Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta dukungan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk menyukseskan sejumlah program nasional yang segera diluncurkan. Permintaan tersebut disampaikan saat keduanya bertemu di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Jumat (3/7/2026).
Pratikno menjelaskan, kunjungannya ke Yogyakarta dilakukan untuk berdiskusi sekaligus meminta masukan dari Sultan HB X terkait pelaksanaan sejumlah agenda nasional yang berada di bawah koordinasi Kemenko PMK.
"Kami di Kemenko PMK memohon bantuan ke Ngarsa Dalem karena kita ada beberapa program nasional. Sebentar lagi kita akan melakukan beberapa program nasional," jelas Pratikno usai pertemuan dengan Sultan, Jumat (3/7).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu program yang akan segera dijalankan adalah Gerakan RANA (Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak), yang pelaksanaannya bertepatan dengan momentum penerimaan peserta didik baru.
"Sebentar lagi karena ada penerimaan siswa baru, jadi kita di tingkat nasional ada gerakan RANA, Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak. Jadi anak harus dijamin mendapatkan keamanan dan kenyamanan baik itu di ruang keluarga, di satuan pendidikan, di ruang publik maupun di ruang digital," paparnya.
Menurut Pratikno, DIY dipilih sebagai salah satu daerah yang diharapkan mampu menjadi contoh karena memiliki banyak inovasi di bidang pendidikan dan perlindungan anak. Karena itu, dukungan dari Sultan HB X dinilai penting dalam menguatkan implementasi program tersebut.
"Nah, oleh karena itu kami memohon dukungan dari Ngarsa Dalem untuk DIY, karena DIY ini kan kota pendidikan banyak sekali inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh DIY," ungkap Pratikno.
Selain Gerakan RANA, pertemuan tersebut juga membahas penguatan pendidikan inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas. Pratikno mengatakan pemerintah belajar dari berbagai praktik baik yang telah diterapkan di Yogyakarta.
"Nah, oleh karena itu salah satunya nanti gerakan RANA ini juga di Jogja. Tapi selain itu, kami juga belajar dari Jogja untuk berbagai macam hal tentang inisiatif. Misalnya tadi kita juga membicarakan untuk pendidikan bagi disabilitas," sambungnya.
Ia mencontohkan pengembangan program pendidikan bahasa isyarat yang tidak hanya diperuntukkan bagi anak tuli, tetapi juga anak dengar agar komunikasi dapat terjalin dengan baik.
"Misalnya kita punya program untuk pendidikan bahasa isyarat. Bahasa isyarat ini bukan hanya ditujukan bagi anak-anak yang tuli tetapi juga bagi anak dengar, karena komunikasi harus terjadi antara anak tuli dengan anak dengar," ujarnya.
Pratikno juga mengungkapkan Sultan HB X memberikan masukan agar pelatihan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat sehingga mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk memasuki dunia kerja.
"Sekali lagi, no one left behind, tidak ada yang tertinggal. Jadi yang disabilitas juga punya akses yang sama untuk pendidikan juga untuk kesempatan kerja. Jadi kami mengucapkan terima kasih karena banyak inspirasi yang bisa kita beroleh dari praktek-praktek baik di DIY," terangnya.
Lebih lanjut, Pratikno menyebut peluncuran program lintas kementerian tersebut akan dilakukan secara bertahap. Kementerian Agama dijadwalkan memulai implementasi pada 12 Juli 2026, kemudian disusul Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sehari setelahnya.
(aku/aku)

Komentar Terbanyak
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja