Duduk Perkara Mahasiswa Geruduk Diskusi 3 Pejabat di UGM Berujung Ricuh

Round-Up

Duduk Perkara Mahasiswa Geruduk Diskusi 3 Pejabat di UGM Berujung Ricuh

Tim detikJogja - detikJogja
Rabu, 17 Jun 2026 05:01 WIB
Suasana diskusi di GIK UGM pada Senin (15/6) malam yang berakhri ricuh
Suasana diskusi di GIK UGM pada Senin (15/6) malam yang berakhri ricuh. Foto: Dok Istimewa
Jogja -

Acara diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6) malam berakhir ricuh. Kericuhan terjadi usai massa mahasiswa menggeruduk diskusi itu dan menaiki panggung.

Adapun tiga pembicara yang hadir yakni Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Diskusi sempat berjalan lancar. Namun sejumlah mahasiswa tiba-tiba naik ke panggung dan membentangkan spanduk penolakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Situasi tambah panas usai massa yang naik panggung semakin banyak. Sempat terjadi juga pelemparan gelas plastik di lokasi.

Akhirnya ketiga pejabat kemudian dievakuasi, namun ratusan mahasiswa menghadang mereka di luar GIK UGM. Nusron Wahid dan Sudaryono sempat duduk untuk berdialog dengan massa.

ADVERTISEMENT

Tetapi pembicaraan kembali buntu. Saat keduanya meninggalkan lokasi dengan pengawalan, sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas.

Penjelasan SEMA UGM

Perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa massa menilai pembicara tak layak membicarakan Pancasila. Aksi itu juga merupakan kritik bagi pemerintah.

"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang sekarang terjadi," kata Mesa saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya gesekan yang terjadi merupakan hal yang lumrah di negara demokrasi. Hal itu terjadi ketika pemerintah sudah tidak bisa lagi diingatkan secara halus.

"Gesekan itu justru terjadi karena mereka banyak mengibul, mereka banyak berbohong," ujarnya.

"Gesekan-gesekan yang terjadi tadi justru memang hal yang wajar dalam negara demokrasi, yang saat ini mereka tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki," imbuhnya.

Terkait aksi kejar-kejaran, dia menyebut hal itu dipicu pejabat yang tidak mau berdiskusi dengan para mahasiswa.

"Aksi kejar-kejaran itu sebetulnya karena mereka menghindar. Kami tidak akan mengejar-ngejar mereka seandainya mereka menjawab satu pertanyaan sederhana saya, apakah mereka merasa bersalah? Tidak. Mereka justru memberikan pertanyaan balik dan juga secara eksplisit merasa tidak bersalah. Itu adalah konsekuensi dari tindakan mereka," tegasnya.

Sudaryono Beri Penjelasan

Sementara itu, Sudaryono menegaskan kehadiran dirinya bersama para pejabat lainnya di kampus UGM sejak awal memang untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa.

"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Selasa (16/6/2026).

Menurut Sudaryono, dirinya hadir sebagai bentuk keterbukaan terhadap kritik.

"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.

Namun, di tengah jalannya forum, Sudaryono mengklaim terdapat sekelompok peserta yang tidak menginginkan diskusi dilanjutkan sehingga situasi menjadi tidak kondusif.

"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.

Dia mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron Wahid karena meyakini bahwa dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan. Namun situasi disebut semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.

Sudaryono membantah anggapan bahwa dirinya dan rombongan meninggalkan lokasi karena menghindari dialog.

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang telah hadir dengan niat berdiskusi namun tidak dapat mengikuti forum secara optimal akibat situasi yang terjadi.

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.

Sudaryono menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat.

"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.

Nusron Wahid Angkat Bicara

Senada dengan Sudaryono, Nusron Wahid juga mengatakan dirinya datang dengan niat baik. Dia menyebut sudah menyiapkan diri untuk menerima kritik dan cacian siapapun.

"Kami datang ada panitianya baik-baik, ada surat izin lengkap dari rektorat. Kita siap datang ke situ untuk berdialog dengan siapa saja, dengan sivitas akademika, dengan topik apa pun, karena kami dari pemerintah sudah menyiapkan diri, untuk memang siap untuk di-bully, siap dicaci maki di hadapan siapa pun, karena itulah konsekuensi daripada jabatan," kata Nusron dalam unggahan di akun Instagram pribadinya dilihat, Selasa (16/6/2026) dilansir detikNews.

Menurutnya orang-orang yang tidak siap berdialog menjadi pemicu kericuhan.

"Tapi rupa-rupanya pada malam hari ini, takdir berkata lain. Ada sekelompok orang yang a demokratis, yang ternyata tidak siap berdialog, tidak siap berdemokrasi dan tidak siap untuk menerima dialog pemikiran, yang mengedepankan memaksakan kehendak dan mengedepankan kekerasan, karena itu kami sangat sayangkan," kata Nusron.

"Forum yang harusnya dialog baik sebagaimana di kampus-kampus yang lain. Tidak ada motivasi untuk mengebiri, tapi kita justru siap dikritik. Kalau memang ada yang salah kita siap mengoreksi, kalau ada masukan kita akan tindak lanjuti. Tapi ternyata digagalkan oleh sekelompok orang itu," sambungnya.

Nusron lantas menyerukan semua pihak dapat menerapkan demokrasi dengan berkeadaban. Dia menyatakan siap untuk terus hadir dalam dialog-dialog serupa ke depannya.

"Saya kira, mari kita tegakkan demokrasi dengan cara yang yang berkeadaban atau civilize. Karena itu ruang diskusi dan ruang untuk berdebat di berbagai forum apa pun tidak boleh ditutup dan dan tidak boleh monolog dengan menciptakan opini tunggal dari kelompok-kelompok tertentu saja. Kami siap melayani berbagai undangan-undangan, kalau ada untuk adu data dan argumentasi. Tapi malam ini sungguh kami sesalkan tapi kami tidak menyesal," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads