Pedagang ke Pemda DIY soal Malioboro Full Pedestrian 24 Jam: Siapkan Parkir Dulu

Pedagang ke Pemda DIY soal Malioboro Full Pedestrian 24 Jam: Siapkan Parkir Dulu

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 07 Jul 2026 11:04 WIB
Suasana Malioboro Jogja pada libur H+1 Idul Adha, Kamis (28/5/2026).
Suasana Malioboro Jogja pada libur H+1 Idul Adha, Kamis (28/5/2026). (Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja)
Jogja -

Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menerapkan kawasan Malioboro sebagai area full pedestrian selama 24 jam mulai November 2026 mendapat perhatian dari kalangan pedagang. Mereka meminta pemerintah memastikan kesiapan fasilitas parkir sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.

Perwakilan pedagang Teras Malioboro, Slamet Santoso, menilai infrastruktur parkir di sekitar Malioboro hingga kini belum memadai untuk mendukung kawasan bebas kendaraan.

"Masalah transportasi yang saya sampaikan masih belum bisa memenuhi atau infrastruktur terkait dengan masalah parkiran," jelas Slamet saat dihubungi, Senin (6/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah sampai sekarang kan belum memadai. Lha kami kan sedang menuntut bahwa pemerintah provinsi kalau seandainya full pedestrian Malioboro, tolonglah untuk parkir-parkir harus disiapkan lebih dahulu," ujarnya.

Menurut Slamet, persoalan parkir semakin terasa setelah Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali ditutup. Sementara itu, bus besar juga tidak lagi diperbolehkan parkir di TKP Senopati sehingga hanya TKP Ngabean yang dapat menampung bus wisata berukuran besar.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan karena jarak TKP Ngabean menuju kawasan Malioboro cukup jauh. Slamet mengatakan wisatawan harus berjalan kaki untuk mencapai pusat kawasan belanja, termasuk saat cuaca kurang bersahabat.

"Saya pernah, saya amati sendiri para wisatawan yang parkir di Ngabean jalan kaki menuju Teras Malioboro. Itu dalam kondisi terang, nggak apa-apa kalau nggak musim hujan ya. Nah, pada saat itu hujan deras. Nah, saya juga kasihan juga to, dengan jarak yang jauh, dengan kondisi hujan-hujanan, mereka hanya ingin berbelanja di Teras Malioboro," ujar Slamet.

Ia pun mengusulkan agar pemerintah menyediakan layanan shuttle gratis dari kantong parkir menuju kawasan Malioboro untuk memudahkan mobilitas wisatawan.

"Lha kalau lama-kelamaan hal itu terus terjadi seperti itu, tidak menutup kemungkinan nanti lama-lama Teras Malioboro akan ditinggalkan oleh wisatawan. Karena kendalanya jauh, dijangkau harus jalan kaki. Infrastruktur yang saya tuntut ke pemerintah, ya harus ada shuttle, paling tidak yang harus disiapkan pemerintah dan tidak berbayar," harapnya.

Kata Dishub soal Parkir

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Chrestina Erni Widyastuti mengatakan pemerintah tidak akan menambah kantong parkir di kawasan inti Malioboro. Sebaliknya, pengembangan akan difokuskan pada konsep park and ride serta park and walk.

"Namun memperkuat konsep park and ride dan park and walk," jelas Erni saat dihubungi, Jumat (3/7/2026).

"Paradigma yang kami bangun adalah park once, experience more, yaitu pengunjung cukup memarkir kendaraan di kawasan penyangga, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menggunakan TransJogja, moda transportasi tradisional, maupun moda ramah lingkungan lainnya," sambungnya.

Erni menjelaskan, pengembangan kapasitas parkir akan dipusatkan pada kantong-kantong parkir di luar kawasan inti Malioboro. Lokasi tersebut juga akan didukung dengan sistem smart parking.

"Melalui sistem ini masyarakat nantinya dapat mengetahui ketersediaan ruang parkir secara real time, memperoleh navigasi menuju lokasi parkir terdekat, serta memanfaatkan sistem pembayaran digital," terangnya.

"Dengan demikian kendaraan tidak perlu berputar-putar mencari tempat parkir yang justru menambah kemacetan dan emisi," imbuh Erni.

Selain pengembangan sistem parkir, Dishub DIY juga akan memperkuat integrasi layanan Trans Jogja sebagai moda utama menuju Malioboro.

"Termasuk peningkatan konektivitas halte, kemudahan perpindahan moda, serta peningkatan kualitas layanan. Target kami bukan sekadar menyediakan ruang parkir yang lebih banyak, tetapi membangun sistem mobilitas yang lebih efisien, nyaman, dan berkelanjutan," pungkasnya.




(aku/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads