Istri Ungkap Momen Mencekam Jadi Sasaran Teror Musuh Gun Jack

Istri Ungkap Momen Mencekam Jadi Sasaran Teror Musuh Gun Jack

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 24 Jun 2026 07:30 WIB
Istri Gun Jack, Diyah Safitri ditemui di kediamannya di Jetis, Kota Jogja, Kamis (11/6/2026).
Istri Gun Jack, Diyah Safitri ditemui di kediamannya di Jetis, Kota Jogja, Kamis (11/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Kehidupan Gun Jack yang dikenal sebagai preman legendaris di Jogja ternyata tak lepas dari berbagai ancaman. Istri Gun Jack, Dyah Safitri, menjadi saksi momen-momen mencekam itu. Takut, senang, dan bangga begitulah rasanya menjadi pendamping hidup Gun Jack.

Dyah menikah dengan Gun Jack sekitar tahun 1991. Keduanya bertemu saat Gun Jack merantau di Solo.

"Udah umur sekitar 24 itu ketemu saya di Solo, dia merantau di Solo akhirnya menikah sama saya, terus lanjutin sekolah, sekolah SMA kejar paket kalau almarhum itu kan memang cerdas, lulus itu dia langsung kuliah, dia ngambil hukum," ujar Dyah saat ditemui detikJogja di kediamannya di Jetis, Kota Jogja, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski dikenal sebagai pimpinan preman di Kampung Badran, Gun Jack disebut sangat menyayangi keluarga. Dia tak pernah sekalipun kasar kepada istri dan anak-anaknya.

"Sama keluarga juga baik-baik aja, sama saya aja marah nggak pernah mukul," kenangnya.

ADVERTISEMENT

Dia pun bangga menjadi pendamping Gun Jack. Sebab, Gun Jack ternyata dianggap sebagai penolong di lingkungan sekitar.

"Kalau di lingkungan sini orangnya baik, jadi orang sini nganggapnya kaya dewa penolong, imagenya nggak seperti itu. Beda sama di luar, ujarnya.

Jadi Sasaran Teror

Meski begitu, ada masa-masa di mana menjadi istri Gun Jack terasa menakutkan. Sebab, tak jarang rumahnya menjadi sasaran teror musuh-musuh Gun Jack.

Salah satu yang paling mencekam terjadi kisaran tahun 2001 kala anaknya masih kecil. Saat itu ada sekelompok orang membawa pedang samurai yang mengamuk di rumahnya.

Dyah menuturkan kejadian itu terjadi saat suaminya tidak berada di rumah. Kala itu, ia hanya bersama anak dan mertuanya ketika sekelompok orang datang mencari Gun Jack.

"Rumah saya pernah dipecahin kacanya, dibom molotov juga. Mereka datang mencari almarhum, tapi pas itu beliau enggak ada di rumah," kata Dyah.

Menurut Dyah, para pelaku datang sambil berteriak-teriak dan merusak sejumlah bagian rumah. Ia yang berada di dalam rumah memilih bersembunyi karena takut menjadi sasaran.

Potret Gun Jack preman legendaris Jogja di salah satu bingkai foto di rumahnya di Kampung Badran, Bumijo, Jetis, Kota Jogja, Kamis (11/6/2026).Potret Gun Jack preman legendaris Jogja di salah satu bingkai foto di rumahnya di Kampung Badran, Bumijo, Jetis, Kota Jogja, Kamis (11/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

"Saya sama anak dan mertua di dalam rumah. Saya ngumpet di belakang, enggak berani keluar. Sama saja bunuh diri kalau keluar," ujarnya.

Dyah mengaku hingga kini masih mengingat jelas suasana malam itu. Ia menyebut para pelaku membawa senjata tajam dan merusak berbagai barang di sekitar rumah.

"Mereka bawa samurai. Kaca-kaca rumah dipecahin. Jok motor juga disobek. Orang yang ronda saja takut dan enggak berani ikut campur," ungkapnya.

Peristiwa itu disebut berlangsung cukup lama. Sekitar setengah jam lebih para pelaku mencari Gun Jack dan meluapkan kemarahannya sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.

"Mereka cari suami saya, enggak ada. Sekitar setengah jam lebih marah-marah, terus akhirnya pergi," katanya.

Setelah situasi dirasa aman, Dyah berupaya menghubungi suaminya. Namun ia mendapati sambungan telepon rumah tidak berfungsi.

"Saya mau telepon, ternyata telepon rumah putus, enggak nyambung," tuturnya.

Karena panik, Dyah kemudian keluar rumah pada dini hari untuk mencari wartel. Ia berjalan hingga kawasan Blimbingsari demi bisa menghubungi suaminya.

"Sekitar jam 1 atau jam 2 malam saya keluar cari wartel. Dapat wartel di Blimbingsari, langsung telepon beliau," ujarnya.

Tak lama kemudian Gun Jack pulang bersama sejumlah rekannya. Saat tiba di rumah, kondisi tempat tinggal mereka sudah berantakan akibat aksi perusakan tersebut.

"Beliau pulang sama teman-temannya. Kondisi rumah sudah enggak karu-karuan. Anak saya juga sudah nangis ketakutan," kata Dyah.

Anak pertama mereka saat itu masih berusia sekitar tiga tahun. Meski belum memahami sepenuhnya kejadian yang berlangsung, Dyah mengatakan anaknya tetap mengalami ketakutan.

"Masih kecil, anak pertama saya itu sekitar tiga tahun. Belum paham, tapi sudah nangis terus waktu itu," ujarnya.

Dyah mengaku hingga kini menganggap keluarganya mendapat perlindungan Tuhan dalam peristiwa tersebut. Sebab meski para pelaku sempat berusaha masuk ke rumah, tidak ada satu pun yang berhasil masuk.

"Yang saya ingat, pintu rumah waktu itu sebenarnya enggak dikunci. Tapi mereka enggak bisa buka. Buat saya itu seperti keajaiban. Kalau sampai mereka masuk, saya enggak tahu nasib saya, anak saya, dan mertua saya waktu itu," jelasnya.

Itu bukan teror pertama dan terakhir bagi Dyah. Meski begitu, cintanya kepada Gun Jack tak pernah surut. Baginya, Gun Jack tak tergantikan.

"Suami paling is the best nggak ada duanya, dia apa-apa bisa, paling utama itu cerdas," imbuhnya.




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads