Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei: Dari Tragedi sampai Kongres di Paris

Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei: Dari Tragedi sampai Kongres di Paris

Mardliyyah Hidayati - detikJogja
Rabu, 29 Apr 2026 09:26 WIB
Ilustrasi Hari Buruh Internasional
Ilustrasi Hari Buruh Internasional (Foto: Luis Quintero/Unsplash)
Jogja -

Hari Buruh Internasional atau yang dikenal sebagai May Day bukan sekadar tanggal merah di kalender. Hari penting ini menyimpan sejarah panjang tentang perjuangan kelas pekerja di seluruh dunia. Di balik peringatan setiap 1 Mei, terdapat kisah penuh perjuangan dan solidaritas para buruh.

Dahulu, buruh harus menghadapi kondisi kerja yang sangat berat tanpa perlindungan yang baik. Jam kerja yang panjang, upah rendah, serta lingkungan yang berbahaya menjadi makanan keseharian. Meski sudah biasa, tentu itu bukan hal yang semestinya didapatkan. Dari sanalah muncul perlawanan yang melahirkan peristiwa penting yang dikenang dan diperjuangkan hingga hari ini.

Perjalanan menuju pengakuan Hari Buruh Internasional tidaklah singkat. Mulai dari tragedi Haymarket sampai penetapannya pada kongres di Paris, berikut uraian lengkap sejarah Hari Buruh Internasional yang harus detikers tahu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Hari Buruh Internasional

Penetapan Hari Buruh Internasional tak pernah lepas dari gerakan buruh global pada masa itu. Disadur dari buku berjudul Hari Buruh: Perjuangan dan Martabat Buruh karya Dadan Kurniawan dan buku The History of May Day oleh Alexander Trachtenberg dalam laman Marxists, berikut rangkaian sejarah perjalanan penetapan Hari Buruh Internasional.

ADVERTISEMENT

Revolusi Industri: Latar Belakang Gerakan Buruh

Hari Buruh Internasional lahir dari gerakan buruh yang menuntut haknya. Gerakan ini sendiri dilatarbelakangi oleh revolusi industri pada awal abad ke-19. Pada masa itu, sistem produksi banyak menggunakan mesin-mesin. Demi mengimbanginya, manusia dipaksa bekerja dalam waktu yang tak wajar, bahkan mencapai 18 hingga 20 jam sehari.

Kondisi tersebut diperparah oleh tidak adanya regulasi dari pemerintah mengenai hak-hak buruh. Lingkungan kerja yang tidak sehat dan berbahaya akibat limbah semakin memperburuk situasi kehidupan pekerja dan kelompok rentan.

Pada akhirnya, muncul kesadaran kolektif di kalangan buruh untuk memperjuangkan nasibnya. Mereka mulai menyadari bahwa perubahan bisa terjadi jika dilakukan secara bersama-sama. Dari sanalah awal mula lahirnya gerakan buruh. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok solidaritas dan serikat pekerja sebagai wadah perjuangan menuntut hak.

Gerakan 8 Jam Kerja di Amerika Serikat

Gerakan 8 jam kerja di Amerika Serikat berakar dari kondisi kerja yang sangat tidak manusiawi tadi. Pada mulanya, tuntutan buruh berupa pengurangan jam kerja menjadi 10 jam per hari. Tuntutan tersebut mengubah sistem kerja "sunrise to sunset" atau dari matahari terbit hingga tenggelam yang selama ini mereka jalani.

Seiring berkembangnya kesadaran kolektif, tuntutan tersebut meningkat menjadi 8 jam kerja sebagai standar ideal. Konsep ini menawarkan keseimbangan hidup: 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam untuk kehidupan pribadi.

Perjuangan ini semakin terorganisasi dengan munculnya berbagai serikat buruh, salah satunya National Labor Union. Lebih lagi pada tahun 1866, tuntutan 8 jam kerja mulai diangkat sebagai agenda nasional. Hal tersebut menandai babak baru dalam gerakan buruh di Amerika Serikat.

Dukungan terhadap gerakan ini datang dari berbagai sektor pekerja, tidak hanya buruh pabrik, tetapi juga pekerja di bidang lain. Hal ini memperkuat posisi buruh dalam menekan pengusaha dan pemerintah agar mengakui hak mereka. Gerakan buruh mulai menunjukkan kekuatan kolektif yang signifikan.

Meskipun menghadapi penolakan dari kalangan pengusaha, perjuangan 8 jam kerja terus berkembang. Gerakan ini menjadi fondasi penting bagi aksi-aksi besar berikutnya, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya momentum bersejarah dalam perjuangan buruh internasional.

Gelombang Demo Besar 1 Mei 1886

Selanjutnya, gerakan buruh yang semakin terorganisir sampai pada penetapan 1 Mei sebagai batas waktu pengabulan tuntutan mereka mengenai sistem kerja 8 jam tadi. Dengan adanya batas waktu tersebut, tekanan terhadap pengusaha dan pemerintah menjadi semakin kuat.

Penetapan yang dilakukan Federasi Buruh Amerika tersebut bukan tanpa alasan. Keputusan tersebut dilakukan untuk mengonsolidasikan gerakan buruh secara nasional. Selain itu, 1 Mei juga menjadi sebuah simbol perjuangan buruh.

Pada 1 Mei 1886, aksi mogok massal pun terjadi secara serentak di Amerika Serikat. Kota-kota besar seperti Chicago, New York, dan Detroit menjadi pusat demonstrasi. Para buruh turun ke jalan untuk menuntut hak mereka atas jam kerja yang lebih manusiawi.

Aksi ini menjadi salah satu demonstrasi buruh terbesar dalam sejarah waktu itu. Meskipun sebagian besar berlangsung damai, ketegangan tetap terjadi di beberapa wilayah. Penolakan dari pihak pengusaha dan aparat membuat situasi semakin memanas.

Tragedi Haymarket dan Gerakan Buruh Global

Beberapa hari setelah aksi mogok 1 Mei, ketegangan memuncak di Chicago. Pada 4 Mei 1886, sebuah aksi unjuk rasa di Haymarket Square berubah menjadi tragedi berdarah.

Peristiwa ini bermula dari aksi damai yang kemudian berujung pada bentrokan. Aksi tersebut dipicu oleh sebuah bom meledak di tengah kerumunan. Aparat keamanan pun berjaga dengan tembakan. Respons aparat itulah yang menyebabkan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.

Tragedi ini menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah gerakan buruh. Banyak aktivis buruh ditangkap dan diadili. Tak hanya itu, bahkan beberapa di antaranya dijatuhi hukuman mati tanpa bukti yang pasti.

Tragedi Haymarket tidak hanya berdampak di Amerika Serikat, tetapi juga mengguncang dunia internasional. Banyak kalangan buruh di berbagai negara menunjukkan solidaritas terhadap para korban. Peristiwa ini menjadi simbol perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan.

Kisah para buruh yang menjadi korban menyebar luas dan menginspirasi gerakan serupa di berbagai negara. Solidaritas internasional mulai terbentuk, dengan berbagai organisasi buruh saling mendukung. Gerakan buruh tidak lagi bersifat lokal, tetapi mulai berkembang menjadi gerakan global.

Peristiwa ini juga berdampak pada meningkatnya kesadaran akan pentingnya persatuan buruh lintas negara. Tidak hanya simpati pada para korban, buruh lintas negara juga mulai menyadari pentingnya perjuangan menuntut hak secara bersama-sama. Hal ini menjadi fondasi bagi lahirnya Hari Buruh Internasional.

Lahirnya Hari Buruh Internasional pada Kongres di Paris

Gerakan buruh secara global tersebut kemudian semakin kokoh dengan adanya sebuah kongres. Pada tahun 1889, perwakilan gerakan buruh dari berbagai negara berkumpul dalam Kongres Internasional di Paris. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam menyatukan gerakan buruh secara global.

Dalam kongres tersebut, diputuskan bahwa tanggal 1 Mei akan diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Keputusan ini diambil untuk mengenang perjuangan buruh, khususnya peristiwa Haymarket di Chicago.

Penetapan ini juga bertujuan untuk mengoordinasikan aksi buruh secara internasional. Dengan adanya hari peringatan bersama, buruh di berbagai negara dapat bersatu dalam satu gerakan global. Bahkan, hingga kini Hari Buruh Internasional menjadi momen bangkitnya perjuangan tersebut.

Demikian uraian lengkap sejarah Hari Buruh Internasional yang diperingati tiap 1 Mei, mulai dari sebuah tragedi hingga Kongres Sosialis Internasional di Paris. Semoga menjadi wawasan baru dan menambah kesadaran kita tentang hak-hak buruh ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads