Puasa Asyura Tanpa Tasua Sah atau Tidak? Begini Penjelasan Ulama!

Puasa Asyura Tanpa Tasua Sah atau Tidak? Begini Penjelasan Ulama!

Nur Umar Akashi - detikJogja
Rabu, 24 Jun 2026 10:47 WIB
Ilustrasi Puasa Asyura
Ilustrasi Puasa Asyura (Foto: magnific/Magnific)
Jogja -

Puasa Tasua dan Asyura ibarat saudara yang saling melengkapi. Hal ini tercermin dari tanggal pengerjaan keduanya yang berdempetan, yakni pada 9 dan 10 Muharram. Lantas, bagaimana hukumnya puasa Asyura tanpa Tasua? Apakah sah?

Berdasarkan penjelasan di buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan tulisan Ahmad Sarwat, Tasua berasal dari kata Arab tis'ah yang artinya sembilan. Sementara itu, Asyura berakar dari kata asyarah yang bermakna sepuluh.

Hukum asal puasa Asyura adalah wajib. Namun, kewajiban ini dihapus semenjak syariat puasa Ramadhan turun. Setelah itu, statusnya sebatas sunnah, tetapi bukan sembarang sunnah karena menyimpan keutamaan besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari buku Hadis-Hadis Terkait Bulan Muharam oleh Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan, seorang muslim yang mengerjakan puasa Asyura akan dihapuskan dosa-dosanya pada tahun lalu.

يُكَفِّرَ السَّنة الماضية. وفي رواية ... وَصِيَامُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ التي قَبْلَهُ

ADVERTISEMENT

Artinya: "(Pahala puasa pada hari itu) akan menghapus dosa-dosa pada tahun yanng telah lewat." di dalam riwayat yang lain, beliau bersabda: 'dan puasa pada hari Asyura akan diganjar oleh Allah Ta'ala dengan menghapuskan dosa-dosanya pada tahun sebelumnya.'" (HR Muslim 196, 197, 1162)

Karenanya, tidak mengherankan jika umat Islam selalu bersemangat tiap Muharram dimulai karena adanya puasa Asyura. Di tengah semangat itu, terkadang pikiran mengenai sah tidaknya puasa Asyura tanpa Tasua membayangi.

Berikut pembahasan lengkapnya!

Puasa Asyura Tanpa Tasua Sah Tidak?

Menurut keterangan di laman NU Online, ulama-ulama mazhab Syafi'i tidak mempermasalahkan puasa Asyura tanpa iringan puasa Tasua atau 11 Muharram. Itu artinya, puasa Asyura tetap sah meski tidak dibarengi Tasua.

Dalam I'anatut-Thalibin karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, tertulis:

وفي الأم لا بأس أن يفرده (أي لا بأس أن يصوم العاشر وحده

Artinya: "(Di dalam kitab al-Umm, tak masalah hanya mengamalkan puasa Asyura saja) maksudnya, agama tidak mempermasalahkan orang yang hanya berpuasa 10 Muharram saja (tanpa diiringi dengan puasa sehari sebelum dan sesudahnya)."

Ustadz Ammi Nur Baits dalam kanal YouTube-nya, @anb channel, menjelaskan bahwa ulama memang berbeda pendapat mengenai hukum puasa Asyura tanpa Tasua atau 11 Muharram. Ada yang menganggap makruh, sedangkan lainnya memperbolehkan.

"Pendapat yang pertama, ini merupakan pendapat hanafiyah, bahwa puasa di hari 10 Muharram saja atau di Asyura saja, hukumnya makruh. Meskipun mereka mengatakan bahwa siapa yang berpuasa Asyura saja, puasanya sah dan berpahala," terang Ustadz Ammi Nur Baits, dikutip pada Rabu (24/6/2026).

"Pendapat yang kedua adalah pendapat jumhur ulama. Menurut jumhur ulama, tidak makruh untuk berpuasa di tanggal 10 saja," lanjut sang ustadz.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa Asyura saja tanpa Tasua tetaplah sah, baik mengikuti pendapat ulama Hanafiyah maupun jumhur ulama. Pun dalam sejarahnya, Nabi SAW tidak pernah berpuasa Tasua.

Kala itu, Nabi Muhammad SAW berniat mengerjakan puasa Tasua tahun depan untuk menyelisihi umat Yahudi. Namun, beliau meninggal dunia sebelum bertemu Muharram tahun depannya.

3 Tingkatan Mengerjakan Puasa Asyura

Dirujuk dari buku Fiqih Sunnah 2 oleh Sayyid Sabiq, terdapat tiga tingkatan dalam mengerjakan puasa Asyura. Ketiganya adalah:

  • Tingkatan 3: Puasa tanggal 10 saja.
  • Tingkatan 2: Puasa tanggal 9 (Tasua) dan 10 (Asyura).
  • Tingkatan 1: Puasa 3 hari, yakni pada 9, 10, dan 11 Muharram.

Apabila detikers memiliki kemampuan, alangkah baiknya untuk berpuasa lengkap 3 hari. Selain mengikuti niatan Nabi SAW untuk puasa Tasua, mengerjakan puasa 3 hari juga membuatmu 'pasti' mendapatkan puasa 10 Muharram. Sebab, kemungkinan penetapan awal bulan yang keliru tetap ada.

Niat Puasa Asyura 10 Muharram dan Waktu Membacanya

Sah tidaknya puasa Asyura juga ditentukan berdasar niat. Tanpa niat di dalam hati, ibadah yang sudah susah payah dikerjakan jadi tidak bernilai. Lalu, seperti apa bacaan niat puasa Asyura?

Diambil dari Buku Praktis Ibadah karya Irwan dkk, lafal Arab, Latin, dan artinya sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latinnya: Nawaitu shauma 'Asyura lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku berniat puasa Asyura karena Allah Ta'ala."

Berhubung Asyura adalah puasa sunnah yang terikat waktu, yakni hanya 10 Muharram saja, maka waktu berniatnya disamakan dengan puasa wajib. detikers mesti berniat dalam hati atau membacanya sejak malam dimulai hingga sebelum Subuh.

Jika terlewat dan baru disusulkan pagi hari, maka puasa Asyura tidak sah. Sebab, dengan begitu, detikers tidak terhitung berpuasa sehari penuh. Namun, tetap sah sebagai puasa sunnah Mutlak. Wallahu a'lam bish-shawab.

Jadwal Puasa Asyura 10 Muharram 2026

Tahun ini, ada 2 versi tanggal puasa Asyura. Alasannya, ada perbedaan penetapan awal Muharram 1448 H antara pemerintah dan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Pemerintah dan Muhammadiyah sepakat mengawali Muharram pada Selasa, 16 Juni 2026. Alhasil, 10 Muharram-nya jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026.

Di sisi lain, usai gagal melihat hilal, NU menggenapkan Dzulhijjah dan baru memulai Muharram pada Rabu, 17 Juni 2026. Dengan demikian, puasa Asyura versi NU dikerjakan pada Jumat, 26 Juni 2026.

Itulah pembahasan lengkap mengenai sah tidaknya puasa Asyura tanpa Tasua. Semoga dapat menghapus keraguanmu, ya, detikers!




(num/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads