Melihat Rumah Pahlawan Nasional Dr Sardjito di Jogja yang Kabarnya Bakal Dijual

Melihat Rumah Pahlawan Nasional Dr Sardjito di Jogja yang Kabarnya Bakal Dijual

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 14 Mei 2026 17:58 WIB
Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026).
Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Di sisi timur jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, berdiri megah sebuah rumah kuno yang masih terawat. Rumah bergaya jengki itu adalah peninggalan salah satu Pahlawan Nasional, Prof dr M Sardjito, yang kini dirumorkan akan dijual.

Nama Dokter Sardjito mungkin kini lebih dikenal sebagai nama rumah sakit. Namun, dia adalah rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1949-1961, dan juga rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII) di rentang tahun 1963-1970.

Sardjito tinggal di rumah bergaya arsitektur jengki ini semenjak menjabat rektor UGM tahun 1949 silam. Kini, rumah teduh di pinggir jalan ramai ini dirawat dan dijaga Budhi Santoso (70), seorang kerabat dari keluarga Sardjito.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika Pak Sardjito menjadi rektor, ini sebagai rumah dinas. Terus nggak tahu diproses menjadi milik beliau, mungkin ya hadiah, saya nggak tahu persis," jelas Budhi saat ditemui detikJogja di rumah Sardjito, Kamis (14/5/2026).

ADVERTISEMENT

Rumah ini berdiri di atas lahan seluas 1.206 meter persegi, sedangkan luas bangunan kurang lebih 800 meter persegi. Rumah ini tidak banyak mendapat sentuhan perbaikan sejak berdiri puluhan tahun silam. Bahkan furnitur di dalamnya masih asli.

Fasad rumah ini berbentuk atap segitiga besar khas rumah kuno zaman pascakolonial. Halamannya pun luas dan asri. Di dalamnya, ubin merah mengkilat menghiasi seluruh rumah termasuk tiga kamar seluas 5x5 meter.

"Belum pernah berubah, kecuali renovasi ngecat ya. Meubel masih yang asli, cuma sudah pindah posisi," papar Budhi.

Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026).Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Budhi sendiri mendapat mandat dari istri Sardjito, RAy. Soeko Emi, untuk merawat rumah ini pada 1980 silam. Saat itu sepeninggal Sardjito, Emi tinggal sendiri lantaran putra semata wayangnya, Pek Poedjioetomo, menetap di luar negeri sebagai diplomat.

"Pak Sadjito punya putra laki-laki, Pak Pek Poedjioetomo, nah istrinya itu kakak kandung saya. Jadi saya adik mantunya Bu Sardjito," ujar Budhi.

"Saya di sini pas Bapak (Sardjito) sudah seda (meninggal), jadi tinggal ibu. Saya mendampingi dan merawat ibu di sini sejak tahun 1980, sama istri saya. Ya istilahnya saya dipek (diangkat) anak," sambungnya.

Kabar Rumah Akan Dilego

Kabar rumah peninggalan Sardjito akan ini dijual beredar luas di media sosial. Saat dimintai konfirmasi, Budhi pun mengiyakan. Ide untuk melego rumah ini muncul setelah Budhi melihat rumah ini sudah tidak terawat.

Rumah warisan Sardjito ini, kata Budhi, kini telah disepakati oleh ahli waris yakni cucu Sardjito, Alita dan Dyani Poedjioetomo, untuk dilepas. Dua cucu Sardjito itu pun kini tinggal di Jakarta.

"Yang punya ide melepas rumah ini memang saya, karena kenapa? Masalahnya, maaf ya, tidak dirawat dengan baik-baik. Akhirnya berunding lah (dengan ahli waris), setuju, nah sekarang masih dalam proses lah," ungkapnya.

Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026).Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

"Karena saya merasa ini bukan rumah saya, ya nggak baik tinggal di sini. Saya di sini karena menerima amanah Bu Sardjito, 'omahe dirawat sing apik', dirawat kan artinya luas ya," imbuh Budhi.

Budhi tidak membeberkan nominal harga rumah ini, namun ia mengaku enggan menggunakan jasa broker atau perantara, apalagi media sosial untuk menjual rumah ini. Pasalnya, ia ingin rumah ini dirawat oleh pihak yang tepat.

Budhi pun memilih cara untuk menawarkan rumah ini secara langsung ke pihak-pihak tertentu, termasuk UGM dan UII. Ia tidak ingin rumah bersejarah ini jatuh ke tangan investor yang ujung-ujungnya mengubah aset ini jadi kafe.

"Kalau harapan saya, memang yang punya ide untuk mengembalikan ke UGM memang saya, daripada ke orang asing, maaf lho ya, pasti jadi kafe. Kalau memang itu (mau dijual) ya tawarkan ke UGM atau UII, soalnya dulu Pak Sadjito pernah jadi Rektor UII juga, itu akan lebih terhormat, akan dirawat," pungkasnya.




(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads