Siasat Mbah Suhan Melawan Tikus Penyerang 'Sawah Rongsok' Gunungkidul

Siasat Mbah Suhan Melawan Tikus Penyerang 'Sawah Rongsok' Gunungkidul

Tim detikJogja - detikJogja
Rabu, 08 Jul 2026 12:32 WIB
Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).
Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Jogja -

Sawah 'rongsok' dari galon, kaleng, dan ember bekas di pekarangan rumah Mbah Suhantara (82), warga Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, juga tak bebas dari serangan hama, terutama tikus. Begini siasat Mbah Suhan untuk melindungi tanaman padinya.

"Tantangannya bukan pada mengumpulkan galon, karena saya kan juga pakai kaleng bekas dan ember bekas. Jadi kalau saya lebih ke penanganan hama," kata pria yang akrab disapa Suhan itu saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/7/2026).

"Di tempat saya hama tikus, ini (beberapa tanaman padi di galon) dimakan tikus dan akhirnya rusak. Baru malam tadi saya coba pasang perangkap tikus di sekitar pekarangan rumah," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain serangan hama tikus, Suhan juga mengungkap tantangan lain dalam mengelola sawah mungil di pekarangan rumahnya. Yaitu soal pengairan.

"Menanam padi di galon itu memang tidak menyiram setiap hari tapi airnya harus banyak, karena kalau sudah kering langsung disiram lagi. Tapi untungnya kalau di tempat saya ini airnya melimpah," ujar dia.

ADVERTISEMENT

"Jadi menanam padi pakai galon di daerah tandus memang sangat bisa, asal airnya aman. Nah, kalau airnya tidak aman bisa memanen air hujan agar tidak keluar biaya lagi," sambungnya.

Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Diberitakan sebelumnya, seorang kakek di Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul bernama Suhantara (82) mengembangkan sawah rongsok, yakni menanam padi dengan menggunakan galon hingga kaleng bekas di pekarangannya. Bahkan, setiap galon mampu menghasilkan ratusan gram gabah kering ketika panen.

Pantauan detikJogja, tampak seorang kakek bertopi tengah sibuk mengecek tanaman padi di galon. Selain itu, kakek tersebut sesekali mengecek bibit padi yang nantinya akan dipindahkan ke media tanam berupa galon.

Suhantara menjelaskan ide awal menggunakan galon bekas sebagai tempat untuk menanam padi. Menurut Suhantara, semua itu berawal saat dirinya memanen padi di sawah pada tahun 2025.

"Lalu gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi)," katanya saat ditemui detikJogja di kediamannya, Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).

Adapun saat itu tanaman padinya menggunakan jenis Inpari-24. Selanjutnya, karena memiliki benih padi tersebut, Suhantara mengambil beberapa kaleng bekas dan mengisinya dengan tanah, pupuk dan benih padi tersebut.

"Kaleng isi benih itu saya siram dengan rutin dan ternyata bisa tumbuh baik. Nah, karena tumbuh baik terus punya ide lagi untuk memperbesar medianya, karena kalau kaleng itu kan kecil," ujarnya.




(dil/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads