
Suasana di lokasi yang dahulunya merupakan Pedukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja.
Gunungkidul -

Pedukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul terpaksa hilang dari administrasi Kalurahan. Ternyata penyebabnya karena banyaknya warga Sari yang pindah setelah tetangga ikut program transmigrasi hingga keluarga berencana (KB).

Pantauan detikJogja, Pedukuhan Sari berada tidak jauh dari Kantor Kalurahan Banjarejo, atau sekitar 500 meter. Selain itu, akses menuju ke Sari terbilang mudah karena sudah terdapat jalan cor blok dan jalan kampung berupa tanah yang dipadatkan.

Sesampainya di lokasi, tampak ada dua rumah yang satunya telah rusak parah dan tidak beratap. Sedangkan rumah satunya saat ini beralih fungsi menjadi kandang ayam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tampak pula terdapat tempat tidur di rumah yang saat ini berubah menjadi kandang ayam. Beda halnya dengan rumah satunya yang bagian tembok sudah roboh dan ditumbuhi tanaman yang lebat.

Dukuh Sangen I, Suparno mengatakan bahwa bangunan-bangunan itu dulunya merupakan tempat tinggal warga Sari. Pasalnya, Suparno pernah mengunjungi Sari ketika menjabat sebagai Dukuh pada tahun 1998.

ADVERTISEMENT

"Saya menjabat dukuh itu tahun 1998, terus waktu saya menjabat itu Dukuh Sari masih aktif bahkan sempat berteman dengan saya. Tapi sekarang Pak Dukuh Sari sudah meninggal dunia," katanya kepada wartawan di Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026).

Pria bertopi ini lalu menceritakan, bahwa dahulu Pedukuhan Sari berpenghuni meski jumlah tidak banyak. Di mana sebagian besar berprofesi sebagai petani.

"Pedukuhan Sari dulu memang kecil, KK (kepala keluarganya) tidak banyak. Kalau penduduknya dulu ya aktivitas seperti biasa, kebanyakan orang tani dan menggarap lahan seperti biasanya," ujarnya pria 59 tahun ini.

Namun, lambat laun penduduk di Sari pergi satu persatu. Bahkan, hingga tahun 1998 hanya ada beberapa KK yang tinggal di Sari.

"Seingat saya tahun 1998 saya menjabat jadi dukuh itu di sini tinggal tiga atau empat KK," ucapnya.

Suparno juga mengaku tidak mengetahui penyebab warga yang tiba-tiba pergi meninggalkan Sari. Terlebih, saat itu Suparno tidak sempat menanyakan kepada rekannya yakni Dukuh Sari.

"Terus bubarnya itu karena apa saya juga tidak tahu, dan perginya ke mana saya juga tidak tahu, karena saat itu saya juga tidak tanya sama Dukuh Sari temen saya itu," katanya.

Suasana di lokasi yang dahulunya merupakan Pedukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026).Suasana di lokasi yang dahulunya merupakan Pedukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (18/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja.

Setelah tidak ada warganya, Suparno menyebut jika Kalurahan Banjarejo akhirnya menghapus Pedukuhan Sari dari wilayah administratif Banjarejo. Di mana dari 22 saat ini menjadi 21 Pedukuhan.

"Kalau secara administrasi sudah sudah tidak dicatat, sudah tidak ada Padukuhan Sari," ujarnya.

Lurah Banjarejo, Dwi Haryanto membenarkan bahwa dahulu memang ada Pedukuhan Sari di Banjarejo. Akan tetapi sekitar tahun 90-an Pedukuhan itu akhirnya hilang dari wilayah administratif Banjarejo.

"Kalau tidak salah tahun 90-an itu (Pedukuhan Sari dihapus dari wilayah administratif Banjarejo). Jumlah KK di Sari terbilang sedikit juga, dan karena semakin berkurang jadinya habis dan akhirnya dihapus," ucapnya.

Terkait penyebabnya, Dwi menyebut jika saat ada program transmigrasi ke Sumatera ada beberapa warga Sari yang ikut program tersebut. Selanjutnya, anak-anak dari warga Sari banyak keluar untuk memulai hidup baru.

"Jadi dulu itu ada program transmigrasi ke Sumatera dan ada warga Sari yang ikut. Selain itu, banyak anak-anak dari warga Sari yang nikah lalu keluar dari Sari," katanya.

Akibat banyaknya warga yang pergi, Pedukuhan Sari hanya menyisakan para orang tua. Terlebih, ketika para orang tua yang tinggal di Sari meninggal dunia membuat banyak orang merasa kesepian.

"Nah, lambat laun karena tidak ada perkembangan penduduk dan yang tinggal yang tua-tua itu terus meninggal dunia, lalu yang masih hidup akhirnya memutuskan untuk pindah satu persatu," ujarnya.

Hingga tahun 90-an ke atas akhirnya tidak ada warga yang tinggal di Sari. Padahal, Dwi mengungkapkan bahwa akses jalan di Sari tidak jelek dan lokasinya juga tidak terpencil.

"Sebenarnya akses jalan tidak masalah, dekat dengan Pedukuhan Padangan dan tidak terpencil karena dekat dengan kantor Kalurahan juga," ucapnya.

Terkait ke mana saja warga Sari pindah, Dwi menyebut masih di wilayah Banjarejo seperti Pedukuhan Padangan, Ngepoh, Wuluh, Kunang hingga Weru. Dwi juga menegaskan bahwa kepindahan warga murni karena tidak memiliki teman yang tinggal di Sari.

"Jadi kalau sebabnya pindah satu persatu itu karena tidak ada temannya, bukan karena hal-hal lain. Kenapa tidak ada temannya? Karena program KB dan transmigrasi tadi yang mengakibatkan kurangnya pertumbuhan penduduk," katanya.




(alg/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads