- Kumpulan Khutbah Jumat Tahun Baru Islam Terbaru Khutbah Tahun Baru Islam #1: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik Khutbah Tahun Baru Islam #2: Memaknai Tahun Baru Hijriyah Khutbah Tahun Baru Islam #3: Memaknai Tahun Baru Islam dengan Resolusi Spiritual Khutbah Tahun Baru Islam #4: Tahun Baru Hijriyah, Momentum Menuju Perubahan Positif Khutbah Tahun Baru Islam #5: Renungan Tahun Baru Hijriah
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sudah tiba. Jumat pertamanya datang pada 19 Juni 2026 alias besok. Momentum ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh khatib untuk memberikan nasihat.
Usai menjalani satu tahun penuh yang mungkin penuh kekurangan, umat Islam perlu diingatkan kembali esensi hidup. Pelbagai tema seputar muhasabah diri dan perbaikannya bisa diangkat guna mengembalikan arah hidup ke jalan yang benar.
Khutbah pastinya perlu disampaikan dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Dengan demikian, hadirin jemaah dapat menangkap isi khutbah secara tepat dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi yang membutuhkan, di bawah ini detikJogja himpunkan sederet khutbah Jumat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah terbaru. Yuk, baca satu per satu, Dab!
Kumpulan Khutbah Jumat Tahun Baru Islam Terbaru
Baca satu per satu khutbahnya sebagai referensi, ya, detikers!
Khutbah Tahun Baru Islam #1: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
(sumber: Tulisan Ustadz Sunnatullah di laman NU Online)
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn, segala puji hanya milik Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Di antara nikmat terbesar yang patut kita syukuri adalah nikmat iman dan kesehatan, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan ibadah salat Jumat berjamaah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, agar kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan memanfaatkan sisa usia yang Allah titipkan ini sebaik mungkin untuk menempuh jalan kebaikan, menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Terlebih lagi, saat ini kita baru saja memasuki tahun baru Hijriah. Momentum ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi sebuah pengingat bahwa waktu terus berjalan, usia kita semakin berkurang, dan kesempatan kita di dunia ini semakin terbatas.
Karena itu, tidak ada langkah yang lebih bijak selain menjadikan momen ini sebagai sarana upgrade diri, dengan melakukan muhasabah, mengevaluasi diri, dan memperbaiki apa yang masih kurang dalam hidup kita.
Dari sinilah harapan menjadi nyata: bahwa kita bisa tumbuh menjadi Muslim yang lebih baik dari hari ke hari, lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Berkaitan dengan pentingnya upgrade diri, Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr, [59]: 18).
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Tahun baru Hijriah dimulai dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Kita tahu, Rasulullah dan para sahabat menghadapi penolakan yang sangat berat dari kaum Quraisy. Mereka bahkan berusaha mengganggu, menyakiti, dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi SAW. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Allah memerintahkan Nabi untuk berhijrah dari kota yang menolak kebenaran menuju kota yang menerima Islam dengan baik, yaitu Madinah.
Karena besarnya makna peristiwa ini, pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., peristiwa hijrah dijadikan awal penanggalan dalam kalender Islam. Dalam Tarikhul Khulafa karya Imam as-Suyuthi, disebutkan pendapat Imam al-Askari:
قَالَ الْعَسْكَرِيُّ: هُوَ أَوَّلُ مَنْ سُمِّيَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوَّلُ مَنْ كَتَبَ التَّارِيْخَ مِنَ الْهِجْرَةِ
Artinya: "Al-Askari berkata: Umar adalah orang pertama yang diberi gelar Amirul Mukminin, dan orang pertama yang menetapkan penanggalan berdasarkan peristiwa Hijrah."
Hijrah Nabi Muhammad bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga membawa makna perubahan besar dalam kehidupan. Dari suasana penuh kebencian, iri, dan permusuhan, menuju masyarakat yang damai, saling menerima, dan hidup dalam persaudaraan. Dengan kata lain, hijrah adalah simbol perubahan, sebuah langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, tahun baru Hijriah tidak cukup hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Jika tahun lalu kita masih sering lalai dalam shalat, maka di tahun ini mari kita perbaiki dengan menjaga shalat tepat waktu dan lebih khusyuk. Jika lisan kita masih sering menyakiti orang lain, maka mari kita ubah menjadi ucapan yang lembut, menenangkan, dan membawa kebaikan. Dan jika kita masih berat dalam bersedekah, maka mari kita latih diri menjadi pribadi yang lebih dermawan dan ringan dalam membantu sesama.
Inilah makna hijrah yang sebenarnya: berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, dari keburukan menuju kebaikan, dan dari kelalaian menuju ketakwaan.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Senantiasa berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari hari ke hari menunjukkan bahwa kita termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, jika tidak ada usaha untuk memperbaiki diri, bahkan hari ini justru lebih buruk dari kemarin, maka itu tanda kerugian bagi diri kita.
Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda;
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Artinya: "Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia orang yang beruntung. Siapa yang harinya sama dengan kemarin, maka ia merugi. Dan siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka." (HR. Al-Hakim).
Hadits ini mengingatkan kita untuk selalu melakukan perbaikan diri, meningkatkan kualitas hidup, iman, dan amal kita. Banyak hal yang bisa kita tingkatkan, seperti iman yang lebih kuat, ibadah yang lebih khusyuk dan berkualitas, serta akhlak yang lebih baik.
Proses memperbaiki diri tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang pedagang bisa memperbaiki diri dengan berlaku jujur dalam timbangan dan menjauhi kecurangan.
Seorang hakim atau penegak hukum dengan menegakkan keadilan. Seorang guru atau dosen dengan mengajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi teladan bagi muridnya.
Begitu juga suami istri, dengan saling menyayangi, memahami, dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Para pemimpin dengan menjalankan amanah secara jujur dan adil demi kesejahteraan rakyat. Sementara masyarakat secara umum dapat memperbaiki diri dengan hidup rukun, saling tolong-menolong dalam kebaikan, menjaga ketertiban, dan menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain.
Inilah bentuk nyata dari upaya memperbaiki diri sebagai seorang muslim. Karena itu, jangan menunggu sempurna untuk berubah, tetapi mulailah dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita setiap hari.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian adanya khutbah Jumat di awal tahun baru Hijriah ini, perihal saatnya menjadikan momen tahun baru untuk melakukan upgrade diri menjadi Muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
Khutbah Tahun Baru Islam #2: Memaknai Tahun Baru Hijriyah
(sumber: Tulisan Muhammad DNN SAg MHI di laman Suara Muhammadiyah)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Dia yang menjadikan waktu sebagai tanda kebesaran-Nya, yang menjadikan pergantian hari, bulan, dan tahun sebagai sarana bagi hamba-Nya untuk bertaqwa dan memperbaiki diri.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat beliau yang mengikuti jejak perjuangannya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita sudah berada di tahun baru Hijriyah, yaitu masuknya bulan Muharram, bulan yang mulia dan menjadi awal penanggalan umat Islam. Di permukaan pandangan kita, yang tampak jelas adalah sebuah peristiwa sejarah: perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Kota Makkah ke Kota Madinah.
Itulah yang terlihat, yang sering kita dengar dan kita baca. Namun, jika kita selami lebih dalam, di balik peristiwa fisik itu tersimpan makna dan hikmah yang sangat luas, ibarat gunung es yang sebagian besar bentuknya tersembunyi di dalam air.
Pada bagian pertama terlihat adalah peristiwa hijrahnya Nabi SAW. Pada masa itu, tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy sangat berat. Keamanan diri dan kelangsungan dakwah terancam. Maka, atas izin Allah, terjadilah perpindahan tempat tinggal. Inilah lapisan yang tampak: hijrah sebagai perpindahan lokasi, perjalanan fisik dari satu kota ke kota lain.
Namun, jika kita telusuri lebih dalam, di balik peristiwa itu ada pola dan proses perubahan. Hijrah bukan sekadar pindah tempat, melainkan sebuah keputusan besar untuk meninggalkan lingkungan yang penuh kesesatan menuju lingkungan yang lebih baik demi menjaga agama. Di sini terlihat adanya semangat untuk berubah, keberanian menghadapi tantangan, dan kesediaan melepaskan apa yang dicintai demi mendapatkan keridaan Allah.
Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah!
Terdapat akar dan sebab di balik terjadinya peristiwa agung ini. Hijrah lahir dari keimanan yang kokoh, kesabaran yang tinggi, dan keyakinan mutlak bahwa pertolongan Allah pasti datang. Hal ini tergambar dari firman Allah Swt:
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS. Al-Baqarah: 214)
Tanpa pondasi iman yang kuat, mustahil Nabi dan sahabat sanggup meninggalkan tanah kelahiran, harta, keluarga, dan segala kenangan masa lalu. Di sinilah terlihat bahwa hijrah berarti meninggalkan segala hal yang dilarang Allah dan mendekatkan diri kepada hal yang diridai-Nya.
Dan yang paling dalam, menjadi inti dan makna hakiki dari peristiwa ini adalah nilai dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan sebuah simbol baru bagi kehidupan.
Ia mengajarkan bahwa waktu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap pergantian tahun adalah kesempatan emas yang diberikan Allah untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, menyempurnakan amal ibadah, dan membangun masa depan yang lebih berkah.
Hadirin yang berbahagia,
Jika dahulu hijrah diartikan sebagai perpindahan jasad, maka di zaman sekarang ini, makna hijrah harus kita bawa ke dalam hati dan perilaku kita sehari-hari. Hijrah berarti berpindah dari sifat tercela menuju akhlak yang mulia; dari malas beribadah menjadi rajin mendekatkan diri kepada Allah; dari ucapan yang buruk menjadi tutur kata yang baik dan bermanfaat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr:18)
Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah!
Maka, langkah yang tepat memaknai Tahun Baru Hijriyah ini dengan muhasabah diri, yaitu mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama satu tahun yang lalu. Jika ada kekurangan, perbaiki. Jika ada kelebihan, pertahankan dan tingkatkan. Jadikan momen ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.
Demikianlah khutbah ini yang dapat disampaikan. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk terus berhijrah memperbaiki diri, menjadikan setiap detik waktu sebagai ladang amal, dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang selalu bertambah baik dari waktu ke waktu.
Menjadikan tahun yang baru ini sebagai tahun keberkahan, kemudahan, dan kebaikan bagi kita sekalian. Semoga pula Allah menjauhkan kita dari segala marabahaya, dan menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur dan bertaqwa.
Khutbah Tahun Baru Islam #3: Memaknai Tahun Baru Islam dengan Resolusi Spiritual
(sumber: Laman resmi Pondok Pesantren Darunnajah)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita telah memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan yang mulia ini menandai awal tahun baru Islam, sebuah momentum yang sangat berarti bagi kita sebagai umat Muslim. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apa makna sebenarnya dari pergantian tahun ini bagi kehidupan spiritual kita?
Tahun baru Hijriah bukanlah sekadar pergantian angka dalam penanggalan. Ia adalah kesempatan berharga untuk melakukan introspeksi diri, mengevaluasi perjalanan hidup kita selama setahun ke belakang, dan yang terpenting, menetapkan resolusi spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang akan datang.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa melakukan evaluasi diri dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Dalam konteks tahun baru Hijriah, ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap pergantian tahun adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita.
Jamaah yang berbahagia,
Bulan Muharram memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, momentum tahun baru Hijriah ini hendaknya kita isi dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, termasuk berpuasa sunnah di bulan Muharram.
Selain itu, mari kita jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kita. Beberapa resolusi spiritual yang dapat kita tetapkan antara lain:
Pertama, memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Ini bisa dimulai dengan meningkatkan kualitas shalat kita, baik dari segi kekhusyukan maupun ketepatan waktu. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
"Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sungai itu lima kali sehari. Apakah masih ada kotoran yang tersisa di badannya?" Mereka menjawab, "Tidak ada kotoran sedikitpun yang tersisa di badannya." Beliau bersabda, "Seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa." (HR. Bukhari)
Kedua, meningkatkan interaksi kita dengan Al-Qur'an. Kita bisa memulai dengan target membaca Al-Qur'an setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat. Allah SWT berfirman dalam Surat Faathir ayat 29-30:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٠﴾
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri."
Ketiga, memperbaiki akhlak dan hubungan kita dengan sesama manusia. Ini bisa dimulai dengan bersikap lebih sabar, lebih pemaaf, dan lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Keempat, meningkatkan kepedulian sosial kita. Tahun baru Hijriah adalah momentum yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan membantu sesama yang membutuhkan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui."
Kelima, meningkatkan ilmu dan wawasan keislaman kita. Mari kita sisihkan waktu untuk mempelajari agama kita lebih dalam, baik melalui kajian-kajian, membaca buku-buku Islam, atau mengikuti majelis ilmu. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Jamaah yang berbahagia,
Tahun baru Hijriah juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tapi juga perpindahan spiritual dari keburukan menuju kebaikan, dari kekufuran menuju keimanan, dari kemaksiatan menuju ketaatan. Maka, marilah kita jadikan momentum tahun baru Hijriah ini sebagai titik awal hijrah kita menuju pribadi yang lebih baik.
Namun, perlu kita ingat bahwa resolusi spiritual ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan ada tantangan dan godaan yang menghadang. Oleh karena itu, kita perlu membekali diri dengan kesabaran dan ketabahan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
Selain itu, kita juga perlu saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain dalam menjalankan resolusi spiritual ini. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-'Ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, memberikan kekuatan untuk menjalankan resolusi spiritual kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Khutbah Tahun Baru Islam #4: Tahun Baru Hijriyah, Momentum Menuju Perubahan Positif
(sumber: Tulisan KH DR Nashiruddin Cholid MAg di laman MUI Digital)
Hadirin jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah SWT
Segala pujian terindah segala pujaan tertinggi hanya layak dan pantas bagi Allah SWT, bukan untuk lainnya, kita memujinya atas semua karunia nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita hingga saat ini, pujian atas hidayah iman dan Islam yang Allah langgengkan dalam diri kita sampai akhir hayat kelak Insya Allah
كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin."
Hidayah iman dan Islam kedua-duanya adalah harta termahal yang dimiliki seorang hamba Allah, keduanya adalah anugerah teragung yang Allah lesakkan dalam hati hamba-hamba, karena tidak semua orang memperolehnya, dan tidak semua orang memilkiknya, maka bersyukurlah jiwa jiwa yang ditanamkan dalam hatinya iman sampai akhir hayatnya.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia
Waktu terasa begitu cepat berlalu, masapun cepat berganti, sehingga pada hari ini kita sudah berada di awal tahun baru hijriyah tahun 1447, tepatnya 01 Muharram 1447 Hijriyah.
Pergantian waktu adalah sunnatullah yang tidak bisa kita hindari, pergantian bulan dan tahun tinggal menunggu waktu yang bergulir, masa lalu adalah kenangan kita, masa sekarang adalah kenyataan dalam hidup kita, sedangkan yang akan datang adalah harapan dan cita cita yang telah dan sedang kita perjuangkan,
Di masa yang lalu segala pergulatan kita mengalami dan merasakan, kadang senang dengan segala capaian, tapi terkadang sedih karena kegagalan yang terus menerus menimpa kita, kadang waktu seakan tidak bersahabat dengan sebagian keadan kita, namun Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ
"Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim." (QS Ali Imran : 140)
Ayat di atas menjadi peneguh diri kita, bahwa kita senantiasa harus terus berusaha dan berikhtiar untuk memperolah yang kita harapkan, bukan urusan hasil dari usaha kita. Karena kalah dan menang, sukses dan gagal, bahagia dan nestapa bagi seorang muslim harus dipandang sebagai ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji kita semua, siapa diantara kita yang terbaik amalannya.
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya"
Hadirin yang berbahagia..
Pada setiap akhir tahun dan menjelang pergantian tahun serta menyambut tahun baru, seringkali ada yang menggunakan kesempatan itu untuk hal hal yang justru mengarah kepada kemaksiatan kepada Allah swt, hura hura, foya foya, gaya hidup hedonis, padahal seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi atas apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukannya.
Setiap kita seharusnya menimbang dan mengukur apakah masa lalu kita sudah lebih dominan untuk mengisi bekal akhirat kita atau sebaliknya,
Cobalah merenung sesaat melihat kembali yang telah terjadi setahun ini
- Apakah sholat kita sudah lengkap atau masih banyak yang bolong bolong?
- Apakah sholat kita sudah khusyu'?
- Bagaimana dengan rukun dan syarat sholatnya, apakah telah terpenuhi?
- Berapa banyak kita telah mengkhatamkan Alquran?
- Sudah ada perbaikankah bacaan Alquran kita?
- Sudahkah kita mentadabburi isinya ?
- Sudahkah kita berupaya mengamalkannya?
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS al Hasyr : 18)
Melalui surat al Hasyr ayat 18 ini kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dan setiap kita hendaklah melakukan introspeksi فلتنظر ` apa yang telah dilakukan, ما قدمتْ apa yang telah dikerjakan untuk besok atau masa depan kitaلغد ?
Muhasabah dan introspeksi bermanfaat untuk perbaikan apa yang akan dilakukan di masa depan setelah kita mengetahui apa yang terjadi di masa lalu agar tidak terulang kesalahan dan kekeliruan atau kerugian yang telah terjadi di masa lalu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Artinya: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al Hakim).
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia
Perubahan waktu dan masa adalah sesuatu yang alami saja dan sudah menjadi sunnatullah, tapi yang penting bagi kita adalah bahwa setiap pergantian waktu haruslah menjadi momentum untuk perbaikan ke arah yang lebih baik lagi.
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اَلَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ
"Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan hak (yang benar). Dia menutupkan malam atas siang, menutupkan siang atas malam, serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ketahuilah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahapengampun."
Khutbah Tahun Baru Islam #5: Renungan Tahun Baru Hijriah
(sumber: Laman NU Banten)
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah Kami mengajak kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan selalu berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Dengan harapan kita selalu mendapat rahmat dan ridha dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah ladang yang mesti digarap serius untuk masa panen di akhirat kelak. Islam mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia. Dua kehidupan tersebut dikontraskan oleh Al-Qur'an yang melukiskan kehidupan dunia dengan istilah tempat permainan belaka.
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
''Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.'' (QS al-Ankabut: 64)
Al-Qur'an juga telah memberikan garis secara tegas tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengabdi secara total kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56)
Manusia dituntut untuk memaksimalkan waktu dan kesempatan yang diberikan untuk amal saleh yang bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain, sehingga tak menyesal di kehidupan kelak.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Imam Al-Ghazali mengatakan, ketika seseorang disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupannya di dunia, maka sesungguhnya ia sedang menghampiri suatu kerugian yang besar. Sebagaimana yang ia nyatakan-dengan mengutip hadits-dalam Kitab Ayyuhal Walad yang artinya kurang lebih:
"Pertanda bahwa Allah ta'ala sedang berpaling dari hamba adalah disibukkannya hamba tersebut dengan hal hal yang tak berfaedah. Dan satu saat saja yang seseorang menghabiskannya tanpa ibadah, maka sudah pantas ia menerima kerugian berkepanjangan."
Sisa usia itu merupakan kesempatan untuk menambal kekurangan, memperbaiki yang belum baik. Tahun baru hijriah lebih tepat menjadi momen muhasabah dan ishlah (perbaikan).
Syekh Ahmad ibn Atha'illah as-Sakandari dalam al Hikam mengatakan (ini patut menjadi renungan):
رُبَّ عُمُرٍ اِتَّسَعَتْ آمادُه وَقَلَّتْ امْدَادُه. وَرُبَّ عُمُرٍ قَليْلَة آمادُه كَثيرَةٌ امْدادُه
"Kadang umur berlangsung panjang namun manfaat kurang. Kadang pula umur berlangsung pendek namun manfaat melimpah."
Semoga kita menjadi pribadi yang berintrospeksi dan termasuk orang-orang yang mendapat rahmat mampu menunaikan sisa usia kita dengan sebijak-bijaknya, dan terhindar dari segala perbuatan dan perkataan yang sia-sia sehingga umur kita termasuk umur yang barakah. Amin.
Nah, itulah 5 khutbah Jumat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah terbaru yang penuh nasihat. Semoga bermanfaat, ya, detikers!
(num/ahr)

Komentar Terbanyak
Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kendaraannya Usai Demo Gejayan
Misteri Alat Pelacak di Kendaraan Tiyo Eks Ketua BEM UGM Usai Demo Gejayan
Kronologi Lengkap Eks Ketua BEM UGM Tiyo Klaim Temukan 2 Alat Pelacak di Mobil